Sunnatullah: Semua Makhluk Allah Tunduk pada Ketentuan-Nya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَوَلَمْ  يَرَوْا  اِلٰى  مَا  خَلَقَ  اللّٰهُ  مِنْ  شَيْءٍ  يَّتَفَيَّؤُا  ظِلٰلُهٗ  عَنِ  الْيَمِيْنِ  وَا لشَّمَآئِلِ  سُجَّدًا  لِّـلّٰهِ  وَهُمْ  دٰخِرُوْنَ

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan suatu benda yang diciptakan Allah, bayang-bayangnya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri, dalam keadaan sujud kepada Allah, dan mereka (bersikap) rendah hati.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 48).

Sunnatullah: Semua Makhluk Allah Tunduk pada Ketentuan-Nya

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI dijelaskan bahwa Kemudian Allah SWT menyebutkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berlaku bagi seluruh makhluk-Nya dengan maksud agar orang-orang yang selalu membuat tipu daya yang jahat itu memikirkan segala sesuatu yang telah diciptakan oleh Allah SWT, misalnya bayang-bayang. Pada waktu matahari terbit di ujung timur bayang-bayang dari semua benda memanjang ke arah barat, kemudian apabila matahari meninggi, bayangan itu pun menyusut, dan akhirnya pada saat matahari melintasi meridian, bayangan itu berubah arah.

Ketika matahari mulai menurun, bayangan itu makin lama makin memanjang ke arah timur, sampai pada waktu matahari itu mendekati kaki langit pada ufuk bagian barat, bayangan itu telah memanjang ke timur. Bayang-bayang itu berubah-ubah demikian karena tunduk kepada hukum yang telah ditetapkan Allah. Bayangan itu bukan hanya berubah arah ke barat dan ke timur, tetapi juga ke utara dan ke selatan setiap tahun.

Apabila matahari berada di khatulistiwa persis pada meridian, tidak terdapat bayang-bayang sama sekali. Akan tetapi, untuk hari-hari berikutnya yaitu sesudah tanggal 21 Maret pada saat matahari di meridian, matahari membuat bayangan yang mengarah ke selatan. Kemudian pada tanggal 21 Juni pada saat yang sama yaitu pada saat matahari berada di meridian bayang-bayang setiap benda mengarah ke selatan sepanjang-panjangnya. Seterusnya makin hari makin memendek, hingga tanggal 23 September.

Sejak itu matahari sudah mulai pindah ke arah selatan dan bayang-bayang mulai mengarah ke utara, makin hari makin memanjang hingga pada tanggal 22 Desember, matahari membuat bayang-bayang mengarah ke utara sepanjang-panjangnya. Kemudian pada hari berikutnya matahari mulai bergerak ke utara, bayang-bayang mulai memendek dari hari ke hari. Akhirnya pada tanggal 21 Maret, matahari kembali lagi ke daerah khatulistiwa sehingga pada saat matahari sampai ke meridian, bayang-bayang pada saat itu tidak terlihat sama sekali. Demikianlah untuk seterusnya. Hal itu terjadi karena gerak tahunan matahari itu tunduk kepada tata hukum yang diciptakan oleh Allah dan berlaku untuk setiap makhluk-Nya.

Penjelasan Allah serupa itu ditujukan kepada manusia agar mereka mau meneliti sehingga sampai pada suatu kesimpulan bahwa semua benda di alam ini tidak ada yang menentang hukum Allah melainkan tunduk di bawah kekuasaan- Nya.

Alam seluruhnya tunduk kepada sunnatullah, sementara manusia diberi pilihan untuk tunduk dengan kesadaran dan iman. Bayang-bayang bergerak mengikuti ketetapan-Nya tanpa pernah membangkang. Maka, sudah semestinya kita pun belajar dari bayang-bayang: ke mana pun kehidupan membawa kita, jangan sampai hati menjauh dari Allah.

Alam tidak pernah membangkang terhadap sunnatullah. Matahari terbit dan tenggelam sesuai ketetapan-Nya, bumi berputar dalam keteraturan-Nya, tumbuhan tumbuh mengikuti hukum-Nya, dan seluruh makhluk menjalankan perannya dalam sistem yang telah Allah tetapkan.

Manusia berbeda. Allah memberi manusia akal, kehendak, dan pilihan. Karena itu, manusia dapat memilih: tunduk kepada Allah dengan kesadaran dan iman, atau mengikuti hawa nafsunya.

Maka, kalau seluruh alam tunduk kepada Allah secara fitrah, manusia seharusnya belajar tunduk kepada-Nya dengan kesadaran.

Semoga setiap langkah kita menjadi langkah menuju ketaatan, setiap gerak menjadi amal kebaikan, dan setiap perubahan dalam hidup semakin mendekatkan kita kepada-Nya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُطِيعِينَ لَكَ، الْخَاشِعِينَ لِجَلَالِكَ، الْمُسْتَسْلِمِينَ لِأَمْرِكَ، وَثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى الْإِيمَانِ وَالطَّاعَةِ

Allahumma-j‘alnā minal-muṭī‘īna laka, al-khāsyi‘īna lijalālika, al-mustaslimīna li-amrika, wa tsabbit qulūbanā ‘alal-īmāni waṭ-ṭā‘ah.

“Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang taat kepada-Mu, yang khusyuk mengagungkan-Mu, yang berserah diri kepada perintah-Mu. Teguhkanlah hati kami di atas iman dan ketaatan.”