Fasilitas Al Masoem (5)

Mencari Guru yang Ideal

Pahlawan tanpa tanda jasa !” Istilah tersebut tampaknya sudah sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari dimana sering disematkan kepada profesi Guru. Bagaimana tidak, jika kita melihat kenyataan di lapangan bahwa untuk ukuran gaji seorang guru memang bisa dibilang tidak besar, terlebih jika masih berstatus honorer. Namun tugas yang diemban seorang guru cukup besar, tidak hanya memberikan ilmu dan melatih kemampuan siswanya, seorang guru juga dituntut harus mampu membentuk karakter peserta didiknya yang akan menjadi penerus bangsa di masa yang akan datang. 

Jika melihat dari sudut pandang seorang siswa, tentu saja mereka menginginkan guru yang sesuai dengan “keinginan subjektif” mereka, terlebih di usia remaja (SMP – SMA). Pada umumnya siswa tidak menyukai guru yang killer /guru galak terlebih jika guru tersebut seringkali memberikan ujian mendadak serta tugas yang menumpuk. Selain itu siswa juga seringkali tidak percaya diri ketika gurunya menunjuk dan memintanya untuk maju ke depan dan mengerjakan soal di papan tulis. Semua treatment tadi pada dasarnya adalah sesuatu yang sengaja dilakukan seorang guru untuk membentuk mental peserta didiknya supaya lebih disiplin dan giat belajar serta mengetest pemahaman siswanya. Akan tetapi tidak sedikit siswa yang salah memahami tujuan dan niat mulia guru tersebut.

Pada umumnya siswa menyukai guru yang “satu frekuensi” dengan mereka, seperti memiliki aturan yang longgar, senang bercerita, humoris dan bisa diajak berkegiatan diluar sekolah. Namun kedekatan berlebihan seorang guru dengan siswanya pun tidak selamanya berdampak baik karena wibawa seorang guru bisa saja hancur karena siswa sudah menganggap guru tersebut seperti teman sebayanya. Tidak hanya itu, pemberian nilai dari seorang guru juga seringkali dijadikan standar bagi siswa untuk menilai gurunya dianggap “baik” atau tidak. Biasanya siswa menyukai guru yang “tidak pelit nilai” meskipun jawaban dari siswa tidak tepat. 

Melihat kondisi tersebut, mencari seorang sosok guru yang ideal tampaknya bukan perkara mudah. Di era teknologi informasi seperti saat ini, guru harus mampu beradaptasi baik dari perubahan perilaku siswanya dan juga perkembangan teknologi itu sendiri. Dalam hal ini seorang guru harus bisa meningkatkan inovasi dan kreativitasnya dalam metode belajar agar siswa tertarik dengan materi yang sedang dijelaskan. Tidak semua informasi yang ada di internet itu adalah valid dan benar adanya, maka dari itu seorang guru harus mampu mengarahkan siswanya untuk tidak mudah termakan hoax dan disiplin dalam menelusuri kebenaran informasi tertentu. 

Keberadaan dan kemudahan akses internet juga bisa membuat seorang siswa lebih cepat “update” dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Bisa saja seorang siswa mengetahui lebih banyak hal dibandingkan gurunya. Maka dari itu seorang guru harus bisa menjadi seorang pendengar yang baik, tidak hanya ketika siswa bercerita mengenai persoalan pribadinya, namun juga menggali informasi baru mengenai materi yang sedang dipelajari sehingga ilmu guru tersebut bisa “berkembang” dan tidak stuck di tempat. Metode kolaborasi guru & siswa bisa dijadikan salah satu pilihan tepat dalam melakukan kegiatan KBM ketika seorang guru menyadari siswanya ternyata lebih update dibandingkan dirinya. Metode kolaborasi juga akan membuat guru tidak kehilangan wibawanya selama cara penyampaian kepada siswanya tepat. 

Yang terakhir adalah seorang guru yang ideal diharapkan bisa dijadikan panutan sebagai sosok “pemimpin”. Dengan kecerdasan mumpuni, wibawa yang tinggi namun tetap bijaksana, seorang guru akan lebih dipercaya oleh siswanya sehingga akan lebih mudah untuk diarahkan menuju hal-hal yang positif. Dengan metode komunikasi yang baik, nasehat seorang guru akan dimaknai sebagai sebuah “motivasi”  oleh siswanya dan bukan dirasakan sebagai “dikte” belaka.

Guru yang ideal seperti yang dijelaskan di atas harus juga diimbangi dengan pendapatan yang dimilikinya. Pendapatan seorang guru baru dikatakan “layak” jika sudah memiliki sertifikasi. Dalam golongan tertentu, tunjangan sertifikasi guru bahkan bisa dianggap sebagai salah satu faktor perbaikan ekonomi. Maka dari itulah tipe guru yang memiliki karakter seperti yang dijelaskan sebelumnya harus mulai lebih giat untuk mencari informasi sertifikasi guru dan berupaya sekeras mungkin untuk memenuhi syarat sertifikasi guru tersebut.