Penyihir Menyadari Kelemahannya; Merka Menjatuhkan Diri dengan Bersujud

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَ  اُلْقِيَ  السَّحَرَةُ  سٰجِدِيْنَ

“Dan para pesihir itu serta-merta menjatuhkan diri dengan bersujud,” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 120)

Menyadari kelemahannya serta merta menjatuhkan diri dengan bersujud

Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Dalam ayat ini diterangkan bahwa setelah melihat kehebatan mukjizat Nabi Musa, maka para pesihir, serta merta bersujud kepada Allah, karena mereka yakin tentang kebenaran seruan Nabi Musa, dan ia bukan pesihir seperti yang mereka duga sebelumnya, sesuai dengan tuduhan Firaun dan para pembesarnya.

Selain itu, mereka menyadari bahwa sihir mereka yang dibangga-banggakan selama ini hanyalah kebatilan dan tidak berdaya bila berhadapan dengan kebenaran yang datang dari Allah Yang Maha Kuasa. Mereka sudah tidak mempunyai rasa hormat sedikit pun kepada Firaun dan para pembesarnya yang telah berusaha dengan segala daya upaya untuk mengingkari kekuasaan dan kebesaran Allah, Pencipta dan Penguasa alam semesta. Mengenai bersujudnya para pesihir tersebut, Allah menerangkannya dalam ayat yang lain sebagai berikut:

Lalu para pesihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.” (thaha/20:70)

Maka menyungkurlah para pesihir itu, bersujud, mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam”. (asy-Syuara/26:46-47).

Sunatullah… berbuat dosa dan melihat kebenaran langsung bertaubat dan mengakui Allah SWT, tapi kadang kadang berubah lagi kembali ke habitat semula, kalau dalam keadaan yang mengancam dirinya ingat Allah, tapi setelah ancamannya berlalu kembali ke habitat aslinya. Naik mobil remnya blong, pasti semua penumpang ingat Allah, kalau sedang gempa semua ingat Allah, ada kerabat yang meninggal, ingat Allah.

Manusia akan mendekatkan diri kepada Allah dan berdoa agar musibah atau keburukan yang menimpanya segera sirna. Baik dalam kondisi berbaring, berdiri, atau pun duduk, manusia akan segera berdoa meminta keburukan yang menimpanya segera berakhir.

Akan tetapi ketika Allah SWT mengakhiri keburukan, musibah atau kemalangan yang dialami seorang manusia dan menggantinya dengan kenikmatan, sebagian manusia justru melupakan Allah SWT yang telah menyelamatkan dan menolongnya keluar dari kesulitan. Lebih parah lagi, setelah kemalangan berganti menjadi kenikmatan, hamba tersebut justru tenggelam dalam perbuatan maksiat penuh dosa dan melupakan Allah.

Karakter manusia semacam ini diterangkan juga dalam Alquran surat Yunus ayat 12.

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنْبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَنْ لَمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَسَّهُ ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

“Ini sebenarnya karakter dasar manusia. Memperoleh nikmat (setelah hilangnya kemalangan) justru dia lalai dengan nikmat yang diberikan. Tapi tidak semua seperti itu, orang yang terselamatkan dari sifat keburukan itu adalah yang memperbanyak berzikir kepada Allah dan kesadaran eksistensinya dia munculkan sehingga dia tidak terpengaruh sifat buruk tersebut.

Seorang Muslim ketika ditimpa musibah seharusnya bersabar, dan mengingat-ingat nikmat yang telah Allah SWT berikan. Memperbanyak berzikir kepada Allah. Dan setelah hilangnya musibah dan kemalangan, tetap memelihara rasa bersyukur dan zikir.

Doa supaya selalu mendapatkan hidayah Nya;

رَبَّنَا  لَا  تُزِغْ  قُلُوْبَنَا  بَعْدَ  اِذْ  هَدَيْتَنَا  وَهَبْ  لَنَا  مِنْ  لَّدُنْكَ  رَحْمَةً  ۚ اِنَّكَ  اَنْتَ  الْوَهَّا بُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)