KPAM lokalatih guru (9)

Cara Mengatasi Siswa Bermasalah

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Makannya jasa guru itu harus sangat diapresiasi dengan baik.

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah. Makannya jasa guru itu harus sangat diapresiasi dengan baik. Menjadi guru yang baik juga terkadang sulit bahkan sangat sulit. Karena membutuhkan kerja keras dan kesabaran yang sangat tinggi, apalagi ketika harus menghadapi siswa yang memang memiliki perilaku yang bermasalah. Bukan hanya kesabaran yang diuji tapi juga karier sebagai seorang guru juga pasti ikut teruji. 

Pernah tidak orang tua membayangkan ketika harus mengurus anak anak yang memang memiliki masalah terhadap perilaku yang sudah tidak bisa dikatakan sebagai hal yang lumrah lagi? Jika itu adalah anak sendiri mungkin orang tua bisa memaafkan dan memaklumi karena itu adalah buah hati orang tua yang mungkin juga adalah cerminan orang tua saat kecil dulu, tapi bagaimana jika anda adalah seorang guru yang sudah di gaji apa adanya tapi harus mengurusi anak anak yang memang memiliki sifat yang bermasalah? 

Memang dalam sebuah pekerjaan ada yang namanya resiko, kami juga paham karena tidak ada pekerjaan yang tidak ada resikonya. Apapun pekerjaan pasti memiliki resiko namun apakah bisa resiko itu diminimalisir? Jelas bisa. Ada beberapa metode untuk menangani sifat atau perilaku anak yang bermasalah. Untuk jelasnya berikut adalah 5 perilaku siswa yang harus diatasi dan cara mengatasinya :

  1. Perilaku pasif

Perilaku pasif merupakan sifat anak yang menerima saja, tidak giat, tidak aktif dan bersifat mengalir apa adanya, tidak mau berusaha dan lebih cenderung pendiam dibandingkan dengan anak lainnya, terkadang lebih menyukai kesendirian, tidak mau berkelompok, takut gagal dan mudah menyerah.

Seperti dikutip dari kahaba.net ada beberapa faktor yang membuat anak menjadi pasif dalam pembelajaran diantaranya adalah karena :

  • Internal

Faktor pertama adalah karena memang faktor yang ada pada diri mereka sendiri ini bisa jadi karena faktor keturunan atau gen. Bisa juga karena memang rasa percaya diri yang kurang atau kurangnya kecakapan siswa dalam mempelajari suatu pelajaran atau juga karena kurangnya minat terhadap mata pelajaran yang mereka pelajari sehingga tidak ada dorongan untuk melakukan kegiatan belajar dan tidak ada dorongan dari guru untuk bisa mempelajari materi pelajaran tersebut.

  • Eksternal

Faktor kedua adalah faktor dari luar, bisa jadi karena masalah di lingkungan keluarga atau lingkungan sekitarnya.

Adapun cara mengatasi siswa yang memang pasif adalah dengan mengapresiasi keberhasilan siswa pasif sekecil apapun itu. Guru juga bisa menahan kritik kepada siswa yang bersangkutan, Lindungi siswa yang pasif dari tekanan siswa atau murid yang agresif serta yang paling penting adalah ajarkan self-talk yang positif kepada siswa tersebut agar bisa melihat diri dari sisi yang lain.

  1. Perilaku Agresif

Perilaku selanjutnya adalah perilaku agresif siswa. Perilaku agresif bisa diartikan sebagai perilaku yang bisa menyakiti dan melukai orang lain baik itu secara fisik maupun secara verbal. Memang pada dasarnya perilaku ini masih termasuk perilaku yang normal apa lagi bila ini terjadi pada anak anak usia TK dan SD, namun meskipun normal bukan berarti perilaku seperti ini harus dibiarkan begitu saja, karena jika dibiarkan begitu saja dapat berakibat fatal untuk masa depannya. 

Seperti dikutip dari popmama.com ada beberapa faktor anak memiliki perilaku agresif diantaranya adalah :

  1. Mendapat perilaku kekerasan dari orangtua atau teman sebayanya.
  2. Adanya perselisihan keluarga
  3. Gangguan belajar
  4. masalah Neurologis
  5. Gangguan perilaku
  6. Trauma secara emosional
  7. Paparan acara televisi yang kurang mendidik
  8. Permainan yang berisi tindakan kekerasan
  9. Keterampilan emosional yang belum terlatih
  10. Keinginan yang tidak terpenuhi dan
  11. Pola asuh orang tua yang permisif

Pada dasarnya anak usia dini melakukan sifat agresi adalah karena ingin menunjukan keinginan dan tidak atau belum mampu untuk menyampaikan dengan kata kata yang jelas. Pada dasarnya jika sifat agresi muncul pada anak usia dini orang tua atau guru harus mampu merangkul anak, beri juga pengertian lebih, beri juga pemahaman tentang hal yang baik dan hal yang jelek yang harus diikuti dan tidak boleh diikuti, beri juga contoh yang baik agar anak lebih bisa memahami maksud dari apa yang orang tua dan guru jelaskan.

Beri juga siswa apresiasi dari perilaku mereka yang baik, tapi juga tegur mereka secara baik baik jika mereka melakukan perilaku yang salah, tapi ingat guru harus bisa melakukan hal hal tersebut secara konsisten dan yang paling penting adalah berikan anak yang bersikap agresi untuk bisa bertanggung jawab untuk menolong guru dan teman temannya, sehingga sifat agresi anak bisa tersalurkan dengan baik.

  1. Gangguan Konsentrasi

Gangguan konsentrasi atau tidak pernah bisa fokus merupakan gejala dimana anak atau siswa tidak bisa mengerti akan materi atau hal yang disampaikan oleh guru di kelas dan oleh orang orang disekitarnya. Gejala gangguan fokus juga biasanya bukan hanya karena memang anak tidak bisa fokus dan memikirkan hal lainnya, tapi juga bisa karena sifat yang hiperaktif atau tidak bisa diam, gelisah,selalu meninggalkan tempat duduk, susah mendengarkan, susah mengingat dan sudah untuk diatur.

Gangguan konsentrasi ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti faktor keturunan yang memang orang tua dulu hiperaktif yang mengakibatkan anak juga mengikuti sifat orang tuanya, juga karena faktor luar seperti lingkungan sekolah yang kurang memadai untuk KBM seperti berisik, panas, memiliki sirkulasi udara yang jelek dan beberapa faktor yang membuat anak tidak nyaman untuk duduk berdiam diri di kelas.

Cara guru mengatasi ini adalah guru bisa menganalisa kenapa anak bersikap seperti demikian, jika karena faktor keturunan maka memang harus ada kerja keras dari guru serta kerjasama dengan orang tua agar anak bisa lebih tenang ketika di sekolah. Seperti yang harus dilakukan orang tua adalah :

  • Matikan smartphone dan televisi di malam hari jika perlu juga orang tua bisa mengatur waktu untuk anak anak menonton dan bermain gadget
  • Membuat daftar yang harus dikerjakan
  • Berikan anak istirahat yang cukup

Sedangkan yang perlu dilakukan guru di sekolah untuk mengatasi gangguan konsentrasi pada anak adalah :

  • Berikan apresiasi setiap siswa bisa untuk menuruti apa yang anda tugaskan kepada mereka
  • Jika memang kelas yang kurang kondusif seperti panas dan bising, anda bisa memindahkan pelajaran ke perpustakaan atau ke area luar kelas
  • Bantu siswa untuk membuat to do list, step by step dalam melakukan sebuah tugas
  1. Sifat perfeksionis

Sifat perfeksionis adalah sifat seseorang yang ingin selalu tampil sempurna dengan menetapkan standar yang terlalu tinggi. Sifat ini memang terlihat positif namun sebenarnya sifat perfeksionis ini adalah sifat yang sangat tidak baik terutama bagi anak dan siswa di sekolah. Pernah tidak membayangkan anak yang langsung down karena hal kecil? Misalkan ketika anak anak lain cuek karena sepatunya berbeda dengan orang lain, anak yang perfeksionis akan merasa gelisah karena mereka merasa apa yang dia pakai tidak cocok dan tidak sesuai dengan norma pendidikan. 

Sifat perfeksionis juga dapat membuat anak terlalu fokus pada hal kecil yang menurut mereka menyimpang yang akhirnya mereka tidak akan bisa fokus pada hal yang besar. Siswa perfeksionis juga akan lebih berfokus pada hasil bukan pada alur menuju hasil tersebut. Jiwa jiwa perfeksionis juga bisanya tidak bisa menerima kekurangan pada diri mereka sendiri, dan ini yang akan menjadi masalah besar bagi mereka yang memiliki sifat perfeksionis.

Cara mengatasi sifat ini adalah guru bisa mengajak murid untuk bisa membuat sebuah kesalahan kecil secara sengaja, lalu tunjukan kepada murid arti penerimaan diri dalam mendapatkan kesalahan itu. Guru juga bisa mengajarkan arti memanusiakan manusia, artinya baik siswa atau yang lainnya mereka adalah manusia biasa jika memang mereka memiliki kekurangan jangan pernah malu untuk menerimanya. Jika memang memiliki kekurangan, memang sudah sewajarnya bagi manusia untuk menerima itu.

  1. Sifat penolakan dan ditolak secara sosial

Ada banyak sekali alasan kenapa anak melakukan penolakan hingga ditolak secara sosial. Dari kekurangan (maaf) secara fisik, tidak bisa memenuhi nilai kelompok, gaya hidup yang berbeda, selalu diejek karena perilaku yang berbeda dan juga karena kurangnya keterampilan sosial.

Memang menyakitkan ketika anak kita sendiri harus mengalami penolakan secara sosial, mungkin kita sebagai orang tua dapat berfikir secara positif apa yang mereka lakukan, namun bagaimana dengan anak anak? 

Penolakan atau ditolak secara sosial ini dapat menimbulkan beberapa trauma seperti dikutip dari parenting.co.id ada beberapa hal yang ditimbulkan akibat penolakan secara sosial diantaranya adalah :

  • Rasa sakit hati yang berlebih yang dapat mengakibatkan traumatis

Menurut Guy Winch, Ph.D., seorang psikolog dan penulis buku Emotional First Aid: Healing Rejection, Guilt, Failure, and Other Everyday Hurts menjelaskan bahwa saat mengalami penolakan, otak akan merespons dengan rasa sakit yang sama seperti saat sedang mengalami sakit secara fisik. Selain itu, rasa sakit terhadap penolakan juga bisa bersifat traumatis. Menurutnya, anak dapat menghidupkan kembali dan mengalami kembali rasa sakit sosial lebih jelas daripada merasakan sakit fisik. 

  • Kehilangan Kepercayaan Diri

Winch menuturkan bahwa penolakan akan membuat seseorang fokus hanya pada mencari kekurangannya saja. Anak terdorong untuk menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa memenuhi gaya hidup teman-temannya, menjadi seseorang yang berbeda, dan lainnya. itulah yang memicunya kehilangan kepercayaan diri karena merasa tidak memiliki kelebihan apa pun. 

  • Berperilaku Negatif baik kepada orang lain dan diri sendiri

Menurut Eileen Kennedy-Moore, PhD, seorang psikolog klinis dari Princeton, NJ mengatakan bahwa penolakan bisa memiliki dampak yang berbeda pada anak laki-laki dan perempuan. Ia mengungkapkan bahwa sekitar setengah dari anak laki-laki yang ditolak akan memiliki perilaku agresif seperti memukul atau menendang. Mereka juga cenderung argumentatif dan mengganggu teman lainnya. Namun, 13-20% lainnya akan menjadi pemalu, pendiam dan menarik diri dari lingkungan pertemanannya. Perilaku agresif secara fisik akibat penolakan tidak banyak dijumpai pada anak perempuan. Anak perempuan yang mengalami penolakan cenderung lebih suka memerintah dan mengekspresikan lebih banyak emosi negatif seperti sedih atau murung.

  • Depresi

Social Rejection bisa mengembangkan depresi kepada korbannya. Misalkan ketika menjadi korban perundungan biasanya efeknya adalah stress, trauma, gangguan makan, hingga yang paling parah adalah dapat menyiksa diri sendiri. Bullying adalah salah satu bentuk penolakan dari sebuah kelompok terhadap seseorang yang terlihat berbeda.

  • Merasa sendirian

Penolakan bukan lah hal yang sederhana dan bisa dihentikan dengan cara yang sederhana juga. Karena pada dasarnya manusia terlahir dengan naluri ilmiah untuk berkelompok, maka dengan adanya penolakan sosial yang sangat menyakitkan akan berdampak pada anak yang merasa harus hidup sendirian.

Lantas apa yang harus dilakukan guru jika anak murid atau siswa menjadi korban dari penolakan sosial? Ada banyak cara yang bisa guru gunakan, seperti :

Menganalisa penyebab anak tersebut dikucilkan

Analisa itu penting begitu juga menganalisa penyebab seorang anak dikucilkan, jika memang karena kesalahan dari anak tersebut misalkan seperti anak yang menjadi korban social rejection adalah pelaku bully bagi teman temannya anda bisa memberikan pendekatan kepada anak tersebut untuk merubah sifatnya yang memang demikian kepada orang lain, dengan seperti itu anak perlahan akan memperbaiki diri, dan guru juga harus bisa memberikan pemahaman kepada teman teman lain jika korban social rejection ini benar benar sudah berubah dan tidak akan melakukan tindakan yang seperti itu lagi.

Pengembangan keterampilan sosial

Secara umum penolakan secara sosial terjadi karena korban merupakan anak yang memiliki keterampilan sosial yang buruk, seperti lebih menyukai menutup diri dan tidak bisa bersosialisasi dengan teman teman seangkatannya. Salah satu cara yang bisa guru laksanakan adalah mencoba mendekati dan mengajak anak untuk bisa belajar tentang bagaimana menjadi teman yang baik bagi teman lainnya seperti mulai mengajarkan anak untuk berteman dan bergaul dengan teman teman sebayanya.

Jika korban mengalami hal hal atau gejala seperti 5 faktor di atas guru juga bisa berkonsultasi dengan ahli kesehatan mental bisa psikolog atau konselor sekolah

Ketika penolakan sudah menyebabkan traumatis, depresi dan berbagai macam hal seperti yang kami jelaskan di atas alangkah baiknya baik guru dan orang tua harus mulai mengajak anak untuk berkonsultasi dengan ahlinya, bisa dengan psikolog atau dengan pihak konselor sekolah. Nanti psikolog atau psikiater akan membantu untuk menghilangkan rasa sakit terutama sakit secara psikologis bagi anak yang menjadi korban social rejection.

Selain menghilangkan rasa sakit secara psikologis, anak yang menjadi korban juga akan diberikan penanganan untuk menghadapi penolakan itu secara tepat, sehingga efek yang ditimbulkan bisa diminimalisir.

Sifat bermasalah bagi siswa sebenarnya masih sangat banyak, namun yang umum terjadi di dunia pendidikan adalah 5 hal tersebut. Memang dengan membacanya juga sangat terbayang jika memang anak kita mengalami hal tersebut betapa menyakitkannya bagi orang tua yang memikirkannya. Maka dari itu dari pada kita mengobati, memang lebih bijaksana kita untuk mencegahnya terlebih dahulu dari memberikan edukasi kepada anak sejak dini bahkan jauh sebelum anak masuk sekolah.

Selain dapat mengurangi beban guru, hal tersebut juga memang sudah jadi tanggung jawab orang tua, meskipun saat anak masuk sekolah itu adalah tanggung jawab guru dan orang tua. Maka dari itu selain orang tua harus bisa mendidik, orang tua juga harus bisa menyekolahkan putra putrinya ke sekolah terbaik yang dapat menciptakan pendidikan karakter yang unggul. Salah satunya adalah menyekolahkan putra putrinya ke Al Ma’soem, karena pada jenjang PG-TK anak anak akan diajarkan pendidikan sosial yang sangat baik, terutama mendidik anak untuk bisa berkelompok dan bisa mencegah rasa egois anak sehingga lulusan TK Al Ma’soem munggang bisa menjadi generasi MADANI.

Pada jenjang SD siswa akan dididik tentang tatacara beribadah dengan baik, kelas tahsin dan tahfidz juga tersedia selain itu juga pendidikan karakter siswa di SD Al Masoem sudah dimuat, anak akan diajarkan apa yang boleh dan tidak boleh dilaksanakan. Maka dari itu dari tingkat SD kami bagi menjadi 2 bagian, yaitu kelas kecil yaitu kelas 1-3 yang dimana siswa masih diberikan peringatan secara ucapan jika melanggar dan masih ingin membawa mainan dari rumah ke sekolah, pada fase besar yaitu kelas 4-6 atau fase menuju remaja siswa sudah mulai diberikan sanksi poin pelanggaran apalagi jika melakukan pelanggaran pelanggaran yang dapat mengganggu KBM, seperti membawa smartphone, berkata kasar dan bertindak tidak seperti siswa Al Masoem misalkan merusak sarana dan lain sebagainya.

Pendidikan Karakter ini juga tidak berlaku di SD, SMP dan SMA lebih dalam lagi, poin pelanggaran dan ilmu agama yang kental membuat siswa bisa membatasi diri dari pergaulan yang tidak baik, sehingga lulusan SMP dan SMA bukan hanya mampu bersaing dengan lulusan lain tapi juga lebih mampu memilih mana yang baik dan tidak baik yang pasti sesuai dengan agama islam. Anda tertarik dengan Al Masoem?