Tinggalkan Dosa, Jangan Menoleh Lagi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ سْرِ  بِاَ هْلِكَ  بِقِطْعٍ  مِّنَ  الَّيْلِ  وَا تَّبِعْ  اَدْبَا رَهُمْ  وَلَا  يَلْـتَفِتْ مِنْكُمْ  اَحَدٌ  وَّا مْضُوْا  حَيْثُ  تُؤْمَرُوْنَ

“Maka pergilah kamu pada akhir malam beserta keluargamu, dan ikutilah mereka dari belakang. Jangan ada di antara kamu yang menoleh ke belakang dan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 65)

Tinggalkan Dosa, Jangan Menoleh Lagi

Al Hijr 65 merupakan perintah Allah kepada Nabi Luth a.s. ketika azab akan ditimpakan kepada kaumnya yang terus-menerus melakukan kemaksiatan. Allah menyelamatkan Nabi Luth beserta orang-orang yang beriman dengan memerintahkan mereka meninggalkan negeri itu pada qith’in minal-lail, yaitu sebagian atau ujung malam, sebelum fajar menyingsing. Perintah ini mengandung tiga pesan besar.

Pertama, tinggalkan lingkungan yang membawa kepada dosa.

Allah tidak hanya memerintahkan Nabi Luth untuk membenci kemungkaran, tetapi juga meninggalkan tempat yang telah dipenuhi kemaksiatan. Ini mengajarkan bahwa terkadang hijrah bukan sekadar mengubah kebiasaan, tetapi juga mengubah lingkungan, pergaulan, dan keadaan yang terus menyeret seseorang kepada dosa.

Kedua, jangan menoleh ke belakang.

Kalimat “janganlah ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang” bukan sekadar larangan memalingkan wajah. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa larangan itu juga mengandung makna agar tidak menyesali keputusan meninggalkan kebatilan, tidak tergoda kembali kepada kehidupan lama, dan tidak terpikat oleh kenikmatan dunia yang sedang ditinggalkan.

Banyak orang telah bertaubat, tetapi akhirnya kembali kepada kebiasaan lama karena masih “menoleh ke belakang”. Ia masih menyimpan kerinduan kepada dosa yang telah ditinggalkan. Al-Qur’an mengajarkan bahwa taubat yang kuat adalah taubat yang disertai tekad untuk terus melangkah menuju Allah.

Ketiga, teruslah menuju tujuan yang Allah tetapkan.

Allah tidak hanya memerintahkan meninggalkan suatu tempat, tetapi juga memerintahkan menuju tempat yang telah ditentukan-Nya. Dalam kehidupan, meninggalkan dosa harus diikuti dengan mengisi hidup dengan amal saleh, ilmu, ibadah, dan lingkungan yang baik. Kekosongan setelah meninggalkan maksiat harus diisi dengan ketaatan.

Mengapa Allah Memilih “Ujung Malam”?
Frasa qith’in minal-lail secara bahasa berarti sebagian malam, dan dalam konteks ayat ini dipahami oleh banyak mufasir sebagai bagian akhir malam, ketika suasana masih gelap menjelang terbit fajar. Waktu ini dipilih agar Nabi Luth dan keluarganya dapat keluar dengan aman sebelum azab turun.

Menariknya, akhir malam juga merupakan waktu yang sangat dimuliakan dalam Islam. Pada saat inilah kaum mukmin dianjurkan bangun untuk melaksanakan shalat tahajud, beristighfar, berdoa, dan bermunajat kepada Allah. Dalam hadis sahih disebutkan bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah membuka pintu doa dan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang memohon kepada-Nya.

Walaupun qith’in minal-lail dalam QS. Al-Hijr: 65 bukan ayat yang secara khusus membahas shalat tahajud, waktunya sangat berdekatan dengan sepertiga malam terakhir, yaitu waktu yang paling utama untuk qiyamul lail. Dengan demikian, terdapat pelajaran yang indah: saat banyak manusia masih terlelap, orang-orang beriman justru bangun untuk mendekat kepada Allah, memperbarui taubat, dan memohon kekuatan agar mampu meninggalkan dosa.

Seolah-olah Allah mengajarkan bahwa perjalanan meninggalkan dosa dimulai dari kedekatan kepada-Nya pada waktu yang paling sunyi. Banyak perubahan besar dalam hidup lahir dari munajat yang tulus di penghujung malam.
Boleh jadi inilah salah satu rahasia mengapa begitu banyak orang saleh menjadikan tahajud sebagai kekuatan untuk istiqamah. Mereka tidak hanya berkata, “Saya ingin berubah,” tetapi memohon kepada Allah pada waktu yang paling mustajab agar diberi kemampuan untuk tidak menoleh lagi kepada masa lalu yang penuh dosa.

Hikmah untuk Kehidupan
Setiap manusia memiliki “Sodom”-nya masing-masing: kebiasaan buruk, dosa yang berulang, lingkungan yang merusak, atau masa lalu yang terus menariknya kembali. QS. Al-Hijr: 65 mengajarkan bahwa keselamatan dimulai dengan keberanian melangkah meninggalkan semuanya.

Jangan menoleh kepada dosa yang telah ditinggalkan. Jangan merindukan kehidupan yang menjauhkan dari Allah. Teruslah berjalan menuju ridha-Nya. Jika terasa berat, bangunlah pada penghujung malam, dirikan shalat tahajud, lalu mohonlah kekuatan kepada Allah. Dia yang memerintahkan hijrah juga Dia yang akan memberikan pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang tulus.

“Ya Allah, sebagaimana Engkau menyelamatkan Nabi Luth dan keluarganya, selamatkanlah kami dari dosa, lingkungan yang buruk, dan godaan untuk kembali kepada kemaksiatan. Anugerahkan kepada kami hati yang istiqamah, langkah yang teguh, serta kemampuan untuk bangun pada penghujung malam agar kami semakin dekat kepada-Mu. Jadikanlah taubat kami sebagai taubat yang tulus, dan jangan biarkan kami menoleh lagi kepada jalan yang Engkau murkai. Aamiin.”