Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Dalam diskusi kelas, perbedaan pendapat merupakan hal yang biasa. Seorang siswa mengatakan bahwa tugas kelompok sebaiknya dibagi secara merata. Siswa lain berpendapat bahwa pembagian tugas seharusnya berdasarkan kemampuan masing-masing. Keduanya memiliki pendapat, tetapi apakah keduanya sudah memiliki argumen?
Pendapat adalah apa yang seseorang yakini atau katakan mengenai suatu persoalan. Sementara itu, argumen membutuhkan lebih dari sekadar pernyataan. Argumen biasanya terdiri dari klaim, bukti, dan alasan yang menghubungkan bukti tersebut dengan klaim.
Perbedaan ini penting dipahami siswa karena dalam kehidupan sehari-hari mereka akan sering menemukan situasi ketika harus menjelaskan mengapa mereka mempercayai sesuatu. Di sekolah, kemampuan tersebut muncul ketika mengerjakan esai, berdiskusi, melakukan presentasi, mengikuti debat, menyusun laporan, bahkan ketika mengusulkan perubahan sederhana di lingkungan kelas.
Kalimat seperti “Menurut saya, kantin sekolah perlu menyediakan lebih banyak pilihan makanan” merupakan pendapat. Kalimat tersebut menyampaikan posisi seseorang, tetapi pembaca belum mengetahui alasan di baliknya.
Argumen dapat dikembangkan dengan memberikan dasar yang mendukung pendapat tersebut. Misalnya, siswa dapat menunjukkan hasil survei sederhana mengenai pilihan makanan yang paling banyak diminati, kemudian menjelaskan bahwa ketersediaan pilihan yang lebih beragam dapat membantu memenuhi kebutuhan siswa yang berbeda.
Dengan begitu, pembaca tidak hanya mengetahui apa yang dipikirkan siswa, tetapi juga dapat memahami alasan yang membuat pendapat tersebut muncul.
Bukan berarti sebuah pendapat selalu salah jika tidak disertai data. Dalam percakapan sehari-hari, pendapat pribadi tetap memiliki tempat. Namun, ketika seseorang ingin meyakinkan orang lain atau membuat keputusan bersama, kualitas alasan yang digunakan menjadi lebih penting.
Memiliki data belum otomatis berarti seseorang telah membuat argumen yang kuat.
Misalnya, seorang siswa menunjukkan bahwa 70 persen responden dalam survei kelas menyukai kegiatan olahraga tertentu. Data tersebut merupakan bukti. Namun, jika siswa kemudian mengatakan bahwa sekolah pasti harus menambah fasilitas olahraga tanpa menjelaskan hubungan antara hasil survei dan keputusan tersebut, masih ada bagian penalaran yang perlu diperjelas.
Di sinilah reasoning atau penalaran berperan. Siswa perlu menjelaskan bagaimana bukti yang dimiliki mendukung klaim yang dibuat.
Dalam sebuah argumen sederhana, alurnya dapat berupa: ada data tertentu, data tersebut menunjukkan suatu kondisi, kondisi tersebut berkaitan dengan masalah yang sedang dibahas, lalu berdasarkan hubungan tersebut muncul sebuah usulan atau kesimpulan.
Kemampuan melihat hubungan ini membuat siswa tidak sekadar mengumpulkan angka atau kutipan, tetapi belajar menggunakan informasi secara tepat.
Sebuah bukti dapat mendukung sebuah klaim, tetapi belum tentu mampu menjelaskan seluruh persoalan.
Misalnya, seorang siswa berkata bahwa “semua siswa menyukai pembelajaran menggunakan video” karena tiga orang teman sekelasnya mengatakan hal tersebut. Kesimpulan itu terlalu luas dibandingkan bukti yang tersedia.
Masalahnya bukan karena tiga siswa tersebut memberikan informasi yang salah. Masalahnya adalah ukuran dan cakupan bukti tidak cukup untuk mendukung kata “semua”.
Dari sini siswa dapat belajar tentang pentingnya kesesuaian antara bukti dan luas klaim. Semakin luas sebuah pernyataan, semakin hati-hati seseorang perlu memeriksa apakah bukti yang dimiliki memang mampu mendukungnya.
Cara berpikir ini berguna dalam berbagai mata pelajaran, terutama ketika siswa mulai berhadapan dengan penelitian sederhana dan data.
Tidak semua alasan memiliki kekuatan yang sama. Sebuah alasan dapat terdengar meyakinkan, tetapi belum tentu relevan dengan persoalan.
Bayangkan ada diskusi mengenai aturan membawa ponsel ke sekolah. Seorang siswa mengatakan bahwa aturan tersebut harus diubah karena “sekolah lain juga mengizinkan”. Pernyataan tersebut mungkin menarik, tetapi belum menjawab apakah kondisi sekolah lain sama dengan kondisi sekolahnya.
Siswa dapat belajar mengajukan pertanyaan sederhana: Apakah bukti ini relevan? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah ada informasi yang belum dipertimbangkan? Apakah kesimpulannya terlalu luas?
Pertanyaan tersebut membantu siswa memeriksa kualitas argumen tanpa harus langsung menyetujui atau menolaknya.
Dalam diskusi, siswa terkadang menganggap tujuan argumentasi adalah membuat lawan bicara kalah. Padahal, argumentasi juga dapat digunakan untuk menemukan pemahaman yang lebih baik.
Seseorang dapat memiliki argumen yang masuk akal sekaligus tetap terbuka terhadap informasi baru. Jika ditemukan bukti yang lebih kuat, posisi seseorang dapat berubah.
Misalnya, seorang siswa awalnya menganggap kegiatan belajar kelompok selalu efektif. Setelah mencoba beberapa metode dan melihat bahwa pembagian tugas yang tidak jelas justru membuat pekerjaan tidak merata, ia dapat memperbaiki pendapatnya. Ia mungkin kemudian menyimpulkan bahwa belajar kelompok dapat membantu dalam kondisi tertentu, tetapi membutuhkan pembagian peran yang jelas.
Perubahan seperti itu bukan tanda bahwa seseorang gagal mempertahankan pendapat. Justru, kemampuan memperbaiki argumen berdasarkan bukti merupakan bagian dari proses berpikir yang sehat.
Kemampuan berargumentasi muncul dalam banyak aktivitas yang mungkin tidak disebut sebagai “latihan argumentasi”.
Ketika siswa mengusulkan kegiatan kelas, mereka perlu menjelaskan alasan dan manfaatnya. Ketika menulis laporan praktikum, mereka perlu menghubungkan hasil pengamatan dengan penjelasan. Ketika berdiskusi mengenai masalah lingkungan sekolah, mereka perlu memberikan alasan mengapa solusi tertentu dapat dipertimbangkan.
Dalam kerja kelompok pun kemampuan ini dibutuhkan. Seorang siswa mungkin memiliki ide, tetapi kelompok perlu mengetahui mengapa ide tersebut relevan dan bagaimana cara menerapkannya.
Artinya, kemampuan argumentasi bukan hanya keterampilan untuk mengikuti lomba debat. Ia merupakan cara untuk menyampaikan pemikiran agar dapat dipahami dan diperiksa oleh orang lain.
Argumen yang baik dapat kehilangan kekuatannya jika disampaikan dengan cara yang membuat orang lain sulit memahami isinya.
Siswa perlu belajar membedakan antara menyerang gagasan dan menyerang orang yang menyampaikan gagasan. Ketika tidak setuju, misalnya, seseorang dapat mengatakan bahwa alasan yang digunakan belum cukup kuat, bukan langsung menyebut orang tersebut tidak pintar.
Cara berkomunikasi seperti ini penting dalam diskusi karena memungkinkan perbedaan pendapat tetap berlangsung tanpa berubah menjadi konflik pribadi.
Guru juga dapat membangun kebiasaan tersebut dengan memberikan ruang bagi siswa untuk menjelaskan alasan, menanggapi pendapat teman, dan memperbaiki argumen setelah mendapatkan masukan.
Pada tingkat SD, latihan argumentasi dapat dimulai dari pertanyaan sederhana. Siswa dapat diminta memilih suatu tindakan dan menjelaskan alasannya berdasarkan pengalaman atau informasi yang tersedia.
Di tingkat SMP, siswa dapat mulai membandingkan beberapa bukti dan mempertimbangkan alasan yang berbeda. Mereka dapat belajar bahwa satu persoalan dapat memiliki lebih dari satu sudut pandang.
Sementara itu, siswa SMA dapat diberikan persoalan yang membutuhkan sumber informasi, data, dan penalaran yang lebih kompleks. Mereka dapat belajar menyusun klaim, mencari bukti yang relevan, mengantisipasi keberatan, serta menjelaskan batas kesimpulannya.
Intinya bukan membuat anak berbicara dengan bahasa yang rumit. Yang lebih penting adalah membiasakan mereka menjelaskan hubungan antara apa yang mereka katakan, bukti yang digunakan, dan alasan yang mendukungnya.
Latihan argumentasi tidak harus selalu berbentuk debat formal. Guru dapat memasukkan pertanyaan terbuka ke dalam pembelajaran.
Alih-alih hanya bertanya “apa jawabannya?”, guru dapat melanjutkan dengan pertanyaan seperti “mengapa kamu memilih jawaban itu?”, “bukti apa yang mendukung?”, atau “apakah ada kondisi yang membuat jawabanmu berbeda?”
Pertanyaan semacam ini mendorong siswa menjelaskan proses berpikir mereka. Jawaban yang belum tepat pun dapat menjadi bahan untuk memperbaiki penalaran.
Siswa juga dapat diberi kesempatan membandingkan dua argumen mengenai persoalan yang sama. Mereka tidak harus langsung menentukan siapa yang menang, tetapi dapat mengidentifikasi klaim, bukti, alasan, serta bagian yang masih membutuhkan informasi.
Setelah menyelesaikan pendidikan, seseorang tetap akan berhadapan dengan berbagai klaim. Ada iklan yang mengatakan sebuah produk lebih baik, berita yang menyampaikan suatu angka, unggahan media sosial yang membuat pernyataan tertentu, atau seseorang yang memberikan rekomendasi berdasarkan pengalaman pribadi.
Jika terbiasa menyusun dan memeriksa argumen, siswa memiliki cara untuk menghadapi informasi tersebut dengan lebih hati-hati. Mereka dapat bertanya: apa sebenarnya klaimnya, apa buktinya, dan apakah alasan yang diberikan memang mendukung klaim tersebut?
Pada akhirnya, kemampuan argumentasi bukan sekadar kemampuan berbicara dengan meyakinkan. Siswa belajar membangun pemikiran yang dapat dijelaskan, didukung, diperiksa, dan jika diperlukan, diperbaiki. Kebiasaan tersebut membuat kegiatan belajar tidak berhenti pada mengetahui sebuah jawaban, tetapi juga memahami mengapa jawaban tersebut layak dipercaya.