Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمْ بِا لْاُ نْثٰى ظَلَّ وَجْهُهٗ مُسْوَدًّا وَّهُوَ كَظِيْمٌ ۚ
“Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.” (QS. An-Nahl Ayat 58).
Ketika Anak Perempuan Dianggap Aib: Meluruskan Martabat Perempuan dalam Pandangan Islam
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Selanjutnya Allah SWT mengungkapkan sikap mereka mengenai anak perempuan yaitu apabila mereka diberi kabar bahwa istri mereka melahirkan anak perempuan, muramlah muka mereka karena jengkel dan malu.
Perasaan serupa itu disebabkan oleh perasaan mereka sendiri bahwa anak-anak perempuan itu hanya memberi malu kaumnya, karena anak-anak perempuan itu tidak dapat membantu dalam peperangan, dan apabila mereka kalah perang, anak-anak perempuan menjadi barang rampasan. Sebenarnya mereka dihukum oleh perasaan mereka sendiri karena anggapan bahwa wanita itu martabatnya tiada lebih dari barang yang boleh dipindah-tangankan.
An-Nahl 58 bukan mengajarkan bahwa perempuan lebih hina daripada laki-laki. Ayat ini justru menggambarkan dan mengecam cara pandang jahiliah yang merasa malu ketika mendapat anak perempuan. Pada ayat berikutnya (59), terlihat lebih jelas bahwa mereka menganggap anak perempuan sebagai sesuatu yang memalukan, bahkan ingin menyembunyikannya.
Ayat ini bukan mengatakan perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Sebaliknya, Allah sedang memperlihatkan betapa rusaknya cara berpikir masyarakat jahiliah yang menganggap kelahiran anak perempuan sebagai sesuatu yang memalukan.
Bayangkan: seorang ayah mendapatkan kabar kelahiran anaknya. Seharusnya ia bersyukur karena Allah memberikan kehidupan baru. Tetapi karena yang lahir perempuan, wajahnya berubah, dadanya sesak, bahkan ia merasa malu.
Mengapa?
Karena dalam budaya jahiliah, perempuan sering dipandang sebagai beban, bukan sebagai manusia yang memiliki martabat. Seolah-olah nilai seorang anak ditentukan oleh jenis kelaminnya.
Di sinilah Al-Qur’an melakukan koreksi yang sangat mendasar: Anak perempuan bukan aib. Perempuan bukan barang. Perempuan bukan manusia kelas dua.
Bahkan lebih jauh, manusia tidak memiliki hak untuk menentukan tinggi-rendahnya martabat manusia berdasarkan jenis kelamin, karena laki-laki dan perempuan sama-sama makhluk Allah dan sama-sama memiliki kewajiban mempertanggungjawabkan kehidupannya kepada Allah.
Yang membedakan manusia di hadapan Allah bukan apakah dia laki-laki atau perempuan, tetapi ketakwaannya.
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Tadabbur untuk kehidupan sekarang
Jangan sampai jahiliah hanya kita pahami sebagai masa lalu. Jahiliah juga bisa muncul dalam pola pikir modern ketika:
Islam datang bukan untuk menghinakan perempuan, tetapi mengangkat manusia dari ukuran-ukuran jahiliah menuju ukuran Allah.
Maka pesan An-Nahl 58 sangat kuat:
Jangan malu memiliki anak perempuan. Jangan merendahkan perempuan. Jangan menjadikan jenis kelamin sebagai ukuran kemuliaan.
Yang menentukan kemuliaan manusia bukan jenis kelaminnya, tetapi ketakwaannya; anak perempuan bukan aib, melainkan amanah..
اللَّهُمَّ أَكْرِمْنَا بِتَقْوَاكَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنْ أَفْكَارِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَارْزُقْنَا الْعَدْلَ وَالرَّحْمَةَ فِي مُعَامَلَةِ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ، وَاجْعَلْنَا نَرَى نِعَمَكَ نِعَمًا وَلَا نَرَى مَا أَنْعَمْتَ بِهِ عَلَيْنَا عَيْبًا.
Allahumma akrimnā bitaqwāka, wa thahhir qulūbanā min afkāril-jāhiliyyah, warzuqnā al-‘adla war-rahmata fī mu’āmalatir-rijāli wan-nisā’, waj’alnā narā ni’amaka ni’aman wa lā narā mā an’amta bihi ’alainā ’aiban.
“Ya Allah, muliakanlah kami dengan ketakwaan kepada-Mu. Bersihkan hati kami dari pola pikir jahiliah. Karuniakan kepada kami keadilan dan kasih sayang dalam memperlakukan laki-laki dan perempuan. Jadikan kami mampu melihat nikmat-Mu sebagai nikmat, dan janganlah kami menganggap apa yang Engkau karuniakan kepada kami sebagai suatu aib.”