أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفْسِيْ ۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَ مَّا رَةٌ بِۢا لسُّوْٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْ ۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yusuf 12: Ayat 53)
Nafsu pada asalnya mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Yusuf sebagai manusia mengakui bahwa setiap nafsu cenderung dan mudah disuruh untuk berbuat jahat kecuali jika diberi rahmat dan mendapat perlindungan dari Allah. Yusuf selamat dari godaan istri al-Aziz karena limpahan rahmat Allah dan perlindungan-Nya, meskipun sebagai manusia Yusuf juga tertarik pada istri al-Aziz sebagaimana perempuan itu tertarik kepadanya seperti diterangkan pada ayat 24:
Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya, sekiranya dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. (Yusuf/12: 24)
Tetapi ada pendapat lain yang menyatakan bahwa ayat 53 ini menerangkan pengakuan istri al-Aziz dengan terharu dan rasa penyesalan yang mendalam bahwa dia tidak dapat membersihkan dirinya dari kesalahan dan ketelanjuran. Dia juga mengakui bahwa memang dia yang hampir mengkhianati suaminya dengan merayu Yusuf ketika suaminya tidak di rumah. Untuk menjaga nama baik diri, suami, dan keluarganya, dia menganjurkan supaya Yusuf dipenjarakan, atau ditimpakan kepadanya siksaan yang pedih. Istri al-Aziz telah melakukan kesalahan ganda, yaitu berdusta dan menuduh orang yang jujur dan bersih serta menjebloskannya ke penjara.
Pada akhir ayat ini dijelaskan bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Yang dimaksud nafsu dalam ayat 53 adalah dorongan syahwat yang bisa menyeret pada dosa
– Istri al-‘Aziz mengikuti nafsunya
– Yusuf memiliki dorongan manusiawi, tapi tidak menuruti nafsu
– Perbedaannya ada pada pengendalian dan pilihan
Nafsu itu ada pada semua manusia, tapi kemuliaan seseorang terlihat dari bagaimana ia mengendalikannya.
Para ulama menjelaskan bahwa nafsu itu satu, tetapi keadaannya (tingkatannya) berbeda-beda sesuai dengan kedekatan seseorang kepada Allah.
Secara umum, nafsu dibagi menjadi 3 macam utama:
1. Nafsu Ammārah bis-sū’
(Nafsu yang memerintahkan kepada kejahatan)
– Dasarnya: QS Yusuf: 53
“Sesungguhnya nafsu itu benar-benar mendorong kepada kejahatan…”
Ciri-cirinya:
– Mengikuti hawa nafsu tanpa kontrol
– Mudah tergoda dosa
– Merasa dosa itu biasa
– Membenarkan kesalahan
Ini kondisi nafsu yang belum dididik.
2. Nafsu Lawwāmah
(Nafsu yang mencela diri sendiri)
– Dasarnya: QS Al-Qiyamah: 2
وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ
“dan Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 2)
Ciri-cirinya:
– Masih jatuh dalam dosa, tapi menyesal
– Ada konflik batin antara iman dan nafsu
– Hati belum tenang, tapi hidup
Ini tanda iman sudah bekerja.
3. Nafsu Muṭma’innah
(Nafsu yang tenang)
– Dasarnya: QS Al-Fajr: 27–28
يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
“Wahai jiwa yang tenang!”
(QS. Al-Fajr 89: Ayat 27)
ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً
“Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 28)
Ciri-cirinya:
– Tenang dalam taat dan ujian
– Ridha terhadap takdir Allah
– Tidak gelisah oleh dunia
Ini tingkat tertinggi yang dicapai dengan rahmat Allah.
Penting Diluruskan
•Satu orang bisa mengalami ketiga kondisi ini di waktu berbeda
•Bukan berarti satu orang hanya punya satu jenis nafsu
•Nafsu bisa naik dan turun
Ammārah → mengajak dosa
Lawwāmah → menyesal
Muṭma’innah → tenang bersama Allah
QS Yusuf 53 bukan dalih untuk pasrah, tapi:
•pengakuan kelemahan diri
•dorongan untuk meminta rahmat Allah
Doa perlindungan dari nafsu yang menyeret pada keburukan dan berharap rahmat Allah:
اللَّهُمَّ ارْحَمْ نَفْسِي، وَاصْرِفْ عَنِّي شَرَّهَا، وَثَبِّتْنِي عَلَى طَاعَتِكَ.
Ya Allah, rahmatilah jiwaku, jauhkan dariku keburukannya, dan tetapkan aku dalam ketaatan kepada-Mu