Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لِيَكْفُرُوْا بِمَاۤ اٰتَيْنٰهُمْ ۗ فَتَمَتَّعُوْا ۗ فَسَوْفَ تَعْلَمُوْنَ
“Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka; bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui (akibatnya).” (QS. An-Nahl 16: Ayat 55)
Ketika Nikmat Membuat Kita Lupa kepada Allah
Ayat ini terasa seperti sebuah peringatan yang sangat halus, tetapi sebenarnya sangat tegas.
Manusia sering memiliki pola yang sama. Ketika kesulitan datang, kita segera mencari Allah. Ketika sakit, kita berdoa. Ketika usaha mengalami masalah, kita memohon pertolongan-Nya. Ketika hati tertekan, kita mengangkat tangan dan berkata, “Ya Allah, tolonglah saya.”
Tetapi ketika pertolongan itu datang, masalah selesai, kesehatan kembali, rezeki bertambah, usaha lancar, keluarga baik-baik saja—apakah Allah masih menjadi tempat kita bergantung?
Di sinilah ujian yang sesungguhnya. Karena ternyata manusia bukan hanya diuji dengan kesengsaraan, tetapi juga diuji dengan kesenangan.
Kesengsaraan menguji kesabaran kita. Kesenangan menguji rasa syukur kita. Yang lebih berbahaya, kesenangan kadang membuat manusia merasa bahwa semua keberhasilan adalah hasil kemampuan dirinya sendiri.
“Saya berhasil karena kerja keras saya.”
“Saya sehat karena saya menjaga diri.”
“Saya kaya karena saya pintar mengelola usaha.”
Allah.
Karena itu, syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah. Syukur adalah menyadari dari mana nikmat itu berasal dan menggunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.
An-Nahl 55 kemudian memberikan gambaran tentang orang yang memilih mengingkari nikmat: “Bersenang-senanglah kamu. Kelak kamu akan mengetahui.”
Kalimat ini bukan izin untuk berbuat sesuka hati. Ini adalah peringatan tentang akibat dari sikap manusia yang terus menikmati nikmat tetapi melupakan Pemberi nikmat.
Maka pertanyaan penting bagi kita bukan hanya: “Apa yang sudah Allah berikan kepada saya?”
Tetapi juga: “Setelah Allah memberikan semua itu, apa yang sudah saya lakukan untuk-Nya?”
Jangan sampai kita baru merasa membutuhkan Allah ketika sedang susah, tetapi melupakan-Nya ketika hidup sedang senang.
Sebab nikmat bukan hanya sesuatu yang harus dinikmati, tetapi juga amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.
Dan pesan ayat ini seakan mengajak kita berhenti sejenak: Jangan hanya bertanya, “Apa yang telah Allah berikan kepadaku?” Tetapi tanyakan juga, “Untuk apa Allah memberikan semua itu kepadaku?”
Itulah awal dari syukur yang sebenarnya.
Doa memohon agar Allah menjadikan kita hamba yang pandai bersyukur dan tidak mengingkari nikmat.
اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Allahumma a‘innī ‘alā dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibādatik.
“Ya Allah, bantulah aku untuk senantiasa mengingat-Mu, mensyukuri nikmat-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.”