Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
اِنْ يَّدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِهٖۤ اِلَّاۤ اِنٰـثًـا ۚ وَاِ نْ يَّدْعُوْنَ اِلَّا شَيْـطٰنًا مَّرِ يْدًا
“Yang mereka sembah selain Allah itu tidak lain hanyalah inasan (berhala), dan mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka,” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 117)
Inasan/berhala yang bisa menjerat manusia kedalam syirik
Di hadapan para sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW tercinta menuturkan dauh nubuwwat, sebuah sabda yang kontennya menjangkau peristiwa yang akan datang.
“Akan datang suatu zaman atas manusia, perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar (uang) mereka menjadi agama mereka. Dan kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka. “
Para sahabat menyimak penuh khidmat. Lanjut Nabi, “Waktu itu, tidak tersisa dari iman kecuali namanya saja. Tidak tersisa dari Islam kecuali ritual-ritualnya saja. Tidak tersisa Alquran kecuali sebatas kajiannya saja. Masjid-masjid mereka makmur, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah- Nya). Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi.”
“Kalau sudah terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka empat perkara (azab). Pertama, kekejaman tak berperi dari para penguasa. Kedua, kekeringan tak terhingga yang sangat lama. Ketiga, beraneka kezaliman para penguasa kepada rakyatnya. Dan keempat, pisau hukum para hakim tumpul, sekarat, dan berkarat.”
Atas tuturan ini, para sahabat pun terheran-heran. Mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah mereka ini para penyembah berhala?” “Ya! Bagi mereka, setiap dirham (uang) menjadi berhala (dipertuhankan/disembah),” pungkas Nabi SAW.
Hadis yang cukup panjang riwayat Bukhari Muslim yang muttafaq alaih ini pun akhirnya menjadi renungan kita semua. Berhala itu bukan lagi patung- patung atau arca. Berhala zaman sekarang itu berupa uang.
Kini, kita lihat bagaimana keadaan kita. Hari-hari kita fokusnya selalu uang. Detik, menit, dan jam dihitungnya dengan standar uang. Berangkat pagi pulang malam, bahkan hingga tidak pulang, yang dicari dan dikejar adalah uang.
Pemimpin dan para pejabatnya berusaha mati- matian untuk mengekalkan zona nyamannya; ternyata pengorbitnya adalah uang. Para hakim kehilangan muruah agungnya.
Hukum dipermainkan atas kepentingan pemilik modal. Jika modal kuat, pisau hukum kelihatan tumpul. Sebaliknya terhadap pihak yang tidak ada modal pisau hukum sangat tajam. Ujung-ujungnya bisa ditebak semua karena uang.
Uang memang bisa membeli rumah, tapi tidak bisa membeli ketenangan. Uang bisa membeli dunia, tapi tidak akan pernah bisa membeli bahagia. Bahagia dan surga hanya bisa dibeli dengan ‘sekadar uang’ yang dikuasakan oleh ketaatan yang sempurna kepada Allah dan rasul-Nya. https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/10/24/ph288j313-berhala-zaman-now
Doa yang diajarkan Rasulullah SAW supaya terhidar dari perbuatan syrik ;
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ
“Allahumma innii a’uudzubika annusyrika bika wa ana a’lam wa astaghfiruka lima laa a’lam”
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang aku sadari. Dan, aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosa yang tidak aku ketahui).