Keyakinan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai Agamaku dan Muhammad sebagai Rasul

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

اِذْ  اَنْتُمْ  بِا لْعُدْوَةِ  الدُّنْيَا  وَهُمْ  بِا لْعُدْوَةِ  الْقُصْوٰى  وَ  الرَّكْبُ  اَسْفَلَ  مِنْكُمْ  ۗ وَلَوْ  تَوَا عَدْتُّمْ  لَا خْتَلَفْتُمْ  فِى  الْمِيْعٰدِ  ۙ وَلٰـكِنْ  لِّيَقْضِيَ  اللّٰهُ  اَمْرًا  كَا نَ  مَفْعُوْلًا  ۙ لِّيَهْلِكَ  مَنْ  هَلَكَ  عَنْۢ  بَيِّنَةٍ  وَّيَحْيٰى  مَنْ  حَيَّ  عَنْۢ  بَيِّنَةٍ  ۗ وَاِ نَّ  اللّٰهَ  لَسَمِيْعٌ  عَلِيْمٌ

“(Yaitu) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan (hari pertempuran itu), tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan, yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui,” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 42)

Keyakinan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai rasul

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini Allah memperlihatkan rahmat-Nya kepada kaum Muslimin ketika terjadi Perang Badar. Kaum Muslimin menempati tempat yang sangat strategis, sangat memungkinkan untuk memperoleh kemenangan, yaitu memilih tempat yang berada di pinggir lembah dekat Medinah, sedang kaum musyrikin berada di ujung lembah yang jauh dari kafilah unta yang membawa barang dagangan yang dipimpin oleh Abu Sufyan di tepi pantai, kira-kira lima mil dari Badar. Kaum Muslimin berada di pinggir lembah yang terdekat ke Medinah, ketika itu baru saja turun hujan, sehingga mereka mempunyai persediaan air minum yang cukup dan situasi tanah yang disiram hujan, sedang kaum musyrikin berada di ujung lembah yang jauh, yang kering karena tidak mendapatkan air hujan dan tanah yang diinjak oleh kaum Musyrikin adalah tanah yang mengandung debu, sehingga kaki mereka mudah terperosok.

Seandainya kaum Muslimin mengadakan kesepakatan untuk menentukan waktu pertempuran, niscaya mereka tidak sependapat dalam menentukan waktu pertempuran itu. Akan tetapi, karena Allah telah menentukan jalannya pertempuran maka saatnya pun tidak direncanakan oleh kaum Muslimin sendiri, apalagi jika melihat jumlah tentara kaum Muslimin amat sedikit dibanding dengan jumlah tentara kaum musyrikin dan persenjataan mereka pun tidak lengkap.

Maksud kaum Muslimin berperang untuk menguasai kafilah unta yang penuh dengan barang dagangan yang dibawa dari Syam di bawah pimpinan Abu Sufyan. Tindakan ini adalah sebagai balasan atas tindakan orang-orang musyrik yang merampas harta orang-orang Muslim yang mereka tinggalkan di Mekah karena hijrah ke Medinah. Semula kaum musyrikin tidak merasa gentar menghadapi kaum Muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah. Tetapi setelah mereka mengetahui posisi dan keadaan mereka, maka mereka merasa gentar menghadapi kaum Muslimin. Abu Sufyan sebagai pemimpin kafilah perdagangan kemudian mengirim utusan ke Mekah memberi tahu tentang bahaya yang mereka hadapi. Kemudian orang Quraisy dari Mekah mengirim pasukan yang dipimpin oleh Abu Jahal dengan maksud membantu kafilah Abu Sufyan. Mengetahui kedatangan tentara Quraisy dari Mekah yang cukup besar, Nabi Muhammad mengubah arah dari menghalangi Abu Sufyan menjadi menghadapi tentara Quraisy. Maka terjadilah pertempuran di lembah Badar.

Allah mempertemukan dua pasukan itu tanpa didahului persetujuan dari kedua belah pihak, untuk menentukan pertempuran. Allah menghendaki kemenangan kepada kaum Muslimin dan menghancurkan kaum musyrikin, agar orang-orang yang beriman mencapai kemenangan berdasarkan bukti-bukti yang dapat disaksikan dengan nyata sebagai bukti kebenaran Islam, dan sebagai bukti bahwa Allah telah melaksanakan janji-Nya kepada Nabi-Nya dan kaum Muslimin, sehingga keraguan mereka lenyap dan kemenangan ternyata berada di tangan kaum Muslimin.

Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui segala yang diucapkan oleh orang-orang kafir dan orang-orang mukmin dan pasti akan memberikan balasan pula sesuai dengan apa yang didengar dan diketahui-Nya.

Keyakinan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai rasul.

Rasulullah shallla Allahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengatakan; RADHIITU BILLAAHI RABBAN WA BIL-ISLAAMI DIINAN WA BIMUHAMMADIN RASUULAN (Aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai rasul), maka wajib baginya untuk masuk Surga. (H.R. Abu Daud).

Hadits ini mengajarkan tentang keutamaan keridhaan terhadap Allah, Islam, dan Rasul-Nya, sebagai jalan menuju kebahagiaan akhirat, yaitu surga.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keridhaan-Mu dan keridhaan Nabi-Mu Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam. Aku bersaksi bahwa aku ridha kepada-Mu sebagai Tuhanku, kepada Islam sebagai agamaku, dan kepada Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku.

Ya Allah, teguhkanlah hatiku dalam agama-Mu, jadikanlah imanku cahaya yang menuntunku menuju keridhaan-Mu, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mencintai-Mu dan ridha terhadap segala ketetapan dan takdir-Mu.

Ya Allah, masukkanlah aku ke dalam surga-Mu dan selamatkanlah aku dari api neraka. Jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, yang telah Engkau limpahkan nikmat berupa keridhaan dan ampunan-Mu.

Wahai Tuhan kami, terimalah dari kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.