Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ ۚ وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ الْاَ عْلٰى ۗ وَهُوَ الْعَزِ يْزُ الْحَكِيْمُ
“Bagi orang-orang yang tidak beriman pada (kehidupan) akhirat, (mempunyai) sifat yang buruk; dan Allah mempunyai sifat Yang Maha Tinggi. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 60)
Melihat Kematian, Tetapi Tidak Belajar dari Kematian
An-Nahl ayat 60 sangat dalam kalau dikaitkan dengan fenomena yang sering terjadi di sekitar kita, manusia berkali-kali menyaksikan kematian, sakit, kehilangan, bahkan mengantar jenazah ke kubur, tetapi tidak semuanya mengambil pelajaran.
QS. An-Nahl: 60 menggambarkan bahwa orang yang tidak beriman kepada akhirat memiliki sifat yang buruk, sedangkan Allah Mahatinggi dan Mahabijaksana. Sifat buruk tidak mengambil pelajaran dari kejadian disekitarnya
Tetapi kedekatan dengan kematian tidak otomatis melahirkan iman.
Mengapa?
1. Karena manusia sering merasa kematian adalah sesuatu yang terjadi kepada orang lain.
Ketika tetangga meninggal, kita berkata, “Kasihan, sudah waktunya.”
Ketika teman sakit, kita berkata, “Semoga lekas sembuh.”
Tetapi jarang kita berhenti dan berkata:
“Suatu hari nanti, giliran saya.”
Padahal itulah pelajaran terpenting.
2. Karena hati bisa terbiasa dengan sesuatu yang berulang.
Tukang gali kubur mungkin pada awalnya sangat tersentuh setiap melihat jenazah. Tetapi karena setiap hari melakukannya, pekerjaan itu bisa berubah menjadi rutinitas.
Ini pelajaran penting: sesuatu yang sering kita lihat belum tentu semakin kita hayati.
Bahkan azan yang terdengar setiap hari pun bisa tidak lagi menggerakkan seseorang untuk shalat.
3. Karena manusia mudah terlena oleh dunia.
Selama masih sehat, punya rumah, pekerjaan, keluarga, uang dan berbagai kesibukan, kematian terasa jauh.
Allah mengingatkan:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali ’Imran: 185)
Masalahnya bukan manusia tidak tahu bahwa dia akan mati. Hampir semua orang tahu.
Masalahnya adalah tahu secara akal belum tentu sadar di dalam hati.
Inilah yang menarik dari An-Nahl 60
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang percaya atau tidak percaya kepada akhirat, tetapi mengajak kita bertanya:
“Ketika begitu banyak tanda kematian ada di depan mata, mengapa hati kita masih merasa seolah-olah kita akan hidup selamanya?”
Orang yang beriman seharusnya menjadikan kematian orang lain sebagai cermin, bukan sekadar sebagai berita.
Melihat orang sakit: “Apa yang harus saya perbaiki sebelum saya sakit?”
Melihat orang meninggal: “Apa bekal yang sudah saya siapkan sebelum saya menyusul?”
Menggali kubur: “Suatu hari nanti, mungkin orang lain menggali kubur untuk saya.”
Jadi, kuburan sebenarnya bukan hanya tempat orang mati. Kuburan adalah guru yang diam bagi orang yang masih hidup.
Tetapi tidak semua orang mau belajar dari guru itu.
Kematian orang lain adalah berita bagi orang yang lalai, tetapi menjadi pelajaran bagi orang yang beriman. Yang membedakan bukan apa yang kita lihat, melainkan apa yang hati kita pelajari dari apa yang kita lihat.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْغَافِلِينَ، وَاجْعَلْنَا مِمَّنْ يَرَى الْمَوْتَ فَيَسْتَعِدُّ لَهُ، وَيَرَى الْعِبْرَةَ فَيَتَّعِظُ بِهَا
Allahumma la taj’alna minal-ghafilin, waj’alna mimman yara al-mauta fayasta’iddu lahu, wa yara al-‘ibrata fayatta’izhu biha.
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kami termasuk orang-orang yang lalai. Jadikanlah kami orang yang ketika melihat kematian, kami mempersiapkan diri untuk menghadapinya, dan ketika melihat suatu pelajaran, kami mengambil ibrah darinya.”