Penjelasan tentang Tagut dan Ketetapan Hukumnya

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اَلَمْ  تَرَ  اِلَى  الَّذِيْنَ  يَزْعُمُوْنَ  اَنَّهُمْ  اٰمَنُوْا  بِمَاۤ  اُنْزِلَ  اِلَيْكَ  وَمَاۤ  اُنْزِلَ  مِنْ  قَبْلِكَ  يُرِ يْدُوْنَ  اَنْ  يَّتَحَا كَمُوْۤا  اِلَى  الطَّا غُوْتِ  وَقَدْ  اُمِرُوْۤا  اَنْ  يَّكْفُرُوْا  بِهٖ   ۗ وَيُرِ يْدُ  الشَّيْـطٰنُ  اَنْ  يُّضِلَّهُمْ  ضَلٰلًاۢ  بَعِيْدًا

“Tidakkah engkau (Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelummu? Tetapi mereka masih menginginkan ketetapan hukum kepada Tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari Tagut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 60).

Ketetapan hukum Tagut

اَللّٰهُ  وَلِيُّ  الَّذِيْنَ  اٰمَنُوْا  يُخْرِجُهُمْ  مِّنَ  الظُّلُمٰتِ  اِلَى  النُّوْرِ   ۗ وَا لَّذِيْنَ  كَفَرُوْۤا  اَوْلِيٰۤــئُهُمُ  الطَّا غُوْتُ   ۙ يُخْرِجُوْنَهُمْ  مِّنَ  النُّوْرِ  اِلَى  الظُّلُمٰتِ   ۗ اُولٰٓئِكَ  اَصْحٰبُ  النَّا رِ   ۚ هُمْ  فِيْهَا  خٰلِدُوْنَ

“Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah tagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka adalah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 257)

Dari segi bahasa, tagut berasal dari kata thugyan yang berarti melampaui batas. Terminologi Tagut dalam kamus lisan al-Arab adalah sesuatu yang disembah selain Allah SWT dan setiap pemimpin kesesatan adalah tagut. Ibnu Jarir al-Thabari menjelaskan, thagut adalah segala sesuatu yang melampaui Allah sehingga dia disembah di samping Allah.

Baik itu melalui paksaan atau karena ketaatan, makhluk yang disembah selain Allah itu bisa saja berupa manusia, setan, berhala, patung, atau lainnya. Ibnu Taimiyyah mendefinisikan, tagut sebagai segala yang disembah selain Allah dan yang disembah itu menerimanya dan tidak menolaknya. Ibnu al-Qayyim juga menjelaskan tentang tagut dalam kitabnya, I’lamul muwaqqi’in ‘an rabbil ‘alamien.

Tagut merupakan apa saja yang diperlakukan hamba secara melampaui batas, berupa sesuatu yang disembah (diibadahi), diikuti, maupun ditaati. Thagut setiap kaum adalah semua sumber hukum yang bukan bersumber dari Allah atau bertentangan dengan hukum Allah, atau mereka mengibadahinya selain Allah atau mengikutinya tanpa bashirah (penerang) dari Allah.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut, dapat dipahami bahwa setiap yang disembah atau ditaati selain Allah dan dia menerima untuk disembah dan ditaati berarti ia adalah Tagut. Selain itu, Tagut sudah jelah kekafirannya sebab ia menjadi saingan Allah. Padahal, inti tauhid adalah mengesakan Allah dalam penyembahan.

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu, barang siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS al-Baqarah [2]: 256).”

Jika ada nabi dan wali Allah serta orang saleh disembah, tidak dapat dikategorikan Tagut karena mereka tidak meminta dirinya disembah atau menjadi sekutu Allah.

Sebaliknya, mereka mengajak dan berdakwah kepada manusia agar hanya menyembah dan beribadah kepada Allah serta memberi peringatan agar menjauhi segala sesembahan selain Allah.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (Q.S al-An’ām : 162)

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal tidaklah mereka diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama ini dengan lurus . . .” (Qs. Al-Bayyinah: 5)

Semoga shalatku , ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam…