Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman;
فَاَ خَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَاَ صْبَحُوْا فِيْ دَا رِهِمْ جٰثِمِيْنَ
“Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka,” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 91)
Gempa salah satu azab yang sering ditimpakan kepada umat manusia yang zalim
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Keingkaran kepada Allah serta perbuatan menghalangi orang lain untuk menganut agama Allah adalah kejahatan yang amat besar. Orang-orang semacam itu sudah selayaknya mendapat hukuman yang setimpal. Oleh sebab itu, Allah telah menimpakan kepada mereka azab yang berat berupa gempa dan petir yang dahsyat yang membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di bawah reruntuhan rumah-rumah mereka, seolah-olah mereka tidak pernah ada di negeri itu.
Kisah Nabi Syuaib ini, selain ditemukan dalam surah al-Araf, juga ditemukan dalam surah Hud/11: 94 – 95).
وَلَمَّا جَآءَ اَمْرُنَا نَجَّيْنَا شُعَيْبًا وَّا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ بِرَحْمَةٍ مِّنَّا ۚ وَاَ خَذَتِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوا الصَّيْحَةُ فَاَ صْبَحُوْا فِيْ دِيَا رِهِمْ جٰثِمِيْنَ
“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Sedang orang yang zalim dibinasakan oleh suara yang mengguntur, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya,” (QS. Hud 11: Ayat 94)
كَاَ نْ لَّمْ يَغْنَوْا فِيْهَا ۗ اَ لَا بُعْدًا لِّمَدْيَنَ كَمَا بَعِدَتْ ثَمُوْدُ
“seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, binasalah penduduk Madyan sebagaimana kaum Samud (juga) telah binasa.” (QS. Hud 11: Ayat 95)
Akan tetapi ada perbedaan yang menyebutkan nama azab yang ditimpakan kepada kaumnya yang kafir. Dalam Surah al-Araf ayat 91 disebutkan, bahwa azab tersebut adalah berupa “ar rajfah”, yaitu gempa yang dahsyat. Sedangkan dalam Surah Hud ayat 94 disebutkan, bahwa azab tersebut adalah berupa “Ash shaihatu”, yaitu suara keras yang mengguntur. Namun kedua ayat itu tidaklah berlawanan, karena kedua macam azab ini dapat terjadi dalam satu rentetan dan menimbulkan akibat yang sama, suara kilat yang keras dan gempa telah membinasakan mereka, sehingga mereka mati bergelimpangan di bawah reruntuhan rumah-rumah mereka.
Kisah Nabi Syuaib juga terdapat dalam surah asy-Syuara, di sini disebutkan bahwa Nabi Syuaib diutus Allah kepada penduduk negeri Aikah (asy-Syuara/26: 176). Sedangkan dalam surah al-Araf disebutkan bahwa Nabi Syuaib adalah saudara sebangsa dari kaum Madyan, yaitu penduduk negeri Madyan.
Menurut keterangan Ishak Ibnu Basyar yang dikutip dari Ibnu Asakir, mengatakan bahwa Ibnu Abbas telah memberikan penjelasan sebagai berikut: “Penduduk Aikah adalah orang-orang yang mendiami daerah rawa-rawa yang terletak antara pantai Laut Merah dan negeri Madyan”. Dari keterangan ini dapat dipahami bahwa Nabi Syuaib telah diutus Allah kepada kaumnya yang telah mempunyai hubungan dengan mereka, sampai ke Laut Merah. Kedua kaum mempunyai kesamaan, baik mengenai kekafiran mereka, maupun mengenai berbagai perbuatan maksiat yang mereka lakukan, misalnya ketidakjujuran mereka dalam menimbang dan menakar ketika berjual beli. Nabi Syuaib menyiarkan agama kepada mereka semua.
Azab Allah telah menimpa kedua golongan itu dalam waktu yang sama, atau dalam waktu yang berdekatan jaraknya, maka azab yang ditimpakan kepada penduduk Madyan adalah berupa “Ar rajfah”, yaitu gempa yang amat dahsyat yang disertai suara gemuruh yang amat keras, sedang azab yang ditimpakan kepada penduduk Aikah adalah berwujud angin samum dan udara yang sangat panas, yang berakhir dengan datangnya gumpalan awan. Mereka lalu berkumpul di bawah awan yang menaungi mereka untuk mendapatkan udara yang sejuk, karena mereka menyangka awan itu akan menurunkan hujan akan tetapi gumpalan awan itu ternyata awan panas yang akan ditimpakan kepada mereka sehingga semuanya mati tertimpa awan panas. Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa azab yang ditimpakan kepada kedua golongan itu
sama.
فَكَذَّبُوْهُ فَاَ خَذَهُمْ عَذَا بُ يَوْمِ الظُّلَّةِ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ عَذَا بَ يَوْمٍ عَظِيْمٍ
“Kemudian mereka mendustakannya (Syu’aib), lalu mereka ditimpa azab pada hari yang gelap. Sungguh, itulah azab pada hari yang dahsyat.” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 189)
Penting untuk selalu berusaha menjalani hidup sesuai dengan ajaran agama dan menjauhi perbuatan-perbuatan yang dilarang. Selain itu, berdoa kepada Allah SWT untuk memohon perlindungan dan ampunan juga sangat dianjurkan. Selain doa, sangat penting juga untuk memperbaiki diri, bertaubat, dan melakukan amal baik sebanyak mungkin sebagai upaya untuk mendapat rahmat dan ampunan dari Allah SWT. Doa pada akhir sholat baik untuk didawamkan;
“Allahumma inni a’udhu bika min ‘adzabil qabri wa min ‘adzabi jahannam wa min fitnatil mahya wal mamat wa min fitnatil masihid dajjal.”
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, dari siksa neraka, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari fitnah Al Masih Dajjal.”