Kematian Tidak Bisa Ditunda dan Tidak Bisa Dipercepat

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَوْ  يُؤَاخِذُ  اللّٰهُ  النَّا سَ  بِظُلْمِهِمْ  مَّا  تَرَكَ  عَلَيْهَا  مِنْ  دَآ بَّةٍ  وَّلٰـكِنْ  يُّؤَخِّرُهُمْ  اِلٰۤى  اَجَلٍ  مُّسَمًّى ۚ فَاِ ذَا  جَآءَ  اَجَلُهُمْ  لَا  يَسْتَـأْخِرُوْنَ  سَا عَةً  وَّلَا  يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. An-Nahl Ayat 61)

Kematian tidak bisa ditunda dan tidak bisa dipercepat

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Allah SWT mengancam orang-orang musyrik yang bergelimang dosa. Ancaman itu ialah apabila Allah ingin menghukum manusia karena kezaliman mereka, Ia mampu untuk melakukannya. Mereka akan ditumpas dari permukaan bumi ini, tidak ada satupun yang tersisa. Akan tetapi, Allah tidak menghendaki yang demikian itu.

Karena rahmat-Nya yang luas, Allah menangguhkan siksaan-Nya sampai pada suatu saat yang telah ditentukan, yaitu saat ajal telah merenggut mereka. Maksudnya adalah agar mereka dapat mengubah pandangan dan perilaku mereka. Akan tetapi, bila mereka tetap tidak berubah, Allah akan menurunkan azab ketika ajal mereka datang. Dan bila ajal itu telah datang, mereka tidak akan mampu mengundurkan atau mempercepatnya sesaat pun. Kemudian di akhirat mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.

“Apabila ajal mereka telah tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak pula meminta percepatan.”

Yang menarik, ayat ini bukan sekadar berbicara tentang kematian, tetapi tentang kesempatan yang Allah berikan sebelum kematian datang. Penangguhan ajal adalah rahmat dan kesempatan untuk berubah, bukan jaminan bahwa kita akan selalu diberi waktu.

Kematian Tidak Bisa Ditunda dan Tidak Bisa Dipercepat

Tadabur An-Nahl: 61

Ada manusia yang merasa kematian masih jauh.

  • Hari ini sehat, besok masih ada.
  • Usia masih panjang, masih banyak yang ingin dikerjakan.
  • Masih ingin memperbaiki diri nanti.
  • Masih ingin meminta maaf nanti.
  • Masih ingin lebih dekat kepada Allah nanti.

Padahal, “nanti” adalah sesuatu yang tidak pernah kita miliki.

Yang kita miliki hanyalah hari ini.

Allah sebenarnya mampu menghukum manusia seketika karena kezaliman dan dosa-dosanya. Namun Allah menangguhkan. Bukan karena Allah tidak mengetahui dosa kita, bukan pula karena Allah tidak mampu menghukum, tetapi karena rahmat-Nya masih memberikan kesempatan.

  • Kesempatan untuk bertobat.
  • Kesempatan untuk memperbaiki shalat.
  • Kesempatan untuk meminta maaf.
  • Kesempatan untuk mengembalikan hak orang lain.
  • Kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan keluarga.
  • Kesempatan untuk memperbanyak amal sebelum semuanya berakhir.

Tetapi kesempatan itu ada batasnya.

Ketika ajal telah tiba, tidak ada lagi tawar-menawar.

Tidak bisa berkata, “Ya Allah, beri saya satu hari lagi.”

Tidak bisa meminta, “Tunda sebentar, saya belum selesai memperbaiki diri.”

Dan tidak pula bisa mempercepatnya.

Allah telah menetapkan waktunya.

Karena itu, kematian bukan sesuatu yang perlu kita tunggu; kematian adalah sesuatu yang harus kita persiapkan.

Barangkali selama ini kita terlalu sibuk menghitung berapa tahun umur kita yang telah berlalu, tetapi lupa bertanya:

“Untuk apa sisa umur yang Allah berikan kepada saya?”

Sebab umur bukan sekadar bertambah angka. Umur adalah berkurangnya kesempatan.

Setiap hari yang berlalu sesungguhnya membawa kita semakin dekat kepada satu kepastian: ajal.

Maka ketika pagi masih mempertemukan kita dengan kehidupan, jangan hanya berkata, “Alhamdulillah, saya masih hidup.”

Tetapi katakanlah: “Alhamdulillah, Allah masih memberi saya kesempatan untuk menjadi lebih baik.”

Sebab bisa jadi, hari ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan untuk sebuah perubahan yang selama ini kita tunda.

Dan ketika ajal itu benar-benar datang, tidak ada satu detik pun yang dapat kita minta kembali.

Kematian tidak bisa ditunda.
Kematian tidak bisa dipercepat.
Tetapi sebelum kematian datang, kita masih diberi kesempatan untuk memilih: akan menghadap Allah dengan membawa dosa yang terus dipelihara, atau membawa taubat dan amal yang terus diperbaiki.

Maka jangan menunggu ajal untuk berubah.

Berubahlah sebelum ajal tiba.

Ajal adalah kepastian, tetapi bagaimana kita menghadapinya masih menjadi pilihan kita. Selama napas masih ada, pintu taubat masih terbuka. Jangan sampai kesempatan yang Allah berikan hari ini baru kita sadari nilainya ketika kesempatan itu sudah berakhir.

اللَّهُمَّ أَحْسِنْ خَاتِمَتَنَا، وَبَارِكْ فِي أَعْمَارِنَا، وَاجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ

“Allahumma ahsin khatimatanā, wa bārik fī a‘mārinā, waj‘al khaira a‘mālinā khawātīmahā, wa khaira ayyāminā yauma nalqāk.

“Ya Allah, perbaikilah akhir kehidupan kami, berkahilah umur kami, jadikan sebaik-baik amal kami adalah amal-amal penutup kami, dan jadikan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.”