Suka Berbohong adalah Salah Satu Sifat Yahudi (2)

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

فَمَنِ  افْتَرٰ ى  عَلَى  اللّٰهِ  الْكَذِبَ  مِنْۢ  بَعْدِ  ذٰلِكَ  فَاُ ولٰٓئِكَ  هُمُ  الظّٰلِمُوْنَ

“Maka barang siapa mengada-adakan kebohongan terhadap Allah setelah itu, maka mereka itulah orang-orang zalim.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 94)

Kebohongan terhadap Allah ialah dengan mengatakan bahwa sebelum Taurat diturunkan, Allah telah mengharamkan beberapa makanan kepada Bani Israil.

Yakni setelah jelas hujjah, bahwa pengharaman tersebut hanya dari diri Nabi Ya’qub ‘alaihis salam saja, tidak dari masa Nabi Ibrahim ‘alaihis salam.

Kezaliman apa yang lebih besar daripada kezaliman orang yang diajak untuk menggunakan kitabnya, lalu menolaknya dengan sombong dan bersikeras di atas pendiriannya. Ayat ini termasuk bukti kebenaran kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Selain zalim, yang mengada adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung

وَلَا  تَقُوْلُوْا  لِمَا  تَصِفُ  اَلْسِنَـتُكُمُ  الْكَذِبَ  هٰذَا  حَلٰلٌ  وَّهٰذَا  حَرَا مٌ  لِّـتَفْتَرُوْا  عَلَى  اللّٰهِ  الْكَذِبَ   ۗ اِنَّ  الَّذِيْنَ  يَفْتَرُوْنَ  عَلَى  اللّٰهِ  الْكَذِبَ  لَا  يُفْلِحُوْنَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta Ini halal dan ini haram, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 116)

Usai merinci makanan yang diharamkan, Allah lalu melarang manusia mengatakan hal yang tidak berdasar atas nama Allah. Allah berfirman, dan janganlah mengatakan terhadap apa yang secara dusta, baik tentang binatang maupun hal-hal lain, tanpa dasar dan tanpa merujuk pada ketentuan Allah dan rasulnya bahwa ‘ini halal dan ini haram. Janganlah kamu mengatakan yang demikian itu untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah.

Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidak akan beruntung dan tidak akan membawa kebaikan bagi dirinya di dunia dan akhirat. Jika mereka mengada-adakan kebohongan terhadap Allah lalu memperoleh kebaikan, ingatlah bahwa sesungguhnya itu hanyalah kesenangan yang sedikit dan segera musnah; dan ingatlah pula bahwa setelah itu mereka akan mendapat azab yang pedih sebagai balasan atasnya.

Konsistensi al Quran, yang mengada adakan kebohongan terhadap Allah termasuk zalim dan tidak akan beruntung.

وَمَنْ  اَظْلَمُ  مِمَّنِ  افْتَرٰ ى  عَلَى  اللّٰهِ  كَذِبًا  اَوْ  كَذَّبَ  بِاٰ يٰتِهٖ   ۗ اِنَّهٗ  لَا  يُفْلِحُ  الظّٰلِمُوْنَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak beruntung.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 21).

Dan siapakah yang lebih zalim, sesat, dan menyimpang dari kebenaran, daripada orang yang mengada-adakan suatu kebohongan terhadap Allah, meyakini tuhan memiliki anak dan teman perempuan; atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya seperti yang dilakukan kaum kafir mekah dan madinah’ sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mempertuhankan seseorang atau sesuatu selain Allah, mereka tidak akan pernah beruntung dalam kehidupan di akhirat, karena mereka kekal di dalam neraka.

Dan ingatlah, pada hari ketika kami mengumpulkan mereka semua, seluruh manusia sejak zaman adam hingga akhir zaman di padang mahsyar, kemudian kami berfirman kepada orang-orang yang menyekutukan Allah, sebagai pertanggungjawaban, di manakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu sangka sebagai sekutu-sekutu kami yang kamu perlakukan sebagai tuhan’

Nabi Musa, nabi Isa dan nabi Muhammad SAW, tidak mungkin melakukan kebohongan, yang mengubah ajarannya itu dilakukan pengikutnya, apa yang terjadi dengan pengikut nabi Musa dan nabi Isa, bukan suatu hal yang tidak mungkin terjadi dengan pengikut nabi Muhamad, mengutak ngatik ajarannya dan melakukan kebohongan. Yang mengaku nabi palsu itu Islam, yang menyebut semua agama sama itu Islam, yang menyebut naik haji tidak perlu ke Arab itu juga Islam…

Doa supaya ditunjukkan jalan yang hak dan bathil;

اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا
اجْتِنَابَهُ

Allohumma arinal haqqo haqqon warzuqnat tibaa’ahu, wa arinal bathila bathilan warzuqnaj tinaabahu. Wa laa taj’alhu multabisan ‘alayna fanadlilla, waj’al a lilmuttaqiina imaama.

Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berikanlah kami kekuatan untuk mengikutinya, serta tunjukkanlah kami yang bathil itu bathil dan berikanlah kami kekuatan untuk menjauhinya.” (H.R. Bukhari dan Muslim)