أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
فَلَعَلَّكَ تَا رِكٌۢ بَعْضَ مَا يُوْحٰۤى اِلَيْكَ وَضَآئِقٌ بِۢهٖ صَدْرُكَ اَنْ يَّقُوْلُوْا لَوْلَاۤ اُنْزِلَ عَلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ جَآءَ مَعَهٗ مَلَكٌ ۗ اِنَّمَاۤ اَنْتَ نَذِيْرٌ ۗ وَا للّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَّكِيْلٌ
“Maka boleh jadi engkau (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu dan dadamu sempit karenanya, karena mereka akan mengatakan, Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta (kekayaan) atau datang bersamanya malaikat? Sungguh, engkau hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah pemelihara segala sesuatu.” ((QS. Hud 11: Ayat 12)
Nabi Muhammad SAW hanya menyampaikan wahyu dan memberi peringatan; Allah yang mengatur segalanya.
Dalam tafsir ringkas Kemenag, Pada ayat ini, Allah menjelaskan sifat buruk manusia, yaitu sombong. Contohnya, orang-orang kafir Mekah menolak Nabi Muhammad dan tidak percaya pada Al-Qur’an.
Sebagian dari mereka mengejek Nabi, bahkan berkata: “Kalau kamu benar utusan Allah, ubahlah gunung-gunung ini jadi emas!”
Yang lain berkata: “Tunjukkan kepada kami malaikat yang membenarkan kenabianmu!”
Mendengar semua ejekan itu, Nabi Muhammad merasa sedih dan tertekan. Tapi Allah menguatkan beliau dan berpesan:
“Janganlah engkau meninggalkan dakwah karena hinaan mereka. Jangan takut kalau mereka bilang, ‘Mengapa Nabi tidak punya harta, kebun, atau malaikat yang membantunya?’”
Allah menegaskan bahwa: Tugas Nabi hanyalah menyampaikan peringatan. Sedangkan Allah-lah yang mengatur dan menjaga segala sesuatu.
Surah Hud ayat 12 menyimpan pesan tadabbur yang sangat dalam, khususnya bagi siapa saja yang berdakwah, menyampaikan kebenaran, atau menghadapi ujian dalam menyuarakan kebaikan.
Berikut beberapa pelajaran tadabbur dari ayat tersebut:
1. Rasul pun bisa merasa sedih dan sempit dada
“Maka boleh jadi kamu (Muhammad) hendak meninggalkan sebagian dari apa yang diwahyukan kepadamu, dan sempit karenanya dadamu…”
Nabi Muhammad SAW pun pernah merasa berat dan sedih saat menghadapi ejekan dan penolakan. Ini menunjukkan bahwa perasaan lelah, sedih, dan ragu adalah manusiawi, bahkan bagi seorang nabi. Tapi yang membedakan adalah bagaimana beliau tetap melanjutkan dakwahnya dengan teguh.
2. Jangan takut pada ejekan orang saat menyampaikan kebenaran
“…karena mereka berkata: ‘Mengapa tidak diturunkan kepadanya harta atau datang malaikat bersamanya?’”
Orang-orang yang menolak kebenaran seringkali mencari-cari alasan untuk tidak percaya, termasuk menuntut hal-hal yang tidak masuk akal. Tapi dakwah bukan tentang memenuhi selera mereka, melainkan menyampaikan kebenaran sebagaimana adanya.
3. Tugasmu hanya menyampaikan, bukan menjamin mereka menerima
“…Kamu hanyalah seorang pemberi peringatan…”
Allah menegaskan bahwa hasil bukan urusan Nabi, tugas beliau hanya menyampaikan. Ini menjadi pelajaran penting:
• Jangan patah semangat bila orang lain menolak kebaikan
• Fokuslah pada usaha, bukan hasil
4. Allah yang memelihara dan mengatur segalanya
“…dan Allah Maha Pemelihara segala sesuatu.”
Allah yang mengatur hati manusia, menentukan siapa yang mendapat hidayah. Maka, kita tidak sendirian dalam menyampaikan kebenaran—ada Allah sebagai penjaga, pelindung, dan pengatur semua urusan.
Tetaplah menyampaikan kebenaran dengan sabar, meski dicemooh, karena tugas kita hanya memberi peringatan, dan Allah yang mengatur hasilnya.
Doa untuk tetap tegar menyampaikan kebenaran, tidak goyah oleh hinaan, dan berserah diri kepada Allah yang mengatur segalanya:
“Ya Allah, kuatkan hatiku dalam menyampaikan kebenaran, lapangkan dadaku, dan lindungi aku dari rasa takut dan putus asa. Engkaulah sebaik-baik Pelindung.”