Pelajaran dari QS. Yunus Ayat 32; Salah Satunya Peringatan Tentang Berpaling dari Kebenaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَذٰلِكُمُ  اللّٰهُ  رَبُّكُمُ  الْحَـقُّ  ۚ فَمَا ذَا  بَعْدَ  الْحَـقِّ  اِلَّا  الضَّلٰلُ  ۚ فَاَ نّٰى  تُصْرَفُوْنَ

“Maka itulah Allah, Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling (dari kebenaran)?” (QS. Yunus 10: Ayat 32)

Hanya Allah-lah Tuhan yang benar, dan tidak ada pilihan selain kebenaran kecuali kesesatan

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI; Zat yang Maha Pemberi rezeki, Pencipta pendengaran dan penglihatan, yang kuasa menghidupkan dan mematikan, dan Maha Pengatur alam raya, maka itulah Allah, Dialah Tuhan kamu yang sebenarnya; maka tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan, yakni siapa pun yang tidak berkenan mengikuti kebenaran, maka yang ada tinggal kesesatan. Maka mengapa kamu berpaling dari kebenaran?

Tadabbur dan Pelajaran dari Ayat Ini:

  1. Penegasan bahwa Allah adalah Tuhan yang benar;  Ayat ini datang setelah rangkaian argumen logis tentang kekuasaan Allah: siapa yang menciptakan langit dan bumi, menurunkan hujan, mengatur rezeki, dsb. Setelah itu, Allah menyimpulkan: “Maka itulah Allah, Tuhanmu yang sebenar-benarnya.”  Ini menanamkan tauhid rububiyah (keyakinan bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang mencipta, mengatur, memberi rezeki).
  2. Tidak ada alternatif selain kebenaran atau kesesatan;  Tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan” menegaskan bahwa dalam urusan keimanan, tidak ada wilayah abu-abu. Kebenaran berasal dari Allah; selain itu adalah kesesatan.  Ini bisa menjadi refleksi bahwa manusia harus mencari dan berpegang pada kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu atau budaya tanpa dalil.
  3. Peringatan tentang berpaling dari kebenaran;  Maka bagaimana kamu dipalingkan?” adalah teguran retoris yang menyentuh hati. Mengapa manusia bisa berpaling dari kebenaran yang begitu jelas?  Ini menunjukkan bahayanya kesombongan, keengganan menerima kebenaran, atau keterikatan pada tradisi yang salah.

Perenungan diri

  • Apakah sudah benar-benar mengenal Allah sebagai Tuhan yang haq?
  • Ketika kebenaran datang, apakah menerimanya dengan lapang, atau justru berpaling karena kebiasaan, gengsi, atau ketakutan?
  • Apa sumber kebenaran yang diikuti: wahyu atau asumsi?

Doa supaya ditunjukkan jalan yang benar;

اللّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، وَثَبِّتْنَا عَلَى الحَقِّ حَتَّى نَلْقَاكَ.

“Allahumma arinal-ḥaqqa ḥaqqan warzuqnā ittibā‘ah, wa arinal-bāṭila bāṭilan warzuqnā ijtinābah, wa thabbitnā ‘alal-ḥaqqi ḥattā nalqāk.”

“Ya Allah, tunjukkan kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan berilah kami kemampuan untuk mengikutinya. Tunjukkan kepada kami kebatilan sebagai kebatilan dan berilah kami kemampuan untuk menjauhinya. Teguhkanlah kami di atas kebenaran hingga kami bertemu dengan-Mu.”