Masa remaja adalah masa dimana anak sedang mencari jati dirinya. Istilah remaja sendiri memiliki arti waktu manusia atau seorang anak menginjak usia belasan tahun, fase dimana pubertas menjadi sebuah tanda bahwa seorang anak sedang menuju masa remaja. Ini juga dapat ditandai dengan beberapa perubahan, seperti remaja laki laki yang sudah mulai memiliki suara yang berat sedangkan remaja perempuan ada perubahan pada bagian fisik serta mulai mengalami menstruasi.
Menurut Mohammad Asrori (2012 : 10) “fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi, maupun fisik”. Pada umumnya remaja menuntut dan menginginkan kebebasan dari orang dewasa lainnya dalam bertindak, akan tetapi mereka sering takut bertanggung jawab akan akibatnya dan meragukan kemampuan mereka untuk mengatasi setiap permasalahan tersebut.
Pada masa remaja ini biasanya anak sedang penuh rasa penasaran untuk mencoba berbagai hal yang baru dalam hidupnya, pada fase ini juga kadang emosi seorang anak tidak bisa dikendalikan sehingga terkadang malah membuat banyak masalah dalam kehidupannya bahkan ekstremnya lagi jika orang tua tidak bisa mengontrol atau tidak bisa menjadi penengah anak usia remaja, maka akan berimbas kepada attitude anak yang bisa berubah drastis dan paling parah lagi bisa menjadi sindrom kenakalan remaja.

Kenakalan remaja merupakan pelampiasan anak terhadap masalah yang mereka hadapi. Bahkan menurut Kartini Kartono (2011 : 6) kenakalan remaja (Juvenile delinquency) ialah perilaku jahat (dursila), atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda; merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial.
Sindrom kenakalan remaja ini untuk hal yang ekstrim anak akan mencoba sesuatu yang bahkan sangat ditakutkan oleh orang tua, seperti :
1. Mulainya anak mendekati rokok, obat obatan terlarang & minuman keras
Kenakalan remaja itu beragam, dari hal yang paling sering terjadi adalah anak mulai mencoba merokok hingga paling ekstrim adalah mencoba menggunakan obat obatan terlarang hingga tenggak minuman keras. Kasus ekstrim seperti ini sering terjadi dalam pergaulan anak usia remaja apalagi jika anak memang merasa penuh dengan tekanan dari orang tua dan dari lingkungannya.
2. Mengikuti tren geng motor sebagai bentuk unjuk kekuatan diri
Kenakalan yang sering terjadi pada anak usia remaja adalah mengikuti sebuah klub atau geng yang ternyata malah geng yang tidak baik bagi anak. Seperti geng motor atau bahkan geng geng yang memang meresahkan masyarakat. Beberapa anak usia remaja menganggap hal seperti ini merupakan sebagai komunitas untuk unjuk kekuatan mental diri, padahal secara hukum sendiri hal seperti itu dilarang keras, karena selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain. Apalagi hal seperti ini dapat meregang nyawa seseorang.
3. Tawuran baik itu antar geng ataupun antar sekolah
Tawuran menjadi hal yang sering dilaksanakan juga oleh anak usia remaja, kenakalan remaja ini terbilang sangat ekstrim dan dapat membahayakan dirinya sendiri juga orang lain.
4. Sex bebas
Hal yang paling parah namun kadang selalu dipandang sebelah mata oleh orang tua karena orang tua “yakin” anaknya tidak akan terjerumus dengan hal seperti ini. Namun perlu orang tua ketahui, awal mula sex bebas adalah dari teknologi komunikasi yang sangat mudah diakses ditambah juga pergaulan anak yang mulai menyukai lawan jenis, pacaran yang persentase kemungkinan hingga melakukan sex bebas sangat tinggi.
Sindrom kenakalan remaja ini juga bisa terjadi jika anak merasa gagal dalam mengontrol emosi, diikuti dengan faktor keluarga yang tidak bisa mendukung, teman sebaya yang kurang mendukung, lingkungan yang memang tidak baik, kurangnya sosialisasi dari orang tua dan contoh atau modelling dari orang tua terhadap perilaku dan nilai nilai sosial.

Faktor terjadinya kenakalan remaja
Selain itu juga ada beberapa faktor yang dapat memperparah kenakalan remaja, seperti :
1. Kurangnya kedisiplinan yang dilakukan orang tua terhadap anak
Faktor pertama adalah orang tua yang kurang mendisiplinkan anak. Kadang membuat anak melakukan tindakan semaunya sendiri, anak juga kadang keras kepala namun sebisa mungkin orang tua harus ikut serta dalam kehidupan anak dengan tetap bisa menjaga privasi anak.
2. Perceraian orang tua yang malah semakin membuat mental anak semakin terpuruk
Faktor kedua dalam sindrom kenakalan remaja adalah kegagalan orang tua dalam menjalin komitmen keluarga. Perceraian keluarga memang bukan hal yang diinginkan setiap pasangan dalam hidupnya, namun meski begitu terkadang ketika 2 ego saling memaki maka jalan terakhir adalah sebuah perpisahan. Perpisahan dalam keluarga ini yang akan menjadi korban perasaan adalah anak, maka dari itu perceraian orang tua selalu menjadi alasan utama kenakalan remaja masa kini. Maka dari itu, jika memang orang tua tidak bisa mempertahankan pernikahan alangkah baiknya berpisah dengan cara yang baik, jangan sampai karena perpisahan anda dengan pasangan malah menjadi alasan hancurnya mental anak yang memang sedang dalam fase remaja.
3. Kurangnya komunikasi dan juga kurangnya kualitas waktu orang tua dengan anak (biasanya terjadi kepada orang tua yang sibuk bekerja)
Komunikasi antara orang tua dengan anak merupakan hal yang sangat penting, sesibuk apapun orang tua dalam bekerja sempatkanlah waktu meskipun hanya 5 menit dalam sehari untuk berkomunikasi dengan anak, beri juga mereka kualitas waktu yang baik agar terhindar dari kekesalan anak karena merasa kurang diperhatikan yang berakhir pada kenakalan remaja.
Baca juga : Mengenal Lebih Jauh Boarding School SMP Almasoem Bandung
4. Anak tinggal jauh dari orang tua dan tidak ada pengawasan dari orang yang orang tua percayakan
Faktor jarak dengan orang tua juga bisa mempengaruhi remaja menjadi tidak terkendali, jika memang harus terkendala jarak karena memang anak ingin mendapat pendidikan agama seperti pesantren, carilah pesantren yang memang berkomitmen penuh dan bertanggung jawab dengan santri didiknya. Jangan sampai karena alasan tersebut anak merasa dibuang dan tidak diperhatikan apalagi ditambah kurangnya pengawasan dari pihak pesantren yang membuat anak bisa terjerumus dalam pergaulan bebas.
5. Faktor kemiskinan dan kekerasan dalam keluarga
Kemiskinan memang hal yang tidak bisa kita pungkiri, kemiskinan ini dapat mempengaruhi segala bidang, baik dari pendidikan hingga moral. Karena tekanan hidup yang tinggi, beberapa orang tua bahkan tega melampiaskan semuanya kepada anaknya. Bahkan bukan hanya kekerasan dalam omongan tapi juga kekerasan fisik juga kadang menjadi biang keladi anak melakukan tindakan kriminal di usia remaja.
Baca juga : Boarding School dan Fullday School, mana yang lebih baik?
6. Teman atau keluarga dan saudara yang mengkonsumsi minuman keras atau obat obatan terlarang
Penyalahgunaan obat obatan terlarang dan minuman keras terkadang berawal dari rasa penasaran anak akan hal seperti itu. Yang lebih parah lagi jika anak memang bergaul dengan pemakai atau bahkan ada saudara atau keluarga yang selalu mengkonsumsi hal hal tersebut. Karena penasaran yang tinggi dan pendidikan yang kurang dari anak serta tekanan yang didapatkan anak bisa jadi anak bisa terjerumus kedalam hal yang seperti demikian.

7. Kurangnya kasih sayang dan didikan orang tua yang terlalu keras
Faktor lainnya adalah kurangnya kasih sayang dari orang tua terhadap anak, bisa jadi karena orang tua memang terlalu fokus pada pekerjaan atau orang tua lebih mementingkan hal lainnya dari pada anaknya. Kurangnya kasih sayang orang tua terhadap anak juga dapat membuat anak terjerumus ke dalam sindrom kenakalan remaja. Selain itu juga didikan orang tua yang terlalu keras juga dapat menjerumuskan anak remaja ke fase kenakalan.
8. Pemahaman agama yang kurang baik dari anak dan keluarga
Masih berkaitan dengan bimbingan orang tua, pendidikan agama itu sangat penting untuk orang tua ajarkan kepada anak anaknya. Karena pendidikan agama ini, attitude anak dan moral anak bisa diasah hingga membuat anak paham tentang apa yang boleh mereka lakukan dan mana yang dilarang. Jika orang tua memang tidak sanggup mengajarkan ilmu agama kepada anak anaknya, menyekolahkan anak ke pesantren tidak ada salahnya juga.
9. Pengaruh dari teknologi informasi yang tidak bisa dibatasi
Teknologi informasi saat ini sangat mudah diakses, anda mau mencari apapun bisa anda dapatkan. Bahkan hal hal tabu juga bisa dengan mudah anda lihat hanya dengan bermodalkan koneksi internet. Pengaruh teknologi informasi yang tidak bisa dibatasi ini sangat dapat merusak moral anak dan bisa membuat anak terjerumus ke dalam kenakalan remaja. Maka dari itu penting juga bagi orang tua untuk tetap mengontrol anak dalam penggunaan gadget. Jika kalau bisa, sekolahkan atau pesantren kan anak ke sekolah berpesantren yang melarang penggunaan gadget.
Baca juga : Kebijakan Penggunaan Smartphone Bagi Santri Al Masoem Boarding School
Selain faktor keluarga dan lingkungan juga ada faktor lainnya, salah satunya adalah faktor dari remaja itu sendiri seperti :
-
Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
-
Kontrol diri yang lemah:
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Cara Mengatasi Kenakalan Remaja
Untuk menghindari bahkan mengatasi agar tidak terjadi kenakalan remaja barangkali orang tua bisa mengikut tips berikut ini :

1. Berikan anak kasih yang dan perhatian yang lebih
Ada hal yang perlu orang tua ketahui, anak itu makhluk yang simpel, asal ada waktu untuk mereka meskipun itu hanya 5 menit saja untuk didengarkan keluh kesahnya mereka akan sangat bahagia. Namun jika hanya sekedar waktu yang orang tua berikan rasanya akan sedikit hambar, alangkah baiknya orang tua juga memberikan kasih sayang dan perhatian lebih terutama pada anak usia remaja. Kasih sayang dari orang tua dapat membuat anak merasa diperhatikan dan dibimbing dengan kasih sayang pula orang tua dapat mengontrol anak remaja jika mereka sudah mulai melakukan kenakalan.
Baca juga : Ketentuan Penggunaan Smartphone Bagi Santri Al Ma’soem Boarding School
2. Pengawasan orang tua dengan perilaku anak terutama dengan gadget yang mereka pakai.
Memang terkadang orang tua harus membatasi sedikit anak tentang penggunaan gadget. Tapi bukan berarti orang tua bisa dengan digdaya membuka semua galeri chat anak dan lain sebagainya. Cukup bertanya ketika anak sedang menggunakan smartphone, sedang membaca apa? atau sedang bermain apa? atau sedang menonton apa? meskipun itu kadang mengganggu privasi anak, tapi secara tidak langsung orang tua bisa tahu apa yang anak akses setiap malam dan jika bisa berikan anak jadwal penggunaan gadget kalau dirumah. Atau alangkah lebih bijaksananya lagi jika orang tua menyekolahkan anak ke sekolah berasrama yang tidak memperbolehkan penggunaan smartphone di sekolah.
Baca juga : Jangan Panik. Begini Cara Mengatasi Kenakalan Remaja pada Siswa SMP!
3. Perlunya pembelajaran agama yang dilakukan sejak dini seperti beribadah dan mengunjungi tempat ibadah sesuai dengan iman
Agama adalah tiang agama, agama juga yang mengajarkan setiap insan manusia untuk berbuat dan berlaku baik. Agama juga yang memberikan batasan kepada setiap orang untuk tidak melanggar norma dan agama. Maka dari itu dengan memberikan pemahaman agama yang baik anak bisa terhindari dari sindrom kenakalan remaja. Jika orang tua kurang percaya diri dan bahkan menginginkan anak untuk dipesantrenkan agar ilmu agamanya lebih baik lagi, itu adalah pilihan yang bijaksana.
4. Perlunya bimbingan kepribadian di sekolah, karena disanalah tempat anak lebih banyak menghabiskan waktunya selain di rumah.
Ini yang paling penting dan dibutuhkan oleh orang tua dan anak demi meminimalisir kenakalan remaja sejak dini adalah adanya Bimbingan kepribadian di sekolah. Bimbingan kepribadian ini bisa juga berbentuk konselor sebagai tempat konsultasi anak terhadap perilaku teman sekitarnya atau juga bisa dijadikan sebagai bimbingan bagi orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja.
Bimbingan dan Konseling sekolah ini merupakan hal yang wajib dimiliki setiap sekolah, kenapa tidak? Karena dengan adanya bimbingan dan konseling setiap masalah yang dialami anak bisa diselesaikan dengan sangat baik.
Baca juga : Peran Penting Guru Bimbingan Dan Konseling (BK) dalam Pembelajaran di Sekolah
Bimbingan konseling sekolah juga harus dapat dikontak kapan saja dan dimana saja oleh orang tua, maka dari itu bimbingan dan konseling berperan penting dalam memberikan solusi bagi orang tua dalam mendidik anak.
Bimbingan dan konseling di setiap sekolah itu berbeda beda, di Al Masoem BK ini terbagi menjadi beberapa BK sesuai dengan tingkatannya, dari TK-SD ditengahi oleh 2 orang petugas BK yang fleksibel, artinya karena tingkat ini yang dilihat hanya minat dan bakat saja jadi 2 orang BK untuk TK dan SD masih cukup dan dapat menangani setiap masalah anak dan orang tua. Untuk tingkat SMP dan SMA masing masing 2 orang guru BK, dimana 1 BK laki laki untuk mengatasi setiap masalah anak Laki laki dan Perempuan untuk mengatasi remaja perempuan. Begitu juga di pondok pesantren memiliki 2 orang guru BK yang berperan sesuai dengan gender anak.
Al Ma’soem sekolah yang berperan serta dalam memberantas kenakalan remaja.
Al Masoem merupakan sekolah yang berperan serta dalam memberantas kenakalan remaja. Karena selain memberikan pelajaran umum dan agama, Al Masoem juga mendukung penuh pendidikan karakter anak. Dengan pendidikan karakter dan sistem pendidikan Al Masoem yang lebih mampu membuat anak belajar mandiri dan mengembangkan minat dan bakatnya dengan ekstrakurikuler yang beragam serta tidak bolehnya anak menggunakan smartphone hingga ilmu agama yang kental baik di sekolah formal dan nonformal membuat anak bisa memaksimalkan waktunya dengan beragam hal yang positif.

Al Masoem juga sekolah bebas asap rokok dan sekolah bebas pergaulan bebas sehingga bebas dari pacaran. Pacaran di Al Masoem sama saja dengan melanggar peraturan Al Masoem artinya setiap anak akan diberikan sanksi atau teguran berupa poin pelanggaran.
Baca juga : Pendidikan Keputrian di Sekolah, Pendidikan Pembentukan Karakter Siswi yang Muslimah
Di Al Masoem juga anak dibimbing melalui pendidikan keputrian bagi perempuan tentang pentingnya menjaga diri dan menjaga akhlak sebagaimana perempuan muslim. Selain itu juga anak akan dituntut untuk bisa mengembangkan minat dan bakatnya hingga berbuah prestasi. Maka dengan berbagai macam kegiatan positif, anak akan betah berada di lingkungan Al Masoem dan kenakalan remaja juga akan terminimalisir. Mengingat Al Masoem merupakan rumah kedua bagi anak, dimana wali santri dan wali kelas akan menjadi orang tua kedua selama di sekolah dan asrama. Jadi pengontrolan anak akan tetap terjaga dan anak tetap berada dalam pengawasan dan tanggung jawab setiap wali kelas dan wali santri.
Hanya di Al Masoem juga potensi anak yang kadang dijadikan momok bagi orang tua bisa dikembangkan menjadi prestasi, misalkan ada bebera anak yang memang hyper aktif bahkan tempramental, maka Al Masoem akan menyalurkan potensi itu mejadi sebuah prestasi. Jadi di Al Masoem hal yang negatif bisa jadi positif dan kenakalan remaja masa kini bisa diminimalisir dengan berbagai macam faktor pendukung lainnya.

