Orang yang Memiliki Raja’ itu Seperti Petani

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAILLAHAILLOH. WALLAHU AKBAR.

Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Mari saling mendoakan ;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لُوْا  لَنْ  يَّدْخُلَ  الْجَـنَّةَ  اِلَّا  مَنْ كَا نَ  هُوْدًا  اَوْ  نَصٰرٰ ى   ۗ تِلْكَ  اَمَا نِيُّهُمْ   ۗ قُلْ  هَا تُوْا  بُرْهَا نَکُمْ  اِنْ  کُنْتُمْ  صٰدِقِيْنَ
“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 111)

Luar biasa Yahudi dan Nasrani, begitu yakin hanya mereka yang masuk syurga. Kematian dianggap hal yang sepele, melakukan olahraga ekstrim rasa takutnya seperti tidak ada, karena kematian akan mengantarkan ke syurga, sedangkan bagi muslim kematian adalah hal yang luar biasa, pemisah antara kehidupan kekal dengan kehidupan yang fana, di dunia kalau ada masalah masih bisa meminta bantuan kepada yang lain, di akherat sudah tidak ada penolong, dihadapkan dengan dua pilihan mendapatkan nikmat kubur atau siksa. Setelah hisab dihadapkan dengan syurga dan neraka.

Bagi muslim untuk urusan syurga dan neraka dikenal istilah khauf dan raja’. Takut dan berharap.

Ada dua hal yang harus dimiliki orang yang beriman, yaitu Khauf dan Raja’. Khauf dan Raja’ adalah sebuah pendorong dan penarik untuk taat kepada Allah. Menurut para ulama, keduanya seperti kedua sayap untuk terbang. Jika salah satunya tidak ada, maka timpang.

Dalil Khauf dan Raja’ dalam Hadis

“Sesungguhnya Nabi Muhammad saw. menjenguk pemuda yang akan meninggal (sakaratul maut). Lalu Rasulullah berkata, “Bagaimana engkau mendapati dirimu?”

Pemuda itu menjawab, “Demi Allah wahai Rasulullah, sesungguhnya aku berharap kepada Allah dan sesungguhnya aku takut pada dosa-dosaku.

Lalu Rasulullah berkata, “Keduanya (Raja’ dan Khauf) tidak berkumpul dalam hati seorang hamba yang sedang sekarat kecuali Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menyelamatkan dari apa yang dia takutkan.”” (HR. Imam Turmudzi)

Ya, pemuda itu saat mendekati ajalnya, ada dua rasa dalam hatinya. Yaitu rasa harap atas rahmat Allah dan rasa takut terhadap dosa-dosanya.
Rasulullah menegaskan, orang yang memiliki rasa Raja’ dan Khauf saat sekarat, maka Allah akan memberikan harapannya (rahmat Allah) dan menyelamatkan dari ketakutannya (siksaan Allah).
Ada banyak ulama yang lebih tampak rasa Khaufnya. Sehingga rasa Khauf itu membuat mereka meneteskan air mata.

Tidak Semua Harapan Itu Dapat Dibenarkan

Raja’ atau berharap memang harus menjadi salah satu karakter orang yang beriman. Namun ternyata, tidak semua Raja’ (harapan) bisa dibenarkan. Sebab, banyak orang bilang berharap, tapi tidak berusaha mendapatkannya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumiddinnya mengumpamakan orang yang memiliki Raja’ (harapan) ini seperti petani.

Kata beliau, jika ada orang menanam benih di tanah yang bagus. Tanahnya berpotensi untuk ditumbuhi tanaman. Lalu petani itu menyirami tanamannya. Menyingkirkan penyakitnya. Lalu, dia berharap hasil panennya melimpah. Maka dia pengharap yang benar.

Jika ada petani menanam benih di tanah yang bagus. Tapi tidak disiram. Dia hanya menunggu hujan padahal pada waktu itu bukan musim hujan. Dia juga tidak menyingkirkan penyakit-penyakit tanaman. Lalu, dia berharap panennya melimpah. Maka, petani tersebut berharap pada harapan kosong.

Jika ada petani menanam benih di tanah yang tandus. Tidak disiram dengan air. Tidak dibuang penyakit-penyakitnya. Lalu dia berharap hasil tanamannya melimpah. Maka, orang tersebut termasuk pengharap yang bodoh.

Artinya, orang yang berharap dengan benar itu tidak hanya berharap. Akan tetapi, juga berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya. Jika tidak ada usaha, maka harapannya tidak benar. Bisa harapan kosong, bisa harapan bodoh.

Imam Al-Ghazali mengutip sebuah hadis, Rasulullah bersabda,

الأحمق من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الجنة

“Orang bodoh adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah agar mendapatkan Surga.”

Khauf (takut) dan Raja’ (berharap) adalah dua sayap yang perlu kita miliki. Bahkan wajib. Keduanya akan mengantarkan kita pada sikap waspada sekaligus penuh harap. Waspada dari api neraka dan berharap masuk surga.

Rasulullah SAW pun telah dijamin Allah SWT untuk masuk surga. Kendati demikian, Rasulullah tetap bedoa kepada Allah agar diselamatkan dari siksa neraka.

Salah satu doa yang paling banyak dipanjatkan Nabi Muhammad SAW adalah doa sapujagat. Dikutip dari kitab At-Takhwif Minan Naar Wat Ta’rifu Bi Haali Daril Bawwar karya Ibnu Rajab Al-Hanbali, Anas berkata, “Doa yang paling banyak dipanjatkan Nabi SAW adalah:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhirat hasanah, waqina adzabannar.”

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (Al-Baqarah: 201).” (HR Bukhari).