Allah Tidak Menyukai Orang yang Sombong

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا  جَرَمَ  اَنَّ  اللّٰهَ  يَعْلَمُ  مَا  يُسِرُّوْنَ  وَمَا  يُعْلِنُوْنَ ۗ اِنَّهٗ  لَا  يُحِبُّ  الْمُسْتَكْبِرِ يْنَ

“Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 23)

Allah tidak menyukai orang yang sombong

An Nahl 23 ini menggunakan kata الْمُسْتَكْبِرِيْنَ (al-mustakbirīn), yaitu orang-orang yang membesarkan diri, merasa dirinya lebih tinggi, dan menolak kebenaran karena kesombongannya.
Kriteria orang sombong dan rujukannya

1. Menolak kebenaran (QS Al-Baqarah: 34; QS Ghafir: 56).

Kebenaran datang, tetapi sulit diterima karena merasa dirinya lebih benar. Iblis menjadi contoh paling jelas.

2. Merasa diri lebih tinggi daripada orang lain (QS Al-A’raf: 13; QS Al-Qashash: 83)

Menganggap dirinya mempunyai kedudukan yang membuatnya pantas merendahkan orang lain.

3. Membantah ayat-ayat Allah dengan kesombongan (QS Ghafir: 35)

Bukan karena tidak ada bukti, tetapi hati sudah menolak sebelum mau menerima kebenaran.

4. Merendahkan manusia (QS Al-Hujurat: 11)

Mengolok-olok, mencela, memberi gelar buruk, atau merasa kelompoknya lebih baik daripada orang lain.

5. Berjalan atau bersikap dengan keangkuhan (QS Al-Isra: 37; QS Luqman: 18)

Menampakkan superioritas dalam gaya hidup, ucapan, sikap, atau perlakuan kepada orang lain.

6. Membanggakan nikmat dan merasa itu semata-mata karena dirinya (QS Al-Qashash: 78)

Qarun berkata bahwa kekayaan yang dimilikinya diperoleh karena ilmu/kemampuannya sendiri.

7. Tidak mau menerima nasihat (QS Al-Baqarah: 206)

Ketika dinasihati agar bertakwa, justru kesombongannya mendorongnya berbuat dosa.

8. Suka dipuji dan ingin mendapatkan posisi terhormat (QS Ali ’Imran: 188)

Senang dipuji atas sesuatu yang tidak dikerjakannya dan ingin selalu dianggap baik/unggul.

9. Merasa lebih baik karena harta, kedudukan, ilmu, atau kekuasaan (QS Al-Kahf: 34–35)

Kekayaan atau keberhasilan berubah menjadi alasan untuk memandang rendah orang lain.

10. Menolak kebenaran karena mengikuti hawa nafsu (QS Al-Jatsiyah: 23).

Tetapi ada satu definisi yang sangat penting. Rasulullah ﷺ memberikan definisi kesombongan yang sangat ringkas: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”
(HR. Muslim)

Jadi, orang kaya belum tentu sombong, orang berilmu belum tentu sombong, dan orang berpangkat belum tentu sombong.

Sebaliknya, seseorang bisa saja sederhana secara ekonomi tetapi sombong, apabila ia menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Kalau dikaitkan dengan QS An-Nahl: 23

Ayat 23 menjadi semakin menarik karena sebelumnya Allah mengatakan:

QS An-Nahl: 22 “Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa…”

Lalu ayat 23: “Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong.”

Seolah-olah ada hubungan yang sangat dalam: Allah Maha Besar → manusia adalah makhluk → maka tidak pantas manusia membesarkan dirinya di hadapan Allah.

Kesombongan pada akhirnya bukan sekadar masalah “gaya bicara” atau “sikap kepada manusia”, tetapi masalah posisi hati di hadapan Allah.

“Kalau Allah tidak menyukai orang yang sombong, jangan-jangan kesombongan bukan hanya ketika kita merendahkan orang lain, tetapi juga ketika kita merasa tidak membutuhkan Allah?”

“Apa yang sebenarnya kita miliki sehingga kita berani merasa lebih tinggi daripada orang lain, padahal semua yang kita miliki adalah pemberian Allah?”

Dan ini sangat indah bila dilanjutkan ke QS An-Nahl: 18: nikmat Allah tidak akan mampu kita hitung. Semakin banyak nikmat yang kita sadari berasal dari Allah, seharusnya tidak ada muncul sedikitpun kesombongan.

Doa memohon agar hati dijauhkan dari dua ciri kesombongan yang disebutkan Rasulullah SAW menolak kebenaran dan meremehkan manusia.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْعُجْبِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ رَدِّ الْحَقِّ وَاحْتِقَارِ النَّاسِ، وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الْمُتَوَاضِعِينَ.

Allahumma innī a‘ūdzu bika minal-kibri wal-‘ujb, wa a‘ūdzu bika min raddil-haqqi wahtiqārin-nās, waj‘alnī min ‘ibādikal-mutawādhi‘īn.

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesombongan dan ujub. Aku berlindung kepada-Mu dari menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang rendah hati.”