Mengapa Orang Munafik sering Terlihat Lebih Kaya Secara Materi?

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَا  تُعْجِبْكَ  اَمْوَا لُهُمْ  وَاَ وْلَا دُهُمْ  ۗ اِنَّمَا  يُرِ يْدُ  اللّٰهُ  اَنْ  يُّعَذِّبَهُمْ  بِهَا  فِى  الدُّنْيَا  وَتَزْهَقَ  اَنْفُسُهُمْ  وَهُمْ  كٰفِرُوْنَ
“Dan janganlah engkau (Muhammad) kagum terhadap harta dan anak-anak mereka. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia dan agar nyawa mereka melayang, sedang mereka dalam keadaan kafir.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 85)
Secara materi munafikun dilebihkan, tapi tidak barokah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini hampir bersamaan bunyinya dengan ayat 55 dalam surah ini. Maka pada ayat ini Allah swt mengulangi lagi, agar kaum Muslimin jangan sampai terpengaruh oleh kekayaan dan harta benda orang-orang munafik itu. Begitu pula jangan sampai terpengaruh oleh anak-anak mereka. Kalau ada di antaranya mereka yang kaya, banyak harta, banyak anak dan keturunannya, semua itu tidaklah akan membahagiakan mereka dan tidak akan menyelamatkan mereka dari siksa Allah.
Semuanya itu akan menyusahkan mereka, menjadikan mereka teraniaya dan sengsara karenanya. Bagaimana mereka bersusah payah dalam mencari harta dan kekayaan itu, begitu pula mereka dibikin susah olehnya. Ada-ada saja peristiwa yang terjadi karena harta dan kekayaannya, dan anak-anak mereka cukup membuat mereka seolah-olah mendapat azab dunia. Maka harta dan kekayaan serta anak-anak mereka itu, bukan lagi menjadi nikmat, tetapi menjadi azab bagi mereka. Mereka tidak akan mendapat pertolongan sedikitpun dari harta dan anak-anaknya. Tidak ada manfaatnya sama sekali, dan akhirnya mereka mati dalam kekafiran.
Kekayaan  dan keturunan yang dimiliki oleh orang-orang munafik bukanlah tanda keberkahan atau kemuliaan, melainkan ujian dan bentuk istidraj (penundaan sebelum azab). Mereka diberikan kelapangan rezeki di dunia sebagai bentuk ujian dan kesenangan sementara yang pada akhirnya justru akan membawa mereka kepada azab di akhirat.
Mengapa orang munafik sering terlihat lebih kaya secara materi?
1. Ujian dan Istidraj dari Allah
  • Kekayaan yang dimiliki oleh orang-orang munafik sering kali merupakan istidraj, yaitu suatu bentuk penangguhan yang diberikan oleh Allah untuk menambah dosa dan keburukan mereka. Mereka dibiarkan menikmati harta dunia agar semakin jauh dari kebenaran dan semakin tenggelam dalam kesesatan.
  • Dalam QS. Al-An’am ayat 44, Allah berfirman: “Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.”
2. Cinta Dunia yang Berlebihan; Orang munafik lebih cenderung mencari harta dan kesenangan dunia dengan segala cara, termasuk cara yang tidak halal. Mereka mengutamakan kepentingan materi daripada keimanan, sehingga mereka terkesan lebih sukses secara duniawi.
3. Kurangnya Keberkahan dalam Harta Mereka; Meskipun mereka memiliki kekayaan melimpah, harta tersebut tidak membawa keberkahan atau kebahagiaan sejati. Mereka tetap merasa gelisah, takut kehilangan harta, dan tidak memiliki ketenangan batin.
4. Sebagai Cobaan bagi Orang Beriman; Kekayaan orang munafik dapat menjadi ujian bagi orang-orang yang beriman, apakah mereka tetap teguh dalam keimanan atau tergoda dengan kenikmatan dunia yang bersifat sementara.
Munafikun  sering terlihat lebih kaya secara materi, harta tersebut sebenarnya adalah ujian dan bukan tanda kemuliaan di sisi Allah. Yang lebih penting bagi seorang mukmin adalah keberkahan dan keridhaan Allah, bukan sekadar jumlah harta yang dimiliki.
Doa Memohon Keberkahan dalam Harta:
اللهم بارك لي في رزقي وحلالي وبارك لي في مالي وأهلي وولدي واغفر لي وارحمني واهدني إلى صراطك المستقيم
“Ya Allah, berkahilah rezeki dan penghasilanku, berkahilah hartaku, keluargaku, dan anak-anakku. Ampunilah aku, rahmatilah aku, dan bimbinglah aku ke jalan-Mu yang lurus.”