Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“وَلَـقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَقْدِمِيْنَ مِنْكُمْ وَلَـقَدْ عَلِمْنَا الْمُسْتَـأْخِرِ يْنَ”
“وَاِ نَّ رَبَّكَ هُوَ يَحْشُرُهُمْ ۗ اِنَّهٗ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ”
“Dan sungguh, Kami mengetahui orang yang terdahulu sebelum kamu dan Kami mengetahui pula orang yang terkemudian.”
“Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang akan mengumpulkan mereka. Sungguh, Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Hijr: 24–25)
Allah Mengetahui yang Terdahulu dan yang Terakhir, serta Akan Mengumpulkan Mereka Semua
Dua ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam tentang keluasan ilmu Allah dan kepastian hari kebangkitan. Tidak ada satu manusia pun yang luput dari pengetahuan-Nya, baik yang hidup pada masa lampau, masa kini, maupun yang akan hidup pada masa yang akan datang.
Allah Mengetahui Isi Hati yang Tersembunyi
Menurut riwayat yang disebutkan dalam Tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini turun berkaitan dengan sebuah peristiwa ketika seorang wanita yang sangat cantik ikut salat berjamaah bersama Rasulullah ﷺ.
Sebagian sahabat berusaha maju ke saf paling depan agar tidak melihat wanita tersebut dan dapat menjaga kekhusyukan salatnya. Namun sebagian yang lain justru berada di saf belakang dengan harapan dapat melihatnya ketika rukuk.
Lalu Allah menurunkan ayat ini untuk menunjukkan bahwa Dia mengetahui maksud dan niat yang tersembunyi dalam hati setiap hamba.
Peristiwa ini mengajarkan bahwa Allah tidak hanya melihat apa yang tampak dari perbuatan manusia, tetapi juga mengetahui tujuan, niat, dan dorongan hati yang melatarbelakanginya.
Manusia mungkin hanya melihat posisi seseorang di saf salat, tetapi Allah mengetahui apa yang ada di dalam dadanya.
Makna yang Lebih Luas: Dari Manusia Pertama Hingga Manusia Terakhir
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa makna al-mustaqdimin (orang-orang terdahulu) dan al-musta’khirin (orang-orang terkemudian) tidak terbatas pada saf salat saja.
Makna yang lebih luas mencakup:
Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu Allah meliputi seluruh perjalanan sejarah manusia. Allah mengetahui siapa manusia pertama yang hidup di bumi. Allah juga mengetahui siapa manusia terakhir yang akan hidup menjelang kiamat.
Allah mengetahui berapa jumlah seluruh manusia yang pernah hidup. Allah mengetahui kapan seseorang lahir, kapan ia meninggal, dan apa yang telah ia lakukan selama hidupnya.
Tidak ada satu nama pun yang terlupakan oleh Allah.
Kita Mungkin Terlupakan oleh Manusia, Tetapi Tidak oleh Allah. Dalam kehidupan, banyak orang yang namanya hilang ditelan zaman.
Raja-raja besar, ilmuwan, pedagang, petani, buruh, bahkan miliaran manusia yang pernah hidup kini tidak lagi dikenal oleh generasi sesudahnya.
Namun Allah mengingat mereka semua. Tidak ada manusia yang terlalu kecil untuk diketahui Allah.
Bahkan langkah kaki yang pernah diambil, kata-kata yang pernah diucapkan, dan lintasan hati yang pernah terbersit semuanya berada dalam ilmu-Nya.
Inilah yang memberikan ketenangan bagi orang beriman. Sekalipun manusia tidak mengenalnya, Allah mengenalnya dengan sempurna.
Setelah Mengetahui, Allah Akan Mengumpulkan Semuanya
Menariknya, setelah Allah menjelaskan bahwa Dia mengetahui seluruh manusia yang terdahulu dan yang terkemudian, ayat berikutnya langsung menegaskan:
“Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang akan mengumpulkan mereka.”
Seakan-akan Allah berfirman: “Aku mengetahui mereka semua, dan Aku pula yang akan mengumpulkan mereka kembali.”
Tidak ada seorang pun yang akan tertinggal pada hari kebangkitan.
Nabi, raja, ulama, orang kaya, orang miskin, manusia pertama hingga manusia terakhir, semuanya akan dikumpulkan dalam satu hari yang agung untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatannya.
Karena Allah mengetahui seluruh amal manusia secara sempurna, maka pengadilan-Nya kelak juga akan berlangsung dengan keadilan yang sempurna.
Tidak ada amal yang hilang. Tidak ada kebaikan yang terlupakan. Tidak ada kezaliman yang tidak diperhitungkan.
Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui
Ayat ini ditutup dengan dua nama Allah yang sangat indah: “Sungguh, Dia Maha Bijaksana, Maha Mengetahui.”
Allah adalah Al-’Alim, Yang Maha Mengetahui segala sesuatu tanpa batas.
Dan Allah adalah Al-Hakim, Yang Maha Bijaksana dalam setiap keputusan-Nya.
Karena itu, ketika Allah memberikan balasan pada hari kiamat, balasan tersebut bukanlah keputusan yang sembarangan, melainkan keputusan yang lahir dari ilmu yang sempurna dan hikmah yang sempurna.
Tidak ada yang dizalimi. Tidak ada yang dirugikan. Setiap manusia akan menerima hasil dari apa yang telah diusahakannya.
Renungan QS. Al-Hijr ayat 24–25 mengingatkan kita bahwa hidup ini tidak pernah berada di luar pengawasan Allah. Dia mengetahui masa lalu kita, keadaan kita saat ini, dan masa depan yang belum kita ketahui.
Dia mengetahui niat yang tersembunyi di dalam hati, mengetahui amal yang dilakukan secara terang-terangan maupun diam-diam, mengetahui manusia pertama hingga manusia terakhir.
Dan suatu hari nanti, seluruh manusia yang pernah hidup akan dikumpulkan di hadapan-Nya.
Karena itu, yang terpenting bukanlah seberapa terkenal kita di mata manusia, tetapi bagaimana keadaan kita di hadapan Allah yang mengetahui segala sesuatu.
Tidak ada amal yang hilang dari pengetahuan Allah, dan tidak ada manusia yang luput dari panggilan-Nya ketika hari kebangkitan tiba.
“Ya Allah, Engkau mengetahui seluruh perjalanan manusia dari generasi yang telah berlalu hingga yang akan datang. Jangan jadikan kami termasuk orang yang lalai dari persiapan menuju perjumpaan dengan-Mu. Anugerahkan kepada kami husnul khatimah dan kumpulkan kami bersama hamba-hamba-Mu yang saleh di akhirat kelak. Aamiin.”
Doa memohon dikumpulkan bersama orang saleh
اللَّهُمَّ احْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ الصَّالِحِينَ، وَاجْمَعْنَا مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ
“Allahumma hsyurna fi zumratis shalihin, wajma’na ma’an nabiyyina wash shiddiqina wasy syuhada’i wash shalihin.”
“Ya Allah, kumpulkanlah kami dalam golongan orang-orang saleh dan himpunkanlah kami bersama para nabi, orang-orang yang benar, para syuhada, dan orang-orang saleh.”