Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَوْ يَأْخُذَهُمْ عَلٰى تَخَوُّفٍ ۗ فَاِ نَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“atau Allah mengazab mereka dengan berangsur-angsur (sampai binasa). Maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl Ayat 47)
Jangan Terlena oleh Kesempatan: Kasih Sayang Allah di Balik Setiap Peringatan
Menurut afsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa Allah memberi peringatan kepada orang-orang musyrik, yang selalu berusaha membuat rencana dan tipu muslihat yang jahat dan menghalangi dakwah Islam, bahwa mereka tidak akan pernah merasa aman dari ancaman-ancaman Allah yang akan ditimpakan kepada mereka. Ancaman-ancaman itu ialah:
Pertama: Allah akan menenggelamkan mereka dari permukaan bumi dan memusnahkan mereka dari alam ini, seperti yang dialami oleh Qarun.
Kedua: Allah akan menurunkan siksa bagi mereka dari langit pada saat yang tidak mereka duga sebelumnya, seperti yang dialami oleh kaum Nabi Lut.
Ketiga: Mereka ditimpa azab pada saat berada dalam perjalanan mencari rezeki atau sibuk dalam berdagang, sehingga mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menolaknya. Artinya, mereka tidak akan dapat lari untuk melindungi dagangan dan jiwa mereka, karena azab itu menyerang dengan tiba-tiba.
Keempat: Mereka akan mengalami siksaan sebagai hukuman setelah mengalami kerugian harta benda dan nyawa, sehingga mereka tidak dapat melepaskan diri dari siksaan itu.
Kemudian Allah swt mengakhiri firman-Nya dengan menyatakan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Hal ini untuk menunjukkan bahwa Allah tidak akan menghukum mereka dengan segera, tetapi mengancam mereka dengan siksaan yang berat. Hal ini untuk memberikan kesempatan berpikir dan waktu kepada mereka untuk mengubah sikap terhadap ajakan rasul. Ini adalah bukti rahmat Allah yang sangat luas bagi para hamba-Nya.
QS. An-Nahl ayat 47 sangat tepat ditadabburi dari sisi kesempatan, peringatan, dan kasih sayang Allah.
1. Allah memberi kesempatan, bukan berarti membiarkan
Allah berkuasa menghukum manusia atas kesalahannya, tetapi Dia memiliki sifat Ra’ūfur-Raḥīm, Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. Penangguhan bukan tanda bahwa kesalahan kita tidak diperhitungkan.
Tadabbur: Ketika Allah masih memberi kita waktu, itu adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, bukan alasan untuk terus menunda.
2. Jangan merasa aman karena azab belum datang
Manusia sering berpikir, “Saya sudah melakukan ini dan itu, tetapi ternyata tidak terjadi apa-apa.” Cara berpikir seperti ini berbahaya. Tidak adanya hukuman segera bukan berarti Allah meridai perbuatan tersebut.
Tadabbur: Jangan mengukur kemurahan Allah dari tidak datangnya teguran. Bisa jadi waktu yang diberikan adalah kesempatan terakhir untuk kembali.
3. Peringatan Allah adalah bentuk kasih sayang
Peringatan melalui Al-Qur’an, nasihat, pengalaman hidup, bahkan kegagalan dan kesulitan dapat menjadi sarana agar manusia tersadar.
Tadabbur: Tidak semua teguran adalah hukuman; sebagian teguran justru merupakan bentuk kasih sayang Allah agar kita tidak semakin jauh.
4. Kesempatan memiliki batas
Kita tidak mengetahui berapa lama kesempatan itu diberikan. Karena itu, taubat dan perbaikan diri jangan menunggu usia tua, sakit, kehilangan, atau musibah.
Tadabbur: Selama masih diberi kesempatan hidup, pintu perbaikan masih terbuka. Jangan menunggu kehilangan kesempatan untuk menyadari nilainya.
5. Usia yang bertambah seharusnya membuat kita semakin dekat kepada Allah
Ini sangat relevan untuk tadabbur pribadi: bertambahnya umur bukan sekadar bertambahnya angka, tetapi berkurangnya kesempatan hidup di dunia dan bertambahnya tanggung jawab untuk mempersiapkan akhirat.
“Jangan salah memahami kesabaran Allah; ketika Allah masih memberi kita waktu, mungkin bukan karena kesalahan kita kecil, tetapi karena kasih sayang-Nya masih memberi kita kesempatan untuk kembali.”
“Jika hari ini Allah masih memberi saya kesempatan, perubahan apa yang seharusnya segera saya lakukan?”
An-Nahl 47 tidak hanya membahas azab, tetapi lebih dalam tentang rahmat Allah yang memberi manusia kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.
Doa memohon keselamatan sekaligus taubat sebelum datang kematian;
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ، وَالتَّوْبَةَ قَبْلَ الْمَوْتِ، وَالرَّحْمَةَ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَالْمَغْفِرَةَ بَعْدَ الْمَوْتِ
Allahumma innā nas’alukas-salāmata wal-‘āfiyah, wat-taubata qablal-maut, war-raḥmata ‘indal-maut, wal-maghfirata ba‘dal-maut.
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu keselamatan dan kesehatan, taubat sebelum kematian, rahmat ketika kematian, dan ampunan setelah kematian.”