Kesombongan Telah Mengeluarkan Iblis dari Tempat yang Mulia

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ  فَا خْرُجْ  مِنْهَا  فَاِ نَّكَ  رَجِيْمٌ ۙ

“Dia (Allah) berfirman, (Kalau begitu) keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk,” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 34).

Kesombongan Telah Mengeluarkan Iblis dari Tempat yang Mulia

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI: Mendengar jawaban Iblis yang bernada angkuh, Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu keluarlah dari surga, wahai Iblis, karena sesungguhnya kamu terkutuk. Engkau tidak pantas menerima rahmat-Ku, apalagi tinggal di surga-Ku. Dan sesungguhnya kutukan itu, yakni keterjauhan engkau dari rahmat-Ku, tetap menimpamu di dunia sampai hari Kiamat.”

Nama “Iblis” bukanlah nama yang diberikan setelah ia durhaka. Dalam Al-Qur’an, ketika menceritakan peristiwa sebelum pembangkangan pun Allah sudah menyebutnya sebagai Iblis.

فَسَجَدَ الْمَلَائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ ۝ إِلَّا إِبْلِيسَ

“Lalu para malaikat semuanya bersujud, kecuali Iblis.”

Semua Taat, Kecuali Iblis” (Al-Hijr: 30–31)

Sebagian riwayat menyebutkan bahwa sebelum durhaka ia memiliki nama lain, seperti Azazil, namun riwayat-riwayat ini berasal dari atsar yang tidak memiliki dasar kuat dari Al-Qur’an maupun hadis sahih. Karena itu, yang paling aman adalah berpegang pada apa yang jelas dalam Al-Qur’an, yaitu bahwa ia disebut Iblis.

Yang pasti, Iblis bukan malaikat. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an bahwa ia berasal dari golongan jin.

Tadabur Al-Hijr Ayat 34

Ayat ini menunjukkan bahwa setelah Iblis menolak perintah Allah karena kesombongannya, Allah berfirman: “Maka keluarlah engkau dari sana, karena sesungguhnya engkau terkutuk.”

Ada beberapa pelajaran penting:

1. Kesombongan dapat menghapus kemuliaan

Sebelum membangkang, Iblis termasuk makhluk yang beribadah dan berada di lingkungan para malaikat. Namun satu kesombongan membuatnya terusir.

Jabatan, ilmu, kedudukan, atau banyaknya amal tidak menjamin keselamatan jika hati dipenuhi kesombongan.

2. Kemuliaan bukan karena asal-usul

Iblis merasa lebih baik karena diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah. Allah menunjukkan bahwa kemuliaan tidak ditentukan oleh asal penciptaan, tetapi oleh ketaatan kepada-Nya.

Karena itu manusia tidak boleh merasa lebih mulia karena suku, jabatan, kekayaan, pendidikan, atau keturunannya.

3. Pembangkangan menjauhkan dari rahmat Allah

Kutukan yang diterima Iblis pada hakikatnya adalah dijauhkan dari rahmat Allah. Ini menunjukkan bahwa kerugian terbesar bukanlah kehilangan harta atau kedudukan, tetapi kehilangan rahmat dan pertolongan Allah.

4. Dosa yang tidak disertai taubat sangat berbahaya

Ketika melakukan kesalahan, Iblis tidak menyesal dan tidak meminta ampun. Sebaliknya, ia membela kesalahannya dan merasa benar.

Seorang mukmin bisa saja berbuat salah, tetapi ia segera kembali kepada Allah dengan taubat. Inilah yang membedakan jalan Adam dan jalan Iblis.

5. Allah Maha Adil

Iblis tidak diusir tanpa alasan. Ia diusir setelah jelas-jelas membangkang terhadap perintah Allah. Ayat ini mengajarkan bahwa hukuman Allah selalu berdasarkan keadilan-Nya

“Kesombongan telah mengeluarkan Iblis dari tempat yang mulia. Karena itu, jangan sampai merasa lebih baik dari orang lain. Kemuliaan di sisi Allah bukan karena siapa kita, tetapi karena seberapa taat kita kepada-Nya.”

Allahumma inni a’udzu bika min al-kibri wal ‘ujbi wal ghurur. Allahumma ja’al qalbi mutawadhi’an laka, wa a’inni ‘ala tha’atika wa husni ’ibadatika.

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesombongan, rasa bangga diri, dan tertipu oleh diri sendiri. Jadikan hatiku rendah hati di hadapan-Mu, serta bantulah aku untuk taat dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada-Mu.” Aamiin.