Kaum Yahudi dari Dahulu Sombong tidak Percaya Injil dan Quran

Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh.
SUBHANALLAH WALHAMDULILLAH WALAILLAHAILLOH. WALLAHU AKBAR.

Semoga kita selalu sehat dalam lindungan Allah SWT.
Mari saling mendoakan ;

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَ  لَقَدْ  اٰتَيْنَا  مُوْسَى  الْكِتٰبَ  وَقَفَّيْنَا  مِنْۢ  بَعْدِهٖ  بِا لرُّسُلِ   ۖ وَاٰ تَيْنَا  عِيْسَى  ابْنَ  مَرْ يَمَ  الْبَيِّنٰتِ  وَاَ يَّدْنٰهُ  بِرُوْحِ  الْقُدُسِ   ۗ اَفَكُلَّمَا  جَآءَكُمْ  رَسُوْلٌ  بِۢمَا  لَا  تَهْوٰۤى  اَنْفُسُكُمُ  اسْتَكْبَرْتُمْ   ۚ فَفَرِ يْقًا  كَذَّبْتُمْ  وَفَرِ يْقًا  تَقْتُلُوْنَ
“Dan sungguh, Kami telah memberikan Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami susulkan setelahnya dengan rasul-rasul, dan Kami telah memberikan kepada Isa putra Maryam bukti-bukti kebenaran serta Kami memperkuat dia dengan Rohul Qudus (Jibril). Mengapa setiap rasul yang datang kepadamu (membawa) sesuatu (pelajaran) yang tidak kamu inginkan, kamu menyombongkan diri, lalu sebagian kamu dustakan dan sebagian kamu bunuh?”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 87)

Kaum Yahudi dari dahulu sudah sombong dan tidak percaya Injil dan Quran. Dalam Tauratnya sudah disebutkan akan adanya Rassul yang berikutnya, tapi mereka mendustakan dan akan membunuhnya,termasuk Nabi Muhammad SAW.

إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآَيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil. (QS. Ali Imran: 21)

Berapa Jumlah Nabi yang Dibunuh Yahudi?

Ibnul Qoyim menyebutkan,

وأما خلفهم فهم قتلة الانبياء قتلوا زكريا وابنه يحي وخلقا كثيرا من الانبياء حتى قتلوا في يوم سبعين نبيا واقاموا السوق في آخر النهار كأنهم لم يصنعوا شيئا

Sementara generasi yang datang setelah Musa, mereka adalah pembunuh para nabi. Mereka membunuh Zakariya dan putranya nabi Yahya dan banyak nabi-nabi yang lainnya. Hingga dalam waktu sehari mereka membunuh 70 nabi, lalu mereka mengadakan pasar di sore hari, seolah-oleh mereka tidak berbuat kesalahan apapun. (Hidayah al-Hayara, hlm. 19)

Demikian pula Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka berusaha untuk membunuh beliau, namun gagal. Ketika beliau sedang tidur, ada yahudi yang hendak menjatuhkan batu besar ke badan beliau, dilemparkan dari atas rumah.

Termasuk ketika beliau diundang wanita Yahudi Khoibar untuk makan kambing, ternyata sudah dibubuhi racun. Namun beliau muntahkan dan tidak jadi menelannya, karena tulang kambing panggang itu menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia telah dibubuhi racun.

Dalam Sirah Nabawiyah karya Ibn Ishaq diceritakan, Abu Thalib pergi menuju Syam dalam rangka berdagang, dan tatkala telah siap melakukan perjalanan, tiba-tiba ia merasa rindu dengan keponakannya dan ia ingin membawanya ke Syam.

Abu Thalib pun berkata, ”Sungguh aku ingin sekali mengajaknya pergi, ia tidak boleh terpisah dariku, dan aku tidak akan pernah meninggalkannya.” Lalu mereka pergi bersama. Dan tatkala sampai di Bushra, mereka bertemu dengan seorang rahib Nasrani yang sedang berada di kuilnya, ia bernama Buhairi (tapi dalam kitab lain disebutkan bahwa namanya adalah Buhaira).

Sebelumnya, para kafilah dagang kerap bertemu dengannya, namun ia tidak pernah berkata sesuatu yang spesial kepada mereka. Akan tetapi, pada tahun itu, tatkala kafilah Abu Thalib berhenti di dekat kuilnya, sang rahib segera membuatkan banyak makanan untuk mereka. Hal ini dikarenakan ada sesuatu yang ia terawang (lihat) dari dalam kuilnya. Mereka mengatakan, bahwa ia melihat utusan Allah sedang berada diatas tunggangan dan terdapat awan yang terus menaunginya dari panas matahari, padahal ia berada di antara banyak orang.

Kemudian mereka tiba dan turun di dekat sebuah pohon serta melihat ke arah awan yang juga menaungi pohon, bahkan ranting-ranting pohon itu pun condong seolah menunduk pada Rasulullah SAW, hingga ia bisa berteduh di bawahnya. Dan ketika Buhaira melihat fenomena itu, ia pun turun dari kuilnya dan mengutus seseorang untuk menemui mereka.

Ia berkata, ”Aku telah membuatkan untuk kalian makanan dan minuman, wahai orang-orang Quraisy, dan aku sangat suka jika kalian semua bisa hadir dalam jamuan ini, baik yang besar, kecil, atau pun dari kalangan hamba sahaya dan orang-orang merdeka.”

Setelah berbasa-basi, kafilah Abu Thalib akhirnya menerima tawaran itu, dan bersedia menghadiri jamuan makanan dan minuman yang disediakan. Dan ketika Buhaira melihat Muhammad, ia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan rombongan anggota kafilah lainnya. Ia amati tubuhnya dan menemukan sebuah tanda.

Maka, saat semuanya sudah makan, Buhaira berdiri dan berkata, ”Wahai anak kecil (Muhammad), demi Lata dan ‘Uzza aku bertanya kepadamu, dan aku sangat mengharapkan engkau mau menjawab apa yang aku tanyakan.”

Buhaira bertanya dengan menggunakan sumpah itu, karena ia mendengar orang-orang Quraisy suka mengucapkannya. Namun, Muhammad segera menjawab, ”Jangan engkau tanya aku dengan nama Lata dan ‘Uzza. Demi Allah, tidak ada yang aku benci melebihi keduanya.”

Buhaira berkata lagi, ”Kalau begitu, atas nama Allah aku memintamu untuk menjawab pertanyaanku.” Muhammad berkata, ”Katakanlah, apa yang ingin engkau tanyakan.”

Buhaira kemudian bertanya berbagai hal pada Muhammad, mulai dari tidurnya, tentang gayanya, dan tentang perkara-perkara lainnya. Muhamamd pun menjawab semua pertanyaan itu dengan lancar. Maka apa yang kemudian di dengar oleh Buhaira benar-benar sama dengan apa yang ia ketahui selama ini. Kemudian ia melihat punggung Muhammad, dan menemukan ‘cap kenabian’ di antara kedua pundaknya, sesuai dengan tempat yang semestinya, sebagaimana yang ia ketahui. Ibnu Hisyam mengatakan, bahwa tanda itu seperti bekas bekam.

Maka setelah mengetahui tanda-tanda itu, Buhaira lalu menemui Abu Thalib. ”Apa hubunganmu dengan anak kecil itu?” Abu Thalib menjawab bahwa Muhammad adalah anaknya. Buhaira membantahnya, ”Ia bukan anakmu, dan semestinya anak itu tidak memiliki ayah yang masih hidup.” Abu Thalib menjadi, ”Ia keponakanku (anak saudaraku).” Ayahnya telah meninggal ketika ibunya masih mengandung.”

Buhaira berkata, ”Bawalah segera pulang anak itu, dan jagalah ia dari orang-orang Yahudi. Demi Allah, jika mereka melihatnya dan mengetahui anak itu seperti yang aku ketahui, maka mereka akan menyakitinya. Putra saudaramu ini akan mengemban tugas yang sangat agung.” Abu Thalib lalu membawa pulang Muhammad kembali ke Makkah. (Lihat Ibnu Hisyam, al-Sirah al-Nabawiyyah, 1997, 1:219-220).

Doa mohon agar bisa mencintai orang yang mencintai Allah.

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, saya memohon agar dapat mencintaiMu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu dan mencintai amal yang dapat mendekatkan diriku kepada cinta-Mu. (HR. Tirmidzi).