Merasa Aman dari Azab Allah: Ketika Kesalehan Belum Menjadi Kejujuran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَفَاَ مِنَ  الَّذِيْنَ  مَكَرُوا  السَّيِّاٰتِ  اَنْ  يَّخْسِفَ  اللّٰهُ  بِهِمُ  الْاَ رْضَ  اَوْ  يَأْتِيَهُمُ  الْعَذَا بُ  مِنْ  حَيْثُ  لَا  يَشْعُرُوْنَ ۙ

“Maka apakah orang yang membuat tipu daya yang jahat itu, merasa aman (dari bencana) dibenamkannya Bumi oleh Allah bersama mereka, atau (terhadap) datangnya siksa kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari,” (QS. An-Nahl Ayat 45)

Merasa Aman dari Azab Allah: Ketika Kesalehan Belum Menjadi Kejujuran

Dalam tafsir ringkas Kementrian Agama RI menjelaskan bahwa Kaum musyrik Mekah menganggap Al-Qur’an tidak lebih dari sekadar sebagai syair yang digubah oleh Nabi Muhammad, maka apakah orang yang membuat tipu daya yang jahat seperti itu dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad dan Al-Qur’an merasa aman dari bencana akibat perbuatan mereka berupa dibenamkannya bumi oleh Allah bersama mereka, sehingga mereka tertimbun hidup-hidup di perut bumi? Ataukah mereka merasa aman dari datangnya siksa secara tiba-tiba kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari pada saat mereka tinggal di rumah?

QS. An-Nahl 46 mengingatkan tentang manusia yang merasa aman dari azab Allah, padahal azab dapat datang “dari arah yang tidak mereka sadari.”

Ayat ini memberikan peringatan moral yang sangat kuat:

Jangan merasa aman ketika melakukan kesalahan hanya karena hukuman belum datang.

Orang dapat merasa aman karena:

  • Korupsi belum terbongkar;
  • Manipulasi belum diketahui;
  • Mengambil hak orang lain belum mendapat hukuman;
  • Jabatan masih aman;
  • Kekayaan terus bertambah;
  • Masyarakat masih menghormatinya;
  • Bahkan mungkin tetap terlihat religius di hadapan manusia.

Padahal, tidak terlihatnya hukuman bukan berarti tidak ada pertanggungjawaban. Di sinilah QS. An-Nahl 46 dapat menjadi cermin bagi kita:

“Jangan tertipu oleh keadaan ketika dosa belum mendatangkan akibat. Allah tidak pernah kehilangan pengetahuan tentang apa yang kita kerjakan.”

Dan ada pelajaran yang lebih dalam. Maraknya korupsi, pejabat yang tidak amanah dan manipulasi bukan semata-mata persoalan hukum; ia juga persoalan amanah dan hati. Seseorang bisa saja rajin beribadah, tetapi ketika kesempatan datang untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya, ia gagal menerjemahkan iman menjadi akhlak.

Karena itu, ayat ini sangat relevan untuk direnungkan oleh pejabat, pengusaha, pendidik, orang tua, bahkan diri kita sendiri:

Seberapa jauh agama sudah masuk ke dalam perilaku kita, bukan hanya ke dalam identitas kita?

QS. An-Nahl 46 bukan hanya bertanya kepada para pendusta kebenaran pada masa lalu. Ayat ini juga bertanya kepada kita hari ini: apakah kita merasa aman karena dosa belum mendatangkan hukuman? Jangan-jangan yang perlu kita takuti bukan hanya azab yang datang dari arah yang tidak kita sadari, tetapi juga hati yang perlahan kehilangan rasa takut kepada Allah.

“Jangan merasa aman hanya karena azab belum datang; tertundanya hukuman bukan berarti Allah membiarkan kesalahan.”

“Jangan menjadikan panjangnya usia, keberhasilan, kekayaan, jabatan, atau tidak adanya musibah sebagai tanda bahwa Allah meridai semua yang kita lakukan.

Doa memohon agar kita tidak tertipu oleh rasa aman, kesenangan dunia, panjang usia, jabatan, atau keberhasilan, serta selalu memiliki rasa takut dan kesadaran bahwa semua akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَغْتَرُّونَ بِطُولِ الْعُمْرِ، وَسَعَةِ الرِّزْقِ، وَالنَّجَاحِ، وَالْمَنْصِبِ، وَالْعَافِيَةِ، فَيَظُنُّونَ أَنَّ ذَلِكَ رِضًا مِنْكَ عَنْهُمْ.

اللَّهُمَّ أَيْقِظْ قُلُوبَنَا قَبْلَ أَنْ نَغْفُلَ، وَرُدَّنَا إِلَيْكَ رَدًّا جَمِيلًا، وَاجْعَلْنَا نَخَافُكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَنَتُوبُ إِلَيْكَ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ أَمْرُكَ مِنْ حَيْثُ لَا نَشْعُرُ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ طُولَ أَعْمَارِنَا فِي طَاعَتِكَ، وَسَعَةَ أَرْزَاقِنَا فِي بَرَكَتِكَ، وَنَجَاحَنَا فِي رِضَاكَ، وَمَنَاصِبَنَا أَمَانَةً، وَعَافِيَتَنَا سَبَبًا لِشُكْرِكَ، وَلَا تَجْعَلْ نِعَمَكَ عَلَيْنَا اسْتِدْرَاجًا.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب

Allahumma lā taj‘alnā mimman yaghtarrūna biṭūlil-‘umri, wa sa‘atir-rizqi, wan-najāḥi, wal-manṣibi, wal-‘āfiyati, fa yaẓunnūna anna dzālika riḍan minka ‘anhum.

Allahumma ayqiẓ qulūbanā qabla an naghfula, wa ruddana ilaika raddan jamīlā, waj‘alnā nakhāfuka fis-sirri wal-‘alāniyah, wa natūbu ilaika qabla an ya’tiya amruka min ḥaitsu lā nasy‘ur.

Allahumma aj‘al ṭūla a‘mārinā fī ṭā‘atik, wa sa‘ata arzāqinā fī barakatik, wa najāḥanā fī riḍāk, wa manāṣibanā amānatan, wa ‘āfiyatanā sababan li syukrik, wa lā taj‘al ni‘amaka ‘alainā istidrājan.

Rabbanā lā tuzigh qulūbanā ba‘da idz hadaitanā wa hab lanā milladunka raḥmah, innaka antal-Wahhāb.

“Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang tertipu oleh panjang usia, luasnya rezeki, keberhasilan, jabatan, dan kesehatan, sehingga kami mengira semua itu merupakan tanda keridaan-Mu kepada kami.

Ya Allah, bangunkan hati kami sebelum kami terlena. Kembalikanlah kami kepada-Mu dengan sebaik-baik kembalinya. Jadikan kami orang yang takut kepada-Mu dalam kesendirian maupun di hadapan manusia, dan bertobat kepada-Mu sebelum ketetapan-Mu datang dari arah yang tidak kami sadari.

Ya Allah, jadikan panjang usia kami untuk taat kepada-Mu, luasnya rezeki kami penuh keberkahan-Mu, keberhasilan kami berada dalam keridaan-Mu, jabatan kami menjadi amanah, dan kesehatan kami menjadi jalan untuk mensyukuri-Mu. Jangan jadikan nikmat-Mu kepada kami sebagai istidraj.

Ya Tuhan kami, jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Pemberi.