Jahiliyah Mengubur Anak Perempuan: Ketika Kebencian terhadap Perempuan Mengalahkan Akal dan Nurani

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَتَوَا رٰ ى  مِنَ  الْقَوْمِ  مِنْ  سُوْٓءِ  مَا  بُشِّرَ  بِهٖ ۗ اَيُمْسِكُهٗ  عَلٰى  هُوْنٍ  اَمْ  يَدُسُّهٗ  فِى  التُّـرَا بِ ۗ اَ لَا  سَآءَ  مَا  يَحْكُمُوْنَ

“Dia bersembunyi dari orang banyak, disebabkan kabar buruk yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) kehinaan atau akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)? Ingatlah alangkah buruknya (putusan) yang mereka tetapkan itu.” (QS. An-Nahl Ayat 59)

Jahiliyah Mengubur Anak Perempuan: Ketika Kebencian terhadap Perempuan Mengalahkan Akal dan Nurani

QS. An-Nahl ayat 59 menggambarkan wajah masyarakat jahiliyah yang begitu ironis. Ketika mereka mendapat kabar kelahiran anak perempuan, wajah mereka menjadi hitam karena menahan marah dan malu. Mereka bahkan berpikir, “Apakah anak ini akan dipelihara dengan menanggung kehinaan, atau akan dikuburnya hidup-hidup ke dalam tanah?”

Inilah salah satu bentuk kejahilan yang sangat berat: menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib.

Padahal siapa yang memberikan anak itu? Allah.
Siapa yang menentukan apakah seorang anak lahir sebagai laki-laki atau perempuan? Allah.
Lalu bagaimana mungkin pemberian Allah dianggap sebagai kehinaan?

Jahiliyah telah membuat manusia kehilangan ukuran yang benar. Mereka menilai kemuliaan berdasarkan jenis kelamin, kehormatan keluarga, dan pandangan masyarakat. Anak perempuan dipandang sebagai beban, sementara anak laki-laki dianggap sebagai kebanggaan.

Islam datang untuk menghancurkan cara pandang seperti itu.

Al-Qur’an bahkan menggambarkan betapa beratnya pertanggungjawaban mereka. Anak perempuan yang dahulu dikubur hidup-hidup kelak akan ditanya:

بِأَيِّ ذَنْبٍ قُتِلَتْ
“Karena dosa apa dia dibunuh?” (QS. At-Takwir: 9)

Perhatikan: bukan anak perempuan yang harus menjawab mengapa ia dilahirkan. Justru orang-orang yang menyakitinya yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pesan An-Nahl 59 juga sangat relevan untuk kehidupan sekarang. Kita mungkin tidak lagi mengubur bayi perempuan di dalam tanah, tetapi jangan sampai masih ada bentuk-bentuk lain dari jahiliyah: merendahkan perempuan, menganggap anak perempuan kurang berharga, membanding-bandingkan anak, atau merasa malu karena mendapatkan anak perempuan.

Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh apakah ia laki-laki atau perempuan, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah.

Karena itu, ketika Allah menitipkan seorang anak kepada kita, baik laki-laki maupun perempuan, yang seharusnya muncul bukan rasa malu, tetapi syukur dan tanggung jawab.

Jahiliyah mengubur anak perempuan karena menganggapnya sebagai aib. Islam mengajarkan bahwa anak adalah amanah. Maka jangan pernah merasa malu dengan apa yang Allah berikan; boleh jadi sesuatu yang kita anggap rendah justru menjadi jalan menuju kemuliaan kita di hadapan Allah.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا قُلُوبًا سَلِيمَةً، وَأَكْرِمْنَا بِحُسْنِ النَّظَرِ إِلَى خَلْقِكَ، وَاجْعَلْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتِنَا نِعْمَةً وَأَمَانَةً نُحْسِنُ رِعَايَتَهَا

Allahumma-rzuqnaa quluuban saliimah, wa akrimnaa bihusnin-nazhari ilaa khalqik, waj‘al abnaa’anaa wa banaatinaa ni‘matan wa amaanatan nuhsinu ri‘aayatahaa.

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami hati yang bersih. Anugerahkan kepada kami pandangan yang baik terhadap seluruh ciptaan-Mu. Jadikan anak-anak laki-laki dan perempuan kami sebagai nikmat dan amanah yang dapat kami jaga dan didik dengan sebaik-baiknya.”

آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِين