Alasan Firaun Mendekalarasikan Dirinya sebagai Tuhan

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

رَبِّ  مُوْسٰى  وَهٰرُوْنَ

“(yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 122)

Banyaknya tuhan, sehingga harus lebih ditekankan Tuhannya Musa dan Harun

Dalam tafsir Ringkas Kementrian Agama RI; yaitu Tuhan Pencipta dan Pemelihara yang diyakini dan diimani oleh Nabi Musa dan Nabi Harun.”

ثُمَّ  بَعَثْنَا  مِنْۢ  بَعْدِهِمْ  مُّوْسٰى  وَهٰرُوْنَ  اِلٰى  فِرْعَوْنَ  وَمَلَا۟ئِهٖ  بِاٰ يٰتِنَا  فَا سْتَكْبَرُوْا  وَكَا نُوْا  قَوْمًا  مُّجْرِمِيْنَ

“Kemudian setelah mereka, Kami utus Musa dan Harun kepada Fir’aun dan para pemuka kaumnya dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Ternyata mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Yunus 10: Ayat 75)

Firaun mengklain sebagai tuhan ada pada QS Qasas ayat 38:

يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي

“Wahai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku.”

Kemudian dalam surat An Naziat ayat 23-24:

فَحَشَرَ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

“Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya, (seraya) berkata, ‘Akulah Tuhanmu yang paling tinggi’.”

Apa yang menyebabkan Firaun Sampai berani mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan yang tertinggi? Dr Zaprulkhan dalam bukunya, Mukjizat Puasa Menggapai Pencerahan Spiritual Melalui Ibadah Puasa Ramadhan, menyatakan, syahdan, dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Firaun menjalani hidup dalam rentang usia yang sangat panjang, sampai 400 tahun dan dalam usia panjang yang dilalui itu tidak pernah ditimpa kesusahan.

Firaun tidak pernah merasakan perihnya lapar, kerongkongannya tidak pernah tersentuh panasnya dahaga. Kelemahan dan ketidakberdayaan tidak pernah menemani saat-saat kehidupannya sesaat pun. Dia juga tidak pernah sakit sedikit pun, baik sakit kepala, sakit perut, demam, atau yang lainnya.

Melihat kenyataan yang dialami oleh Firaun inilah para ulama berkomentar seandainya saja dalam episode panjang perjalanan hidupnya itu Firaun pernah merasakan pahitnya lapar dan haus, pernah merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan, atau pernah mendapatkan kesusahan hidup sejenak saja, niscaya dia tidak akan mengikrarkan dirinya sebagai Tuhan tertinggi.

“Setidaknya kisah tentang kepongahan puncak Firaun dapat kita jadikan dalil bahwa kebanyakan manusia yang tidak pernah mengalami perihnya lapar dan dahaga akan membuat mereka congkak dan angkuh,” katanya.

Karena orang yang tidak merasakan kelemahan dan ketidakberdayaan dirinya, maka secara tidak langsung dia tidak mengakui kekuasaan Tuhannya. Itulah tragedi kemanusiaan sebab merupakan kodrati intrinsiknya sebagai manusia yang papa dan dhaif.

Dalam Islam ada istilah istdraj. Istidraj merupakan bentuk tipu daya dari Allah SWT yang diberikan kepada seseorang yang sering melakukan maksiat dan jarang beribadah, namun hidupnya terus dilimpahi kenikmatan. Istidraj dapat terjadi dalam berbagai bentuk kenikmatan, seperti harta, kekuasaan, dan kedudukan.

Padahal secara umum manusia adalah mahluk yang lemah…hanya bergantung pada Allah SWT.

“La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyi wa yumitu, biyadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli syai’in qodir.

“Tidak ada Tuhan selain Allah. Tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah kekuasaan dan milik-Nya lah segala pujian. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Atasnya kebaikan dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”