6 (Enam) Kewajiban Kita terhadap Anak Yatim

‎أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

وَيَسْتَفْتُوْنَكَ  فِى  النِّسَآءِ   ۗ قُلِ  اللّٰهُ  يُفْتِيْكُمْ  فِيْهِنَّ   ۙ وَمَا  يُتْلٰى  عَلَيْكُمْ  فِى  الْكِتٰبِ  فِيْ  يَتٰمَى  النِّسَآءِ  الّٰتِيْ  لَا  تُؤْتُوْنَهُنَّ  مَا  كُتِبَ  لَهُنَّ  وَتَرْغَبُوْنَ  اَنْ  تَـنْكِحُوْهُنَّ  وَا لْمُسْتَضْعَفِيْنَ  مِنَ  الْوِلْدَا نِ   ۙ وَاَ نْ  تَقُوْمُوْا  لِلْيَتٰمٰى  بِا لْقِسْطِ   ۗ وَمَا  تَفْعَلُوْا  مِنْ  خَيْرٍ  فَاِ نَّ  اللّٰهَ  كَا نَ  بِهٖ  عَلِيْمًا

“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan. Katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al-Qur’an (juga memfatwakan) tentang para perempuan yatim yang tidak kamu berikan sesuatu (maskawin) yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin menikahi mereka dan (tentang) anak-anak yang masih dipandang lemah. Dan (Allah menyuruh kamu) agar mengurus anak-anak yatim secara adil. Dan kebajikan apa pun yang kamu kerjakan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 127).

Dalam tafsir Quraish Shihab menjelaskan bahwa orang-orang meminta fatwa kepadamu, Muhammad, tentang wanita-wanita yang masih dalam keadaan lemah. Allah menjelaskan kepadamu untuk menerangkan mereka mengenai wanita, anak-anak kecil dan anak-anak yatim yang masih dipandang lemah di dalam keluarga. Wanita-wanita yatim yang dikawin dan tidak mengambil maskawinnya, anak-anak kecil dan anak-anak yatim, mereka semua harus diperlakukan secara adil, penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Allah Maha Mengetahui setiap kebaikan yang diperbuat dan Dia yang akan memberi balasannya.

Anak yatim merupakan sosok manusia yang mendapat kedudukan khusus di sisi Allah. Banyak ayat Alquran yang membahas tentang anak yatim, misalnya sikap orang-orang beriman terhadap anak yatim. Setidaknya ada enam hal yang perlu dilakukan kepada anak yatim ;

1. Mengurus anak yatim secara adil

Mereka yang mengurus anak yatim di rumah atau di panti asuhan perlu menjaga diri dan berusaha merawat anak-anak secara adil, seperti dalam surat An-Nisaa ayat 127:

2. Berbuat baik kepada anak yatim

Alquran menjelaskan keharusan orang-orang beriman untuk berbuat baik kepada anak yatim.

وَاِ ذْ  اَخَذْنَا  مِيْثَا قَ  بَنِيْۤ  اِسْرَآءِيْلَ  لَا  تَعْبُدُوْنَ  اِلَّا  اللّٰهَ  وَبِا لْوَا لِدَيْنِ  اِحْسَا نًا  وَّذِى  الْقُرْبٰى  وَا لْيَتٰمٰى  وَا لْمَسٰکِيْنِ  وَقُوْلُوْا  لِلنَّا سِ  حُسْنًا  وَّاَقِيْمُوا  الصَّلٰوةَ  وَاٰ تُوا  الزَّکٰوةَ   ۗ ثُمَّ  تَوَلَّيْتُمْ  اِلَّا  قَلِيْلًا  مِّنْکُمْ  وَاَ نْـتُمْ  مُّعْرِضُوْنَ
“Dan (ingatlah) ketika kami mengambil janji dari Bani Israil, Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat. Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari) kecuali sebagian kecil dari kamu dan kamu (masih menjadi) pembangkang.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 83) (QS. An-Nisaa ayat 36)

Untuk selalu berbuat baik pada anak yatim dalam berbagai hal. Berbuat baik kepada mereka dapat meringankan atau menghilangkan kesengsaraan dan penderitaan dan mengangkat martabat.

3. Memuliakan anak yatim

Selain berbuat baik, Allah menyuruh untuk memuliakan dan menghormati anak yatim. Jika tidak berbuat demikian, seseorang akan mendapat teguran dan peringatan dari Allah sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Fajr ayat 17:

كَلَّا بَلْ لَّا تُكْرِمُوْنَ الْيَتِيْمَۙ

“Sekali-kali tidak! Bahkan kamu tidak memuliakan anak yatim,”

Memuliakan dan menghormati anak yatim dapat membesarkan hati dan mengangkat harga diri. Perasaan anak yatim harus selalu dijaga, jangan sampai melontarkan perkataan kasar dan menyinggung.

Dengan mengurus dan mengasuh anak yatim akan memungkinan mereka tumbuh secara wajar dan lebih baik. Mereka dapat menikmati hidup dengan sebaik-baiknya.

4. Memberi makanan kepada anak yatim

Selain mengasuh, Allah juga mengajarkan kepada orang-orang beriman agar tidak menelantarkan anak yatim menjadi sengsara. Jika mereka membutuhkan harta dan makanan hendaknya diberikan. Allah berfirman dalam surat Al-Insan ayat 8:

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan,”

Dari ayat tersebut terlihat sudah menjadi kewajiban bagi orang yang berkecukupan untuk membantu dhuafa, termasuk memberi harta dan makanan kepada anak-anak yatim.

5. Memperperbaiki keadaan anak yatim.

Menjadikan mereka lebih baik itu lebih utama.

فِى  الدُّنْيَا  وَا لْاٰ خِرَةِ   ۗ وَيَسْــئَلُوْنَكَ  عَنِ  الْيَتٰمٰى   ۗ قُلْ  اِصْلَا حٌ  لَّهُمْ  خَيْرٌ   ۗ وَاِ نْ  تُخَا لِطُوْهُمْ  فَاِ خْوَا نُكُمْ   ۗ وَا للّٰهُ  يَعْلَمُ  الْمُفْسِدَ  مِنَ  الْمُصْلِحِ   ۗ وَلَوْ  شَآءَ  اللّٰهُ  لَاَ عْنَتَكُمْ   ۗ اِنَّ  اللّٰهَ  عَزِ يْزٌ  حَكِيْمٌ
“Tentang dunia dan akhirat. Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, Memperbaiki keadaan mereka adalah baik! Dan jika kamu mempergauli mereka, maka mereka adalah saudara-saudaramu. Allah mengetahui orang yang berbuat kerusakan dan yang berbuat kebaikan. Dan jika Allah menghendaki, niscaya Dia datangkan kesulitan kepadamu. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 220)

6. Memberikan harta yang dicintainya kepada anak yatim.

Sebaiknya pemberian kepada anak yatim bukan dari zakat, karena yatim belum tentu termasuk asnaf yang berhak menerima zakat.

لَيْسَ  الْبِرَّ  اَنْ  تُوَلُّوْا  وُجُوْهَكُمْ  قِبَلَ  الْمَشْرِقِ  وَ  الْمَغْرِبِ  وَلٰـكِنَّ  الْبِرَّ  مَنْ  اٰمَنَ  بِا للّٰهِ  وَا لْيَوْمِ  الْاٰ خِرِ  وَا لْمَلٰٓئِکَةِ  وَا لْكِتٰبِ  وَا لنَّبِيّٖنَ   ۚ وَاٰ تَى  الْمَا لَ  عَلٰى  حُبِّهٖ  ذَوِى  الْقُرْبٰى  وَا لْيَتٰمٰى  وَا لْمَسٰكِيْنَ  وَا بْنَ  السَّبِيْلِ   ۙ وَا لسَّآئِلِيْنَ  وَفِى  الرِّقَا بِ   ۚ وَاَ قَا مَ  الصَّلٰوةَ  وَاٰ تَى  الزَّکٰوةَ   ۚ وَا لْمُوْفُوْنَ  بِعَهْدِهِمْ  اِذَا  عٰهَدُوْا   ۚ وَا لصّٰبِرِ يْنَ  فِى  الْبَأْسَآءِ  وَا لضَّرَّآءِ  وَحِيْنَ  الْبَأْسِ   ۗ اُولٰٓئِكَ  الَّذِيْنَ  صَدَقُوْا   ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ  هُمُ  الْمُتَّقُوْنَ
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim itu akan masuk surga seperti ini,”. Nabi memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggang keduanya. (HR. Bukhari)