Jangan Menjadi Jalan Orang Lain Menuju Dosa

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لِيَحْمِلُوْۤا  اَوْزَا رَهُمْ  كَا مِلَةً  يَّوْمَ  الْقِيٰمَةِ ۙ وَمِنْ  اَوْزَا رِ  الَّذِيْنَ  يُضِلُّوْنَهُمْ  بِغَيْرِ  عِلْمٍ ۗ اَ لَا  سَآءَ  مَا  يَزِرُوْنَ

“(ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari Kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya (dosa) yang mereka pikul itu.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 25).

Jangan Menjadi Jalan Orang Lain Menuju Dosa

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa pengingkaran mereka terhadap Al-Qur’an menyebabkan mereka sesat dan kafir, sehingga pada hari Kiamat mereka akan memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna tanpa dikurangi, diampuni, maupun diringankan sedikit pun, dan mereka bahkan memikul sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun bahwa mereka telah disesatkan. Ingatlah, alangkah buruknya dosa yang mereka pikul itu karena tidak akan ada pengurangan dan pengampunan atasnya.

An-Nahl 25, Allah menggambarkan orang-orang yang menyesatkan orang lain bahwa mereka akan memikul dosa mereka sendiri secara sempurna, sekaligus memikul sebagian dosa orang-orang yang mereka sesatkan, tanpa mengurangi dosa orang yang disesatkan.

Jadi pesan tadabburnya bisa dirumuskan:

“Jangan hanya takut pada dosa diri sendiri, tetapi takutlah menjadi penyebab orang lain berbuat dosa. Sebab menyesatkan orang lain membuat kita ikut menanggung dosa mereka.”

Ini sangat menarik jika disambungkan dengan ayat 24:

  • An-Nahl 24: Kebenaran disebut sebagai dongeng orang-orang terdahulu.
  • An-Nahl 25: Mereka bukan hanya menolak kebenaran, tetapi menyesatkan orang lain dari jalan Allah.
  • Maka bahayanya bukan lagi sekadar “saya salah”, tetapi “saya membuat orang lain ikut salah.”

“Ayat ini tidak berarti dosa orang yang disesatkan otomatis berpindah kepada penyesat. Orang yang melakukan dosa tetap menanggung dosanya sendiri. Penyesat mendapatkan tambahan dosa karena perannya dalam menyesatkan.”

Hal ini juga sejalan dengan prinsip dalam hadis Nabi SAW bahwa orang yang mengajak kepada kesesatan akan mendapatkan dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun (HR. Muslim).

Dan pesan moralnya:

Dosa menjadi lebih berat ketika kita tidak hanya melakukan keburukan, tetapi membuat keburukan itu diikuti oleh orang lain. Karena itu, jangan menjadi sumber kesesatan, jangan mengajak kepada keburukan, dan jangan membuat orang lain jauh dari jalan Allah.

Jangan Menjadi Jalan Orang Lain Menuju Dosa

1. Mengajak teman bergosip dan membuka aib orang lain

Kita memulai, teman ikut membicarakan, maka kita menjadi pintu terjadinya dosa tersebut.

2. Mengajari atau mendorong teman menipu

  • Misalnya berkata, “Tenang saja, manipulasi sedikit data, tidak akan ketahuan.”
  • Kita bukan hanya melakukan kesalahan, tetapi mengajak orang lain melakukannya.

3. Menyebarkan fitnah atau berita bohong

Apalagi dengan sengaja agar orang lain membenci seseorang. Orang yang ikut menyebarkan karena provokasi kita menjadi bagian dari rantai keburukan.

4. Mengajak teman melakukan bullying

  • “Ayo kita kerjai dia, biar kapok.”
  • Kita menjadi pemicu orang lain menyakiti dan merendahkan sesamanya.

5. Mengajak teman meninggalkan kewajiban agama

  • Misalnya mengejek orang yang ingin salat: “Sudahlah, nanti saja. Nongkrong dulu.”
  • Jika ajakan itu menyebabkan orang lain meninggalkan kewajibannya, ada tanggung jawab moral dan dosa atas ajakan tersebut.

6. Membuat dan menyebarkan konten maksiat untuk ditiru

Seseorang sengaja membuat konten yang mengajak kepada perilaku buruk, kemudian orang lain mengikuti.

7. Mengajari anak atau bawahan melakukan kecurangan

Misalnya mengajarkan cara memanipulasi laporan, menyuap, atau mengambil sesuatu yang bukan haknya.

8. Menjadi influencer keburukan

  • Seseorang melakukan sesuatu yang salah, kemudian justru mengatakan, “Ikuti saya, ini keren!”
  • Semakin banyak orang mengikuti, semakin luas pula dampak keburukannya.

Prinsip sederhananya:

Melakukan dosa → dosa pribadi.
Mengajak orang lain melakukan dosa → dosa pribadi + dosa karena menjadi penyebab orang lain berbuat dosa.

“Jangan sampai ketika kita meninggalkan dunia, dosa kita masih terus berjalan melalui orang-orang yang pernah kita ajak kepada keburukan.”

Sebaliknya, jika kita mengajak kepada kebaikan, kita juga mendapatkan pahala atas kebaikan orang yang mengikuti ajakan tersebut. Jadi, pengaruh kita bisa menjadi warisan pahala atau warisan dosa.

Ada amal jariyah ada dosa jariyah…

Dosa yang terus mengalir karena seseorang menjadi penyebab orang lain melakukan keburukan

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَكُونَ سَبَبًا فِي ضَلَالِ أَحَدٍ، أَوْ أَنْ أَحْمِلَ وِزْرًا بِسَبَبِ مَنْ أَضْلَلْتُهُ، وَاجْعَلْنِي سَبَبًا فِي الْخَيْرِ وَالْهِدَايَةِ، وَاجْعَلْ لِي أَجْرًا جَارِيًا لَا وَزْرًا جَارِيًا.

Allahumma innī a‘ūdzu bika an akūna sababan fī ḍalāli aḥadin, aw an aḥmila wizran bisababi man aḍlaltuhu, waj‘alnī sababan fil-khairi wal-hidāyah, waj‘al lī ajran jāriyan lā wizran jāriyan.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menjadi penyebab kesesatan seseorang, atau memikul dosa karena orang yang aku sesatkan. Jadikanlah aku sebab bagi lahirnya kebaikan dan petunjuk, dan jadikanlah bagiku pahala yang terus mengalir, bukan dosa yang terus mengalir”

Aamiin Yaarabbal Aa’lamiin