Bencana Bisa Pembersih Dosa (Kaffārah)

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَاِ نْ  يَّمْسَسْكَ  اللّٰهُ  بِضُرٍّ  فَلَا  كَا شِفَ  لَهٗۤ  اِلَّا  هُوَ  ۚ وَاِ نْ  يُّرِدْكَ  بِخَيْرٍ  فَلَا  رَآ دَّ  لِفَضْلِهٖ  ۗ يُصِيْبُ  بِهٖ  مَنْ  يَّشَآءُ  مِنْ  عِبَا دِهٖ  ۗ وَهُوَ  الْغَفُوْرُ  الرَّحِيْمُ
“Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus 10: Ayat 107)
  • Bencana bisa berupa ujian
  • Bencana bisa berupa adzab
  • Bencana bisa berupa peringatan
  • Bencana bisa berupa pembersih dosa
  • Bencana bisa berupa tanda kekuasaan Allah SWT
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Kemudian Allah dalam ayat ini menegaskan keesaan-Nya dalam memelihara hamba-Nya. Hanya Dialah yang kuasa menghilangkan kesulitan hidup atau kemudaratan yang sedang menimpa hamba-Nya, baik kesulitan karena kekurangan harta ataupun karena terganggunya kesehatan dan perlakuan yang tidak adil dari orang lain. Segala kesulitan yang menimpa seseorang itu tentu ada sebabnya. Sebab-sebab itu diciptakan Allah sebagai ujian bagi manusia, apakah mereka benar-benar berserah diri kepada Allah atau tidak, dan mereka berada di bawah pengawasan-Nya.
Manusia berkat pengalamannya yang lama dan luas dapat mengetahui sebagian sebab-sebab itu. Misalnya dalam soal kesehatan, menurut pengalaman manusia, bakteri tertentu yang menghinggapi tubuh manusia menjadi sebab bagi penyakit tertentu pula. Karena itu manusia menjaga dirinya dari bakteri tersebut dan bila dia sudah tercemar oleh bakteri tersebut sehingga sakit, dia akan berusaha mengobati penyakitnya sampai sembuh. Namun demikian, kesembuhannya bukan merupakan satu kepastian sebagai akibat berobat tersebut, tapi kesembuhan hanya dengan izin Allah. Demikian pula dalam bidang kehidupan manusia lainnya, seperti bidang sosial, ekonomi dan politik. Bilamana mereka mengalami kesulitan tentu ada sebab-sebabnya dan sebab-sebab itu berada dalam lingkungan mereka sendiri.
Kewajiban manusia adalah mencari sebab sambil berdoa kepada Allah dengan sepenuh hati serta tawakal kepada-Nya. Sesudah menyebutkan tentang kesulitan hidup yang menimpa manusia, Allah menyebutkan pula tentang kenikmatan dan kesenangan yang dialami manusia. Mengenai kesenangan dan kelapangan hidup ini, Allah menyatakan bahwa jika Dia berkehendak dengan iradat-Nya melimpahkan kenikmatan kepada manusia, maka tak seorangpun yang dapat menghambatnya. Kebahagiaan dan kesenangan itu adalah karunia-Nya kepada hamba-Nya dan menurut iradat-Nya. Apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi, dan Allah tidak terikat kepada suatu sebab dalam memberikan kesenangan dan kebaikan. Karunia Allah atas hamba-Nya berdasarkan keluasan rahmat-Nya.
Allah Maha Pengampun, mengampuni segala dosa orang-orang yang bertobat, dan dosa orang kafir yang kemudian beriman kepada-Nya sebelum ajal tiba. Allah Maha Pengasih, mengasihi orang-orang beriman dan Dia tidak menyiksanya bila dia bertobat dari dosanya. Pengampunan dan kasih sayang-Nya meliputi seluruh umat manusia. Karena rahmat-Nya itu pula, maka tidak semua kejahatan di dunia ini dijatuhi siksaan tetapi menundanya sampai waktu tertentu.
Firman Allah: Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. Nanti apabila ajal mereka tiba, maka Allah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya (Fathir/35: 45).
Bencana bisa memiliki makna dan hikmah yang beragam tergantung pada konteks, kondisi orang yang mengalaminya, dan bagaimana manusia menyikapinya. Berikut ini adalah beberapa bentuk makna bencana menurut pandangan Islam:
  1. Ujian (Ibtilā’); Allah menguji keimanan, kesabaran, dan keteguhan hati seseorang. Contoh: Nabi Ayyub diuji dengan penyakit dan kehilangan harta, tapi ia tetap sabar dan taat. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ sedang mereka tidak diuji?”(Al-‘Ankabūt: 2)
  2. Adzab (Siksaan); Ditimpakan kepada kaum yang membangkang, kufur, dan terus-menerus berbuat maksiat tanpa taubat. Contoh: Kaum Nabi Luth yang diazab dengan gempa dan hujan batu. “Dan Kami timpakan kepada mereka azab dari langit karena kezaliman mereka.” (QS. Al-Baqarah: 59)
  3. Peringatan atau Teguran (Tadhkirah/Tanbih); Agar manusia sadar, introspeksi, dan kembali ke jalan yang benar. Bencana menjadi semacam “alarm spiritual” agar manusia tidak larut dalam kelalaian. “Dan tidaklah Kami mengutus (bencana) itu melainkan sebagai peringatan yang menakutkan.” (QS. Al-Isrā’: 59)
  4. Pembersih Dosa (Kaffārah); Sebagai bentuk kasih sayang Allah, bencana dapat menjadi penghapus dosa bagi orang yang beriman dan bersabar. “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah… kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  5. Tanda Kekuasaan Allah (Ayatullah); Bencana bisa menjadi manifestasi dari kebesaran dan kekuasaan Allah yang tak terbantahkan, agar manusia merenung. “Kita tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa seseorang yang tertimpa bencana pasti sedang diazab karena dosanya. Sebab, jika setiap dosa dibalas dengan azab secara langsung, maka tidak akan ada satu pun manusia yang tersisa di muka bumi ini—karena tidak ada manusia yang luput dari dosa, kecuali para rasul. Dan jika memang semua orang berdosa langsung diazab, tentu para rasul pun tidak akan diutus lagi, karena tak akan ada manusia yang tersisa untuk diingatkan.”
اَ  لَّا  تَعْبُدُوْۤا  اِلَّا  اللّٰهَ  ۗ اِنَّنِيْ  لَـكُمْ  مِّنْهُ  نَذِيْرٌ  وَّبَشِيْرٌ
“agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untukmu,” (QS. Hud 11: Ayat 2)
Doa memohon kepada Allah agar tidak dibebani atau diazab di luar batas kemampuan manusia. Berikut ini adalah penggalan ayat tersebut beserta artinya dan penjelasan singkatnya:
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya.
Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami menghadapi kaum yang kafir.”(QS Al Baqarah :286)