Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا لَتْ رُسُلُهُمْ اَفِى اللّٰهِ شَكٌّ فَا طِرِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ يَدْعُوْكُمْ لِيَـغْفِرَ لَـكُمْ مِّنْ ذُنُوْبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ قَا لُوْۤا اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا ۗ تُرِ يْدُوْنَ اَنْ تَصُدُّوْنَا عَمَّا كَا نَ يَعْبُدُ اٰبَآ ؤُنَا فَأْتُوْنَا بِسُلْطٰنٍ مُّبِيْنٍ
“Berkata rasul-rasul mereka: Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan [siksaan]mu sampai masa yang ditentukan? Mereka berkata: Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi [membelokkan] kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (QS. Ibrahim 14: Ayat 10).
Para rasul menegaskan bahwa tidak ada keraguan tentang Allah sebagai Pencipta langit dan bumi, namun manusia sering tetap ragu dan menolak kebenaran
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa karena mereka menyatakan keragu-raguan terhadap apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, terutama tentang kekuasaan Allah swt, maka para rasul tersebut mengatakan kepada umatnya, “Apakah patut adanya keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberikan ampunan atas segala dosa-dosamu, dan Dia telah menangguhkan siksaan terhadapmu sampai kepada suatu masa yang ditentukan-Nya ?
Sebaliknya, umat dari masing-masing rasul itu mengatakan bahwa para rasul tersebut, menurut pandangan mereka, adalah manusia biasa seperti mereka dan tidak mempunyai kelebihan apa-apa. Sebab itu, tidak ada alasan bagi mereka untuk menjadi pengikut rasul-rasul tersebut. Menurut mereka, para rasul itu sudah memalingkan mereka dari agama yang diwarisi dari nenek moyang mereka, serta menghalang-halangi mereka dari menyembah patung-patung yang menjadi sesembahan nenek moyang tersebut. Oleh karena itu, mereka meminta bukti yang nyata dari para rasul untuk menunjukkan kebenaran pengutusan mereka sebagai rasul Allah swt. Padahal, rasul-rasul itu telah mengemukakan mukjizat masing-masing, yang dikaruniakan Allah kepada mereka sebagai bukti kerasulannya.
Logika dalam Surah Ibrahim ayat 10, menurut orang yang ragu, biasanya ada beberapa kemungkinan pandangan:
- Menganggap alam terjadi dengan sendirinya (tanpa pencipta), sering dikaitkan dengan kebetulan atau proses alam semata.
- Mengaitkan dengan banyak “tuhan” atau kekuatan lain, bukan satu Tuhan yang Esa.
- Bersikap ragu atau tidak mau memikirkan (agnostik).
Namun, ayat tersebut justru menegaskan bahwa keraguan itu tidak logis, karena penciptaan langit dan bumi yang begitu besar dan teratur menunjukkan adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta. Al-Qur’an tidak hanya mengajak melihat besarnya langit dan bumi, tetapi juga mengajak berpikir dari banyak sisi. Selain keteraturan alam, ada beberapa pendekatan yang bisa semakin menguatkan keyakinan bahwa Allah adalah Pencipta:
1. Argumen sebab-akibat (kausalitas)
Segala sesuatu yang ada pasti ada penyebabnya. Alam semesta tidak mungkin ada tanpa sebab awal. Jika ditarik terus, harus ada “Sebab Pertama” yang tidak bergantung pada apa pun, itulah Allah.
2. Keteraturan hukum alam (presisi)
Hukum-hukum alam (gravitasi, keseimbangan kosmos, dll.) sangat presisi. Sedikit saja berubah, kehidupan tidak mungkin ada. Ini menunjukkan adanya perancangan, bukan kebetulan.
3. Fitrah manusia
Dalam kondisi sulit, manusia secara spontan memohon kepada satu kekuatan tertinggi. Ini menunjukkan dalam diri manusia ada pengakuan bawaan tentang adanya Tuhan.
4. Kesadaran dan akal manusia
Manusia punya akal, moral, dan kesadaran. Sulit dijelaskan jika semuanya hanya hasil materi tanpa tujuan. Ini mengarah pada adanya Pencipta yang Maha Mengetahui.
5. Keseragaman pesan para rasul
Sejak zaman Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad, semua membawa pesan tauhid yang sama, meskipun hidup di zaman dan tempat berbeda.
6.Dalil wahyu (Al-Qur’an)
Al-Qur’an tidak hanya menyatakan, tapi juga menantang manusia untuk berpikir, seperti dalam Surah Ibrahim ayat 10—“Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi?”
Jadi, bukan hanya satu asumsi, tapi banyak jalur pemikiran (akal, fitrah, dan wahyu) yang semuanya mengarah pada satu kesimpulan yang sama: adanya Allah sebagai satu-satunya Pencipta. Bagi seorang muslim, cukup Al-Qur’an sebagai pedoman; ketika Allah menyatakan Dialah Pencipta langit dan bumi, maka kita mengatakan sami’na wa atha’na. Dalam Al-Qur’an yang menegaskan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi ;
- Surah Al-Baqarah ayat 117; “Allah Pencipta langit dan bumi…”
- Surah Al-An’am ayat 101; “Dia Pencipta langit dan bumi…”
- Surah Ibrahim ayat 10; “Apakah ada keraguan tentang Allah, Pencipta langit dan bumi…”
- Surah Az-Zumar ayat 62; “Allah menciptakan segala sesuatu…”
- Surah Al-Furqan ayat 59; “Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa…”
- Surah Qaf ayat 38; “Dan sungguh Kami telah menciptakan langit dan bumi…”
- Surah Yunus ayat 3; “Sesungguhnya Tuhanmu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi…”
- Surah As-Sajdah ayat 4; “Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi…”
Al-Qur’an berulang kali menegaskan dalam banyak ayat bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi, sebagai penguat tauhid dan penghilang keraguan manusia.
Doa dengan mengingat penciptaan langit dan bumi:
“Rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilaa, subhaanaka faqinaa ‘adzaaban naar.”
“Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan ini sia-sia; Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.” (Quran Surah Ali Imran ayat 191)

