Mukmin yang Kuat lebih Dicintai Allah daripada Mukmin yang Lemah

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِذْ  يُرِ يْكَهُمُ  اللّٰهُ  فِيْ  مَنَا مِكَ  قَلِيْلًا  ۗ وَّلَوْ  اَرٰٮكَهُمْ  كَثِيْرًا  لَّـفَشِلْـتُمْ  وَلَـتَـنَا زَعْتُمْ  فِى  الْاَ مْرِ  وَلٰـكِنَّ  اللّٰهَ  سَلَّمَ  ۗ اِنَّهٗ  عَلِيْمٌ  بِۢذَا تِ  الصُّدُوْرِ

“(ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 43)

Setiap saat ada yang kuat imannya dan ada yang lemah imannya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah mengetahui apa yang diucapkan oleh sahabat-sahabat Nabi dan mengetahui pula apa yang tersimpan dalam hatinya ketika Allah memperlihatkan kepada Nabi dalam mimpi bahwa jumlah musuh itu sedikit. Setelah Nabi memberitahukan kepada sahabat-sahabatnya tentang mimpinya itu, maka tenanglah hati mereka dan bertambah besarlah harapan mereka untuk mencapai kemenangan, sehingga mimpi itu memberikan dorongan dan semangat kepada mereka menghadapi medan pertempuran.

Seandainya Allah memperlihatkan kepada Nabi-Nya jumlah kaum musyrikin itu banyak akan timbullah ketakutan dalam hati mereka, mereka gentar menghadapi musuh dan tentu akan menimbulkan pertentangan hebat di kalangan kaum Muslimin yang tidak setuju untuk melangsungkan peperangan, karena di kalangan kaum Muslimin ada yang kuat imannya dan ingin patuh melaksanakan perintah Rasul untuk berperang dan ada pula yang lemah imannya, yang ingin menghindari peperangan. Allah menyelamatkan kaum Muslimin dari ketakutan dan perselisihan yang dapat mengakibatkan kelemahan dan kehancuran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam hati, yaitu perasaan takut dan cemas dari orang yang lemah imannya dan keberanian untuk maju ke medan juang pada orang-orang yang kuat imannya yang selalu tawakal kepada Allah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , beliau berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla daripada Mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan kepada Allâh (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdirkan Allâh, dan Allâh berbuat apa saja yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan syaitan.

Jangan berandai andai, itu tanda lemahnya iman, jikalau atau lau seperti tidak mempercayai ketetapan Allah SWT.

Berandai-andai atau berkata “jika saja” (seperti “seandainya” atau “lau”) memang dalam beberapa konteks bisa dianggap sebagai tanda kelemahan iman dalam Islam, terutama jika seseorang menggunakannya untuk meratapi atau menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Hal ini karena dalam Islam, semua yang terjadi diyakini merupakan bagian dari takdir atau ketetapan Allah SWT (qadha dan qadar). Mengeluh atau mempertanyakan apa yang sudah terjadi bisa menunjukkan ketidakpuasan terhadap takdir Allah, dan ini dianggap sebagai kelemahan iman.

Rasulullah ﷺ mengingatkan umatnya dalam sebuah hadits:

“Jika sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya aku lakukan begini, tentu hasilnya akan lain.’ Akan tetapi katakanlah, ‘Qaddarallah wa maa syaa fa’al’ (Allah telah menetapkan dan apa yang Dia kehendaki telah Dia lakukan). Karena perkataan ‘seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Muslim)

Namun, perlu dicatat bahwa tidak semua bentuk berandai-andai dianggap negatif. Misalnya, jika seseorang berandai-andai untuk kebaikan atau sebagai sarana introspeksi untuk memperbaiki diri, itu dapat dianggap sebagai hal yang positif, selama tidak disertai dengan penyesalan berlebihan terhadap takdir yang telah Allah tetapkan.

Singkatnya, berandai-andai yang didasari oleh kekecewaan dan penolakan terhadap takdir memang bisa menjadi tanda lemahnya iman, tetapi jika untuk tujuan perbaikan diri atau semangat berusaha, hal itu masih bisa diterima dalam batas-batas yang wajar.

Doa agar dikuatkan iman:

اللّهُمَّ زِدْنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا وَتَوَكُّلًا عَلَيْكَ وَاعْفُ عَنِّي وَارْحَمْنِي

“Allahumma zidni imanan wa yaqinan wa tawakkulan ‘alaika wa’fu ’anni warhamni.”

“Ya Allah, tambahkanlah keimanan, keyakinan, dan tawakal kepada-Mu, ampunilah aku, dan rahmatilah aku.”