Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَّاِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ
“dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari Kiamat.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 35).
Kesombongan mengeluarkan Iblis dari kemuliaan dan memasukkannya ke dalam laknat Allah
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI: Allah SWT menjawab keingkaran Iblis dengan memerintahkannya agar keluar dari surga atau dari golongan malaikat. Akibat pengingkaran itu, Iblis telah jauh dari rahmat Allah, dikenai hukuman, dan terus menerus mendapat kutukan-Nya sampai hari pembalasan nanti.
Dalam firman Allah yang lain, diterangkan bahwa Iblis diusir dari surga karena ia menyombongkan diri dan termasuk golongan mahluk yang hina. Allah SWT berfirman: (Allah) berfirman, “Maka turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguh-nya kamu termasuk makhluk yang hina.” (al-A’raf/7: 13)
Setelah mendengar keputusan Allah itu, Iblis menyatakan menerima hukuman itu. Akan tetapi, ia mohon kepada Tuhan agar umurnya dipanjangkan sampai hari ketika manusia dibangkitkan dari kubur. Permohonan Iblis itu dikabulkan Allah dan ia akan hidup terus-menerus sampai akhir zaman hingga tiupan sangkakala yang membangkitkan manusia dari kubur.
Dalam Al-Qur’an, manusia yang berdosa selalu diberi harapan untuk kembali kepada Allah. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.’” (QS. Az-Zumar [39]: 53)
Namun, terhadap Iblis, Allah berfirman:
وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ
“Dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari pembalasan.” (QS. Al-Hijr [15]: 35)
Mengapa berbeda?
1. Iblis tidak sekadar berbuat dosa, tetapi membangkang dengan sombong
Kesalahan pertama Iblis bukanlah sekadar tidak sujud kepada Adam. Yang lebih besar adalah kesombongannya. Ia berkata:
لَمْ أَكُن لِّأَسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
“Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. (QS. Al-Hijr [15]: 33)
Dalam ayat lain ia bahkan berkata:
أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ
“Aku lebih baik daripadanya.” (QS. Al-A’raf [7]: 12; Shad [38]: 76)
Ia merasa dirinya lebih baik daripada Adam. Jadi, masalah utamanya bukan ketidaktahuan atau kelemahan, melainkan kesombongan dan penolakan terhadap perintah Allah.
2. Iblis tidak pernah meminta ampun
Ketika Nabi Adam dan Hawa melakukan kesalahan, keduanya segera bertaubat:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23)
Sebaliknya, Iblis tidak meminta ampun. Setelah diusir, ia justru meminta penangguhan umur:
قَالَ رَبِّ فَأَنظِرْنِي إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ
“Ia (Iblis) berkata, ‘Ya Tuhanku, berilah aku penangguhan sampai hari mereka dibangkitkan.’” (QS. Al-Hijr [15]: 36)
Jadi, bukan karena Allah tidak Maha Pengampun, tetapi karena Iblis tidak memilih jalan taubat.
3. Iblis terus-menerus menetapkan diri sebagai musuh Allah dan manusia
Setelah dikutuk, Iblis berkata:
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
“Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan menjadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya.’” (QS. Al-Hijr [15]: 39)
Dan dalam ayat lain:
لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ
“Aku benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (QS. Al-A’raf [7]: 16)
Ini menunjukkan bahwa Iblis bukan hanya menolak taubat, tetapi juga bertekad mengajak manusia menuju pembangkangan yang sama.
Perbedaan antara Adam dan Iblis bukanlah pada ada atau tidaknya kesalahan, melainkan pada sikap setelah melakukan kesalahan.
Karena itu, manusia tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah (QS. Az-Zumar: 53), sedangkan Iblis mendapat laknat karena memilih kesombongan dan permusuhan terhadap Allah hingga hari kiamat (QS. Al-Hijr: 35).
Ya Allah, jangan biarkan kami berputus asa dari rahmat-Mu sebagaimana Engkau selalu membuka pintu taubat bagi hamba-hamba-Mu. Jauhkan kami dari kesombongan yang telah menjerumuskan Iblis ke dalam laknat-Mu. Hiasilah hati kami dengan kerendahan hati, ketaatan, dan keikhlasan, agar kami senantiasa kembali kepada-Mu dalam setiap keadaan. Aamiin.