Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَوْ مَا تَأْتِيْنَا بِا لْمَلٰٓئِكَةِ اِنْ كُنْتَ مِنَ الصّٰدِقِيْنَ
مَا نُنَزِّلُ الْمَلٰٓئِكَةَ اِلَّا بِا لْحَـقِّ وَمَا كَا نُوْۤا اِذًا مُّنْظَرِ يْنَ
“Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat kepada kami, jika engkau termasuk orang yang benar?”
“Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan kebenaran (untuk membawa azab) dan mereka ketika itu tidak diberikan penangguhan.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 7 & 8).
Orang yang menolak kebenaran sering meminta bukti sesuai hawa nafsunya, padahal Allah mengutus rasul dari kalangan manusia sebagai rahmat dan ujian keimanan, bukan malaikat pembawa azab
Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa tidak hanya mengolok Nabi Muhammad, mereka juga meminta beliau mendatangkan malaikat. Mereka berkata, “Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat dalam bentuk aslinya kepada kami, supaya menjadi bukti kebenaran pengakuanmu sebagai rasul, agar mereka menyampaikan pesan-pesan Allah kepada kami secara langsung, atau agar mereka menyiksa kami dengan azab dari Tuhanmu, jika engkau termasuk orang yang benar?”
Menjawab permintaan kaum kafir tersebut, Allah berfirman, “Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan kebenaran, yaitu sesuatu yang pasti dari Allah, seperti wahyu, azab bagi pendurhaka, dan keselamatan bagi penaat, dan mereka ketika para malaikat itu diturunkan untuk membawa azab, tidak diberikan penangguhan sedikit pun.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an surat Surah Al-Hijr ayat 7–8, kaum kafir menantang Nabi agar malaikat diturunkan sebagai bukti kerasulan. Namun Allah menjelaskan bahwa malaikat tidak diturunkan untuk sekadar memenuhi ejekan atau permainan, karena bila malaikat datang sebagai pembawa keputusan azab, maka tidak ada lagi penangguhan bagi mereka.
Hikmah mengapa Allah mengutus rasul dari kalangan manusia, bukan malaikat, di antaranya:
1. Agar manusia memiliki teladan yang nyata
Rasul mengalami lapar, sedih, diuji, bekerja, berkeluarga, dan beribadah sebagaimana manusia lainnya. Karena itu manusia tidak bisa beralasan, “Kami tidak mampu menjalankan syariat.” Rasul menjadi contoh yang bisa ditiru dalam kehidupan nyata.
2. Supaya dakwah lebih mudah dipahami manusia
Manusia lebih mudah menerima nasihat dari sesama manusia yang memahami bahasa, budaya, dan keadaan mereka.
3. Sebagai ujian keimanan
Orang yang sombong sering menolak kebenaran hanya karena pembawanya manusia biasa. Padahal kemuliaan bukan pada rupa atau jenis makhluknya, tetapi pada wahyu yang dibawanya.
4. Jika malaikat diutus dalam bentuk asli, manusia tidak akan sanggup melihatnya.
Bahkan ketika malaikat datang kepada para nabi, sering kali mereka menjelma dalam bentuk manusia atas izin Allah.
5. Malaikat tidak memiliki hawa nafsu sebagaimana manusia.
Ketaatan malaikat memang sempurna, tetapi manusia yang mampu taat di tengah godaan memiliki nilai ujian dan pahala yang besar.
Rassul yang diutus adalah manusia biasa agar bisa menjadi teladan nyata bagi umat manusia. Pada diri para rasul terdapat contoh yang baik seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam QS Al-Mumtahanah ayat 4:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْٓ اِبْرٰهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya.”
Dan ditegaskan kembali pada ayat 6:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya pada mereka itu terdapat suri teladan yang baik bagimu.”
Nabi Muhammad SAW juga disebut juga terdapat contoh yang baik dalam QS Al-Ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad diutus sebagai manusia agar umat dapat mencontoh keimanan, kesabaran, perjuangan, ibadah, dan akhlaknya dalam kehidupan nyata.
Allah juga menegaskan dalam Surah Ibrahim ayat 4 bahwa setiap rasul diutus dengan bahasa kaumnya agar mudah dipahami. Dan dalam Surah Al-An’am ayat 9, Allah menjelaskan bahwa seandainya rasul itu malaikat, tetap akan dijadikan menyerupai manusia agar manusia mampu melihat dan berinteraksi dengannya.
Kebenaran tidak ditentukan oleh siapa pembawanya, tetapi oleh wahyu dan petunjuk yang dibawanya. Orang beriman melihat isi kebenaran, sedangkan orang sombong sibuk mempermasalahkan pembawanya
“Ya Allah, jadikanlah hati kami tunduk kepada kebenaran-Mu, menerima nasihat dan petunjuk wahyu-Mu dengan penuh keimanan. Jauhkan kami dari kesombongan yang membuat kami menolak kebenaran hanya karena melihat siapa yang menyampaikannya. Karuniakan kepada kami hati yang ikhlas untuk mengikuti al-haq di mana pun datangnya, dan wafatkan kami dalam keadaan mencintai petunjuk-Mu.”