Ketika Kebenaran Disebut Dongeng

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ ذَا  قِيْلَ  لَهُمْ  مَّا ذَاۤ  اَنْزَلَ  رَبُّكُمْ ۙ قَا لُـوْۤا  اَسَا طِيْرُ  الْاَ وَّلِيْنَ ۙ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu? Mereka menjawab, Dongeng-dongeng orang dahulu,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 24)

Ketika Kebenaran Disebut Dongeng

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa kesombongan mereka terbukti dengan penolakan mereka terhadap Al-Qur’an. Dan hal ini terbukti apabila dikatakan kepada mereka oleh Nabi Muhammad atau siapa pun, “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu yang telah menganugerahkan nikmat dan kebaikan-Nya untuk kemaslahatan kamu?” Dengan penuh kesombongan dan keangkuhan mereka menjawab, “Allah tidak menurunkan apa pun. Apa yang disampaikan oleh Muhammad hanyalah dongeng-dongeng orang dahulu.”

Mereka mengatakan Al-Qur’an hanyalah أساطير الأولين (asāṭīr al-awwalīn)—“dongeng-dongeng orang dahulu”,

“Kalau itu hanya dongeng yang diambil dari cerita orang-orang terdahulu, bagaimana Nabi Muhammad SAW dapat menyampaikan kisah para nabi yang memiliki kesamaan dengan kisah dalam Taurat dan Injil, sementara beliau bukan seorang yang belajar kitab-kitab tersebut?”

Dalam perspektif Islam, jawabannya bukan bahwa Nabi Muhammad SAW mempelajari Taurat dan Injil, tetapi bahwa sumber wahyu para nabi adalah Allah yang sama.

Allah menegaskan:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ

“Dia menurunkan Kitab kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya…” (QS. Ali ’Imran: 3)

Jadi adanya kisah yang sama bukan sesuatu yang aneh dalam Islam. Nabi Muhammad SAW datang sebagai penerus risalah tauhid, bukan sebagai pembawa agama yang sama sekali terputus dari nabi-nabi sebelumnya.

Al-Qur’an tidak hanya mengulang kisah-kisah sebelumnya. Ia juga memberikan penjelasan dan koreksi terhadap pemahaman yang dianggap keliru.

Misalnya tentang Nabi Isa عليه السلام. Al-Qur’an mengakui Maryam dan mukjizat Isa, tetapi menegaskan bahwa Isa adalah rasul Allah, bukan Tuhan.

Dengan demikian, hubungan Al-Qur’an dengan kitab-kitab sebelumnya dalam perspektif Islam dapat digambarkan: TAURAT → ZABUR → INJIL → AL-QUR’AN

Bukan berarti semua teks yang sekarang beredar identik dengan wahyu aslinya, tetapi wahyu-wahyu tersebut berasal dari Allah dan membawa inti yang sama: tauhid dan ketaatan kepada-Nya.

Dan ini membuat An-Nahl 24 semakin dalam. Perhatikan jawaban mereka:

“أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ”
“Dongeng-dongeng orang dahulu.”

Mereka tidak menjawab isi wahyu dengan argumentasi, tetapi memberikan label untuk menolaknya.

Padahal beberapa ayat kemudian Allah menjelaskan akibat dari sikap tersebut:

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ…

“Agar mereka memikul dosa-dosa mereka dengan sempurna pada hari Kiamat…” (QS. An-Nahl: 25)

Jadi rangkaian An-Nahl 23–25 sangat kuat:

  • 23 — Allah mengetahui kesombongan mereka.
  • 24 — Ketika ditanya tentang wahyu, mereka menyebutnya dongeng.
  • 25 — Penolakan itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

“Jika Al-Qur’an hanyalah dongeng orang dahulu, mengapa kisah para nabi yang disampaikan Muhammad SAW memiliki kesinambungan dengan wahyu sebelumnya, sementara beliau tidak dikenal sebagai orang yang belajar kitab-kitab tersebut?”

Nabi Muhammad SAW tidak dikenal sebagai orang yang belajar kitab-kitab sebelumnya. Al-Qur’an sendiri menyebut beliau sebagai النَّبِيَّ الْأُمِّيَّ — an-nabiyy al-ummiyy, yang secara umum dipahami sebagai nabi yang ummi/tidak membaca-menulis dalam pengertian yang berlaku pada beliau.

Allah berfirman:

وَمَا كُنْتَ تَتْلُوْا مِنْ قَبْلِهٖ مِنْ كِتٰبٍ وَّلَا تَخُطُّهٗ بِيَمِيْنِكَ

“Engkau tidak pernah membaca suatu kitab pun sebelumnya dan tidak pula menulisnya dengan tangan kananmu…” (QS. Al-’Ankabut: 48)

Ayat ini sangat kuat untuk direnungkan: bagaimana mungkin beliau dianggap menyalin atau mempelajari kitab-kitab terdahulu, sementara beliau tidak memiliki kebiasaan membaca kitab tersebut?

Al-Qur’an memang menceritakan kisah yang juga ada dalam Taurat dan Injil. Contohnya:

  • Adam dan Iblis
  • Nuh
  • Ibrahim
  • Luth
  • Musa
  • Yusuf
  • Dawud
  • Sulaiman
  • Maryam
  • Isa

Ini bukan kebetulan. Dalam perspektif Islam, sumber asli kisah-kisah tersebut memang satu: wahyu Allah. Allah berfirman:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

“Dia menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya, membenarkan kitab-kitab sebelumnya; dan Dia telah menurunkan Taurat dan Injil.” (QS. Ali ’Imran: 3)

Jadi, kesamaan cerita bukan berarti Al-Qur’an menyalin Taurat dan Injil. Dalam pandangan Al-Qur’an, kesamaan itu karena semuanya berasal dari Allah pada asalnya.

Kemudian tutup dengan: “Bagi orang yang mencari kebenaran, kesamaan risalah para nabi adalah tanda bahwa sumbernya satu. Tetapi bagi orang yang sombong, wahyu pun cukup diberi label: ‘dongeng orang dahulu’.”

Dan ini tepat sekali dengan ujung An-Nahl ayat 23: innahu lā yuḥibbul-mustakbirīn — “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.”

An-Nahl 24, mengingatkan kita tentang bahaya menolak kebenaran karena kesombongan, memohon agar setelah mendapat petunjuk, hati kita jangan sampai menyimpang dan menolak kebenaran.

Jangan sampai Al-Qur’an yang diturunkan untuk menjadi petunjuk bagi kita, justru kita perlakukan seperti mereka: kita dengar, tetapi kita tolak; kita baca, tetapi tidak kita ikuti; kita tahu kebenarannya, tetapi kesombongan membuat kita enggan tunduk kepadanya.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Rabbanā lā tuzig qulūbanā ba‘da iż hadaitanā wa hab lanā mil ladunka raḥmah, innaka antal-Wahhāb.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau memberikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.”(QS. Ali ‘Imran: 8)