Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran
Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAILLAHAILLOH. WALLAHU AKBAR.
Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Mari saling mendoakan ;
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
“Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)
Kata Islam pertama disebut dalam Al Quran Aslama (2;112). menyerahkan diri…
Kita tidak pernah tahu apa yang Allah SWT rencanakan untuk kehidupan kita. Karena ketidaktahuannya inilah, tak heran bila ketika peristiwa buruk menimpa, kadang kita selalu meluapkan kekecewaan kepada Allah.
Kita tidak berprasangka baik kepada-Nya bahwa di balik peristiwa buruk ada kebaikan yang menyertai. Sebab, kemampuan manusia dalam berpikir sangatlah terbatas, sedangkan seluruh yang menimpanya, itu bisa saja peristiwa baik maupun buruk.
Dengan demikian, kita harus memasrahkan diri saat musibah menerpa, bersabar ketika kenestapaan terjadi dalam hidup, dan mensyukuri setiap episode kehidupan penuh harapan positif.
Ada berbagai manfaat positif yang bisa kita peroleh dari sikap pasrah kepada Allah. Kemuliaan yang tampak pada diri seseorang pada hakikatnya merupakan buah kepasrahan diri kepada-Nya. Seseorang yang memiliki totalitas kepasrahan tidak akan bergantung pada selain Allah. Hanya kepada Dia-lah ia akan selalu bergantung dan berserah diri.
Ketika dihadapkan dengan persoalan hidup dan menyadari keterbatasannya, lalu memasrahkan diri kepada Allah. Dia (Allah) yang memiliki kekuatan tak terbatas. Allah pula yang lebih mengetahui segala sesuatunya. Menurut ahli psikologi, tingkat kepasrahan diri kepada Tuhan menjadi modal utama menggapai ketenangan hidup dan menghilangkan depresi yang sering dialami manusia.
Oleh karena itu, percaya penuh kepada Allah dapat menghilangkan kecemasan dan kegelisahan. Ketika berbahagia, ia tidak terlalu berbangga. Ketika kebahagiaan itu lenyap, ia pun tidak terlalu gelisah dan bersedih hati.
Dalam kehidupan para Nabi, kepasrahan total kepada Allah menjadi hal yang utama dalam menghadapi setiap masalah. Manusia yang senantiasa pasrah kepada Allah akan memiliki energi yang positif.
Mereka akan memahami bahwa segala peristiwa pasti mengandung kebaikan. Dengan demikian, mereka akan terlepas dari sesuatu yang tidak berguna, pantang berputus asa, dan terus berupaya mendapatkan apa yang diinginkan.
Dengan berpasrah diri kepada Allah, kita akan menjalani kehidupan di jalan yang benar, tanpa keraguan, kegelisahan, dan kekhawatiran yang berlebihan. Dengan kepasrahan diri yang total, kita akan menyadari bahwa sebaik-baiknya rencana kita, jauh lebih baik rencana dari Allah untuk kita.
Dalam ayat ini, menyerahkan diri dan berbuat baik…jadi satu kesatuan menyerahkan diri dan berbuat baik, jadi bukan hanya merahkan diri saja tanpa berbuat baik.
Betulkah kita sudah Islam ? Betulkah kita sudah memasrahksn diri kepada Allah ?
Doa supaya berpasrah diri;
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ وَبِكَ خَاصَمْتُ، اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِى، أَنْتَ الْحَىُّ الَّذِى لاَ يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالإِنْسُ يَمُوتُونَ
“Allohumma laka aslamtu wa bika amantu wa ‘alike tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khoshomtu. Allohumma inni a’udzu bi ‘izzatika laa ilaha illa anta an tudhillani. Antal hayyu alladzi laa yamuut wal jinnu wal insu yamuutun.”
“Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku beriman kepada-Mu, aku bertawakal kepada-Mu, aku bertaubat kepada-Mu, dan aku mengadukan urusanku kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan kemuliaan-Mu –tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Engkau– dari segala hal yang bisa menyesatkanku. Engkau Maha hidup dan tidak mati, sedangkan jin dan manusia pasti mati.” (HR Muslim, no. 2717)