Sekolah bukan hanya sebagai tempat untuk mempelajari mata pelajaran yang sudah tersusun dalam kurikulum pendidikan. Namun, sekolah bisa menjadi media untuk siswa menjadi kuat secara mental terutama dalam menghadapi setiap tantangan di seluruh fase kehidupannya. Daya bangkit seseorang pada saat mengalami kesulitan atau masalah bisa kita sebut dengan istilah resiliensi. Diperlukan kemampuan resiliensi pada diri siswa untuk melewati masa-masa sulit tersebut, agar siswa mampu bertahan dari tekanan-tekanan dalam pencapaian tugas perkembangan yang sedang dihadapinya.
Reivich & Shatte (2002) mengungkapkan bahwa resiliensi tidak bersifat genetik hal ini sejalan dengan pendapat Grotberg (1999) bahwa resiliensi bukanlah sebuah magic yang secara tiba-tiba dimiliki oleh individu. Penelitian yang dilakukan belakangan ini oleh beberapa ahli membuktikan bahwa resiliensi juga merupakan sebuah kemampuan yang dibentuk oleh lingkungan (state-like) dan dapat dikembangkan oleh seseorang (open to development). Resiliensi dapat diperkuat oleh faktor pendukung (protective factor) yang bersifat internal maupun eksternal. Berbagai literatur menjelaskan bahwa sekolah merupakan salah satu faktor pendukung eksternal (external protective faktor) yang sangat penting bagi individu untuk mengembangkan kemampuan resiliensi.

Keterlibatan psikologis antara siswa dengan sekolahnya disebut dengan School Engagement. School engagement ini merupakan kondisi psikologis yang berkaitan dengan rasa kepemilikan peserta didik dengan sekolahnya, penerimaan nila-nilai sekolah dan komponen perilaku yang berkaitan dengan partisipasi kegiatan sekolah (Willms, 2003).
Keterlibatan dalam hubungan & kegiatan ekstrakurikuler di sekolah membantu meningkatkan resiliensi, seperti kegiatan dengan teman sebaya, kegiatan olahraga, melakukan hobi atau kegiatan keagamaan dapat memberikan bantuan dalam membangun resiliensi (Garmezy & Michael, 1983).
Selain itu, Wang & Halcombe (2010) menyatakan bahwa peserta didik yang memiliki school engagement akan lebih menunjukan performa yang lebih baik daripada peserta didik yang tidak terlibat dengan sekolahnya. Selain itu peserta didik yang tidak terlibat akan cenderung memiliki prestasi akademik yang kurang memuaskan dan mengalami masalah perilaku.
Untuk menciptakan School Engagement pada siswa maka guru harus memberikan dukungan. Dukungan guru yang diberikan kepada peserta didik ini dapat berupa dukungan akademik maupun dukungan interpersonal. Dukungan tersebut dapat membangun keterlibatan psikologis, baik itu dalam aspek perilaku, emosional maupun kognitif peserta didik.

Selain dukungan guru teman sebaya pun turut mempengaruhi keterlibatan psikologis peserta didik di sekolah. Konsep penerimaan dan penolakan teman sebaya juga menjelaskan tentang bagaimana tumbuhnya keterlibatan psikologis peserta didik terhadap sekolah. Peserta didik yang merasa diterima dengan baik oleh teman sebayanya akan merasa puas dengan kehidupan sekolahnya. Selain itu mereka juga menjadi lebih giat dalam belajar dan cenderung berperilaku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sebaliknya, murid yang merasa ditolak oleh teman-teman sebayanya, maka ia cenderung berkelakuan negatif, kurangnya rasa tertarik mengikuti kegiatan di sekolah serta kurangnya partisipasi dalam belajar.
Fredericks, et al (2004) menyatakan bahwa school engagement dibagi menjadi 3 aspek, yaitu : behavior engagement, emotional engagement dan cognitive engagement.Behavioral engagement umumnya dijabarkan menjadi 3 pengertian. Pertama adalah perilaku positif, kedua adalah keterlibatan dalam pembelajaran dan tugas-tugas akademisnya. Sedangkan yang ketiga ikut serta dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sekolah.
Sedangkan definisi emotional engagement yang menggambarkan konsep keterikatan. Aspek yang termasuk dalam emotional engagement diantaranya : reaksi positif dan negatif terhadap guru, teman sekelas, akademisi atau sekolah dan menciptakan ikatan dengan sekolah yang akan mempengaruhi motivasi untuk belajar
Cognitive engagement merujuk pada self-regulated peserta didik dan pendekatan strategis dalam belaajr. Cognitive engagement terdiri dari berpikir, kesediaan untuk mengerahkan upaya yang diperlukan untuk pemahaman ide-ide yang kompleks dan penguasaan keterampilan yang sulit.

