Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ اِذَا كَشَفَ الضُّرَّ عَنْكُمْ اِذَا فَرِ يْقٌ مِّنْكُمْ بِرَبِّهِمْ يُشْرِكُوْنَ ۙ
“Kemudian apabila Dia telah menghilangkan bencana dari kamu, malah sebagian kamu menyekutukan Tuhan dengan (yang lain),” (QS. An-Nahl Ayat 54)
Saat Bencana Meminta Pertolongan Allah, Saat Bencana Dicabut Kembali Melupakan-Nya
QS. An-Nahl 54 mengingatkan kita tentang satu kelemahan manusia yang sering terjadi: ketika terdesak, kita sangat dekat kepada Allah; ketika keadaan membaik, kita kembali lalai.
Ada manusia yang ketika hidupnya tenang, sehat, rezekinya cukup, keluarganya baik-baik saja, hampir tidak pernah merasa membutuhkan Allah.
Tetapi ketika kesukaran datang, usaha jatuh, penyakit menyerang, keluarga bermasalah, kehilangan pekerjaan, menghadapi utang, atau berada dalam keadaan yang tidak mampu lagi ia kendalikan, tiba-tiba tangannya terangkat.
“Ya Allah, tolonglah saya.”
Saat itu Allah menjadi tempat bergantung. Doa menjadi lebih khusyuk. Salat terasa lebih penting. Hati lebih sering menyebut nama Allah.
Namun, ada sebuah pertanyaan besar setelah pertolongan itu datang:
Apa yang terjadi setelah kesukaran dicabut?
QS. An-Nahl ayat 54 mengingatkan bahwa sebagian manusia justru kembali kepada kesyirikan dan melupakan Allah. Seakan-akan pertolongan Allah hanya diperlukan ketika sedang terdesak.
Fenomena seperti ini sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Ketika sakit, kita mencari Allah. Ketika sembuh, kita sibuk kembali dengan dunia.
Ketika usaha bangkrut, kita menangis dalam doa. Ketika usaha kembali maju, Allah mulai dilupakan. Ketika menghadapi masalah keluarga, kita memohon pertolongan Allah.
Ketika masalah selesai, kita kembali merasa bahwa semuanya adalah hasil kemampuan kita sendiri.
Padahal yang mencabut kesukaran adalah Allah.
Maka ayat ini bukan hanya berbicara tentang orang lain. Ia adalah cermin untuk diri kita sendiri.
Jangan sampai kita hanya menjadi “hamba ketika membutuhkan”, tetapi lupa menjadi “hamba ketika mendapatkan.”
Sebab, orang yang benar-benar mengenal Allah bukan hanya mengingat-Nya ketika sedang jatuh, tetapi juga mengingat-Nya ketika sedang berada di atas.
Kesukaran seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah. Dan ketika kesukaran itu dicabut, kedekatan itu seharusnya tidak ikut tercabut.
Itulah mungkin salah satu bentuk syukur yang paling nyata:
Ketika Allah menghilangkan kesukaran kita, jangan sampai kita justru menghilangkan Allah dari kehidupan kita.
Dan inilah pelajaran penting An-Nahl 54 untuk kehidupan kita hari ini: jangan hanya mencari Allah ketika membutuhkan pertolongan-Nya; jadikan Allah sebagai tempat bergantung dalam keadaan susah maupun senang.
َسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ، نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Hasbunallāhu wa ni‘mal-wakīl, ni‘mal-maulā wa ni‘man-nashīr.
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami, dan Dia sebaik-baik pelindung. Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
“Ya Allah, jangan jadikan kami hamba yang hanya mengingat-Mu ketika dalam kesulitan. Ajarkan kami untuk tetap dekat kepada-Mu ketika lapang maupun sempit, ketika mendapat nikmat maupun ketika mendapat ujian”