Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَقَا لُوْا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهٖ مِنْ اٰيَةٍ لِّـتَسْحَرَنَا بِهَا ۙ فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ
“Dan mereka berkata (kepada Musa), Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 132).
Tetap tidak beriman walaupun sudah diperlihatkan bukti kebenaran dan mukjizat
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Karena asumsi yang salah seperti inilah mereka tetap mempertahankan kemungkaran. Dan tidak saja menuduh Nabi Musa sebagai penyebab kesulitan yang mereka hadapi, mereka kaum Fir’aun juga berkata kepada Nabi Musa, “Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami berupa mukjizat atau bukti kebenaranmu untuk menyihir atau mengelabui kami dengannya, agar kami meninggalkan seruan Fir’aun. Kami tidak akan meninggalkan keyakinan kami dan kami tidak akan beriman kepadamu.”
Tetap tidak beriman walaupun sudah diperlihatkan bukti kebenaran dan mukjizat.
Sekarang mukjizat sudah tidak ada, yang ada sekarang ada adalah peringatan dan bukti kebenaran dan kebesaran Allah SWT ada di sekitar kita, tapi kalau orang tetap tidak beriman itulah yang disebut tidak mendapat hidayah.
Keimanan adalah anugrah dari Allah SWT, kita beriman dan beramal shaleh itu semua karena pertolongan Allah SWT. Laa haula, dalam ilmu tashawuf diartikan, tidak ada daya yang mampu menghindarkan manusia dari tindak durhaka dan dosa. Wa laa quwwata, yaitu dan tidak ada kekuatan yang mampu mendorong manusia untuk berbuat amal ibadah. Kalimat illa billah, bermakna kecuali dengan pertolongan Allah subhanahu wataala. Setiap tarikan nafas kita, setiap gerakan anggota badan kita, baik di dalam menjalani aktivitas-aktivitas duniawi ataupun amal-amal ibadah, itu semua tidak terlepas dari rahmat dan pertolongan Allah. Bahkan dorongan hati yang membuat seseorang berniat untuk melakukan amal ibadah, itu juga berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Hanya Allah yang maha kuasa, menjadikan seseorang sesat atau mendapatkan hidayah.
وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا صُمٌّ وَّبُكْمٌ فِى الظُّلُمٰتِ ۗ مَنْ يَّشَاِ اللّٰهُ يُضْلِلْهُ ۗ وَمَنْ يَّشَأْ يَجْعَلْهُ عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah tuli, bisu, dan berada dalam gelap gulita. Barang siapa dikehendaki Allah (dalam kesesatan), niscaya disesatkan-Nya. Dan barang siapa dikehendaki Allah (untuk diberi petunjuk), niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.” (QS. Al-An’am 6: 39).
Hanya pertolongan Allah lah yang membuat kita mendapat hidayah…
Kita hanya berdoa dan minimal 17 kali dalam sehari memohon kepada Allah supaya diberi hidayah.
اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ
“Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6)
Doa lain supaya selalu diberi petunjuk/hidayah ;
رَبَّنَاۤ اٰتِنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً وَّهَيِّئْ لَـنَا مِنْ اَمْرِنَا رَشَدًا
“Ya Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS. Al-Kahfi 18: Ayat 10)