Apakah Menjadikan Al Qur’an itu Sebagai Pegangan Hidup atau Berpaling Darinya?

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
قُلْ  يٰۤاَ يُّهَا  النَّا سُ  قَدْ  جَآءَكُمُ  الْحَـقُّ  مِنْ  رَّبِّكُمْ  ۚ فَمَنِ  اهْتَدٰى  فَاِ نَّمَا  يَهْتَدِيْ  لِنَفْسِهٖ  ۚ وَمَنْ  ضَلَّ  فَاِ نَّمَا  يَضِلُّ  عَلَيْهَا  ۚ وَمَاۤ  اَنَاۡ  عَلَيْكُمْ  بِوَكِيْلٍ
“Katakanlah (Muhammad), Wahai manusia! Telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, sebab itu barang siapa mendapat petunjuk maka sebenarnya (petunjuk itu) untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Dan barang siapa sesat, sesungguhnya kesesatannya itu (mencelakakan) dirinya sendiri. Dan aku bukanlah pemelihara dirimu.” (QS. Yunus 10: Ayat 108)
Apakah menjadikan Al-Quran itu sebagai pegangan hidup atau berpaling darinya
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menyuruh Rasul-Nya untuk mengatakan kepada orang-orang kafir sesudah disampaikan kepada mereka bukti-bukti keesaan Allah dan kerasulannya, bahwa kebenaran dari Allah yakni Al-Qur’an yang mendasari agama Islam, telah datang ke hadapan mereka, diturunkan kepada salah seorang di antara mereka sendiri. Dalam Al-Qur’an itu terdapat penjelasan-penjelasan dan uraian-uraian tentang rasul-rasul zaman dahulu dan dakwah mereka kepada kaumnya.
Namun, kaum musyrikin Arab tidak mengetahui riwayat rasul-rasul itu, atau riwayat itu sudah diubah atau diputarbalikkan. Dalam Al-Qur’an terkandung pedoman-pedoman hidup bagi manusia untuk memperoleh kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan akhirat. Maka barang siapa mengikuti pedoman itu dalam kehidupannya dengan penuh keimanan, manfaatnya akan kembali kepada dirinya sendiri. Dia akan hidup bahagia di dunia dan akhirat. Demikian pula sebaliknya, barang siapa yang sesat, tidak mempergunakan kebenaran itu (Al-Qur’an) sebagai pedoman hidup, dan tidak mengindahkan tanda-tanda kekuasaan Allah pada dirinya dan pada alam semesta ini, maka akibatnya kesengsaraan batin di dunia dan di akhirat.
Nabi Muhammad saw wajib menyampaikan kebenaran itu kepada manusia. Keputusan terakhir berada pada diri manusia itu sendiri, apakah dia menjadikan Al-Quran itu sebagai pegangan hidup atau berpaling darinya. Beliau bukanlah wakil Tuhan di dunia ini untuk menentukan nasib manusia dan tidak kuasa memaksa seseorang memberi manfaat dan mudarat. Dia hanya pesuruh Allah yang menyampaikan perintah dari Tuhan Rabbul alamin.
1. Apa yang Menjadikan Al-Qur’an Sebagai Pegangan Hidup?
a. Sumber Kebenaran dari Allah; Ayat ini menegaskan bahwa al-haqq (kebenaran) telah datang dari Tuhan, yakni Al-Qur’an. Karena berasal dari Allah, maka kebenarannya mutlak dan menjadi pedoman yang lurus dalam segala aspek kehidupan.
b. Petunjuk bagi yang Mau Menerima; Barang siapa mengikuti petunjuk dari Al-Qur’an, maka ia mendapat manfaat untuk dirinya sendiri — baik di dunia (kedamaian, keadilan, akhlak) maupun di akhirat (keselamatan dan surga).
c. Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan; Al-Qur’an membimbing manusia dalam:
  • Aqidah: Memperkenalkan Tuhan yang benar.
  • Ibadah: Cara berhubungan dengan-Nya.
  • Muamalah: Hubungan sosial, ekonomi, politik, dan lainnya.
  • Akhlak: Menjaga hati dan perilaku.
2. Mengapa ada yang Berpaling dari Al-Qur’an?
a. Pilihan Pribadi; Dalam ayat ini, Allah menekankan bahwa siapa yang sesat, itu atas dirinya sendiri. Allah tidak memaksa manusia; petunjuk telah datang, tinggal manusia memilih.
b. Kebebasan dan Tanggung Jawab; Manusia diberi akal dan kehendak bebas. Jika ia memilih berpaling dari kebenaran, maka ia sendiri yang akan menanggung akibatnya, baik berupa kegelisahan di dunia maupun azab di akhirat.
c. Penolakan karena Hawa Nafsu atau Ketidaktahuan
  • Sebagian berpaling karena lebih mengikuti hawa nafsu,
  • atau karena kesombongan,
  • atau tidak tahu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk yang benar.
Surah Yunus: 108 mengajarkan bahwa:
  • Al-Qur’an adalah kebenaran dari Allah dan pegangan hidup bagi siapa saja yang ingin selamat.
  • Allah memberi kebebasan, tetapi juga memperingatkan: siapa yang berpaling, akibatnya akan ia tanggung sendiri.
  • Nabi Muhammad hanya sebagai penyampai, bukan pemaksa atau penjaga, menekankan bahwa tanggung jawab berada di pundak tiap manusia.
Al-Qur’an secara konsisten menekankan bahwa hidup adalah pilihan—antara jalan iman atau kufur, taat atau maksiat, surga atau neraka. Manusia diberi akal, hati, dan kehendak bebas (ikhtiar) untuk memilih jalan hidupnya. Surah Al-Bayyinah menegaskan dua jalan itu: orang-orang yang kufur diancam neraka, dan orang-orang beriman dijanjikan surga.
1. Al-Baqarah: 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”
⟶ Allah tidak memaksa, manusia diberi kebebasan untuk memilih antara rasyad (petunjuk) dan ghayy (kesesatan).
2. Al-Kahfi: 29
وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ
“Dan katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka siapa yang mau, hendaklah ia beriman, dan siapa yang mau, hendaklah ia kafir.”
⟶ Ayat ini secara tegas menunjukkan bahwa iman dan kufur adalah pilihan bebas, meskipun ada konsekuensinya.
3. Asy-Syams: 7–10
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا (7) فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا (8) قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا (10)
“Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
⟶ Jiwa manusia diberi dua potensi: fujur dan taqwa. Pilihannya ada di tangan manusia.
4. Al-Insān: 3
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”
⟶ Allah telah memberikan petunjuk, tetapi manusia tetap bisa memilih antara syukur (taat) atau kufur.
5. An-Naba’: 39
ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَن شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا
“Itulah Hari yang benar (Kiamat), maka siapa yang mau, hendaklah ia mengambil jalan kembali kepada Tuhannya.”
Lagi-lagi ditekankan: manusia diberi kehendak bebas untuk kembali kepada Tuhan atau tidak.
Yunus: 108 sangat kuat menegaskan bahwa hidup adalah pilihan, khususnya pilihan untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup atau berpaling darinya, dengan segala konsekuensinya.
Doa Supaya Al-Qur’an Menjadi Petunjuk Hidup
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ لَنَا فِي الدُّنْيَا قَرِيْنًا، وَفِي الْقَبْرِ مُؤْنِسًا، وَعَلَى الصِّرَاطِ نُورًا، وَفِي الْجَنَّةِ رَفِيْقًا، وَمِنَ النَّارِ سِتْرًا وَحِجَابًا، وَإِلَى الْخَيْرَاتِ كُلِّهَا دَلِيْلًا وَإِمَامًا، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Allāhummajʿalil-Qur’āna lanā fī ad-dunyā qarīnan, wa fī al-qabri mu’nisan, wa ʿala aṣ-ṣirāṭi nūran, wa fī al-jannati rafīqan, wa mina an-nāri sitran wa ḥijāban, wa ilā al-khayrāti kullihā dalīlan wa imāman, yā Arḥama ar-Rāḥimīn.
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai pendamping kami di dunia, penghibur kami di alam kubur, cahaya di atas shirat, teman akrab kami di surga, pelindung dan penghalang kami dari api neraka, serta penunjuk dan pemimpin menuju semua kebaikan. Wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”