Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ صَلْصَا لٍ مِّنْ حَمَاٍ مَّسْنُوْنٍ
“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 26)
Manusia terbuat dari berbagai jenis tanah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Ayat ini menerangkan bahwa setelah menyempurnakan bentuk ciptaan-Nya, Allah lalu meniupkan roh kepadanya. Menurut para saintis, kata hama’ (lumpur hitam) pada ayat ini mengisyaratkan akan terlibatnya molekul air (H2O) dalam proses terbentuknya molekul-molekul pendukung proses kehidupan. Seperti diketahui ‘air adalah media bagi terjadinya suatu proses reaksi kimiawi/biokimiawi untuk membentuk suatu molekul baru.
Kata “yang diberi bentuk”, mengisyaratkan bahwa reaksi biokimiawi yang terjadi dalam media berair itu, telah menjadikan unsur-unsur, yang semula ‘hanya atom-atom menjadi suatu molekul organik, yang susunan dan bentuknya tertentu, seperti asam amino atau nukleotida.
Pada ayat yang lain, Allah SWT menerangkan kejadian manusia itu: Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar, dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap. (ar-Rahman/55: 14-15)
Secara ilmiah, tembikar adalah semacam porcelain, yang dalam proses reaksi kimiawi dapat digunakan sebagai katalis untuk terjadinya proses polimerisasi. Kata “tanah kering seperti tembikar” mungkin mengisyaratkan terjadinya proses polimerasasi atau reaksi perpanjangan rantai molekul dari asam-asam amino menjadi protein atau dari nukleotida menjadi polinukleotida, termasuk molekul Desoxyribonucleic Acid (DNA), suatu materi penyusun struktur gena makhluk hidup.
Dan firman Allah SWT: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya; maka tunduklah kamu dengan bersujud kepadanya.” (shad/38: 71-72)
Yang dimaksud dengan insan (manusia) dalam ayat ini, ialah Adam a.s. yang merupakan bapak seluruh manusia. Sebagian ahli tafsir berpendapat Adam yang disebut dalam ayat ini bukanlah manusia pertama, karena sebelum itu Allah swt telah menciptakan beribu-ribu Adam. Tetapi Nabi Adam adalah nabi pertama yang diberi tugas untuk berdakwah kepada manusia agar mengikuti jalan yang benar.
Dalam hadis Nabi diterangkan proses penciptaan Adam itu. Nabi Muhammad saw bersabda: Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan Adam dari kepalan tanah yang diambil dari segala macam tanah, maka lahirlah anak Adam menurut kadar tanah itu. Di antara mereka ada yang merah, ada yang hitam, dan ada di antara kedua warna itu. Ada yang mudah, ada yang sukar, ada yang baik, dan ada yang buruk. (Riwayat Ahmad dan Muslim dari ‘Aisyah)
Inti (ibrah/pelajaran) dari Tafsir Kemenag RI tentang QS. Al-Qur’an Al-Hijr ayat 26;
1. Manusia berasal dari bahan yang sederhana, tetapi dimuliakan Allah
Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah atau lumpur yang berasal dari unsur-unsur bumi. Hal ini mengajarkan kerendahan hati. Tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong karena asal-usulnya hanyalah tanah.
2. Kehidupan terjadi karena kehendak Allah
Tafsir Kemenag mengaitkan penciptaan manusia dengan proses-proses alamiah yang dapat dipelajari sains, seperti peran air, pembentukan molekul organik, protein, dan DNA. Namun, semua proses itu terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah. Sains menjelaskan “bagaimana”, sedangkan Al-Qur’an menjelaskan “siapa yang menciptakan dan mengaturnya”.
3. Tidak ada pertentangan antara wahyu dan ilmu pengetahuan
Tafsir ini menunjukkan bahwa ayat-ayat penciptaan dapat dipahami selaras dengan temuan ilmiah. Semakin dalam manusia mempelajari kehidupan, semakin tampak kebesaran Allah sebagai Pencipta.
4. Manusia memiliki unsur jasad dan ruh
Penciptaan manusia tidak berhenti pada pembentukan tubuh dari tanah. Setelah jasad disempurnakan, Allah meniupkan ruh. Karena itu manusia bukan hanya makhluk biologis, tetapi juga makhluk spiritual yang memiliki tanggung jawab moral dan agama.
5. Keberagaman manusia adalah kehendak Allah
Hadis yang dikutip dalam tafsir menjelaskan bahwa Adam diciptakan dari berbagai jenis tanah sehingga keturunannya memiliki warna kulit, karakter, dan sifat yang beragam. Perbedaan manusia bukan untuk saling merendahkan, tetapi untuk saling mengenal dan menghargai.
6. Kemuliaan manusia terletak pada ketaatan kepada Allah
Meskipun berasal dari tanah, manusia dimuliakan Allah dengan ruh, akal, dan amanah sebagai khalifah di bumi. Kemuliaan bukan karena keturunan, warna kulit, atau kekayaan, melainkan karena iman dan ketakwaan.
Ringkasan Pesan Al-Hijr Ayat 26: “Manusia berasal dari tanah yang sederhana, dibentuk melalui proses yang ditetapkan Allah, lalu dimuliakan dengan ruh dan akal. Karena itu manusia harus rendah hati, bersyukur, mengagumi kebesaran Allah melalui ilmu pengetahuan, dan menggunakan kehidupannya untuk beribadah kepada-Nya.”
Doa Pengakuan Asal-usul Manusia;
اللَّهُمَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِي مِنْ تُرَابٍ، وَنَفَخْتَ فِيَّ مِنْ رُوحِكَ، فَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Allāhumma anta khalaqtanī min turāb, wa nafakhta fiyya min rūḥika, faj‘alnī min ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn.
“Ya Allah, Engkau telah menciptakanku dari tanah dan meniupkan ruh kepadaku, maka jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”