Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Ada yang pernah mendengar filosofi padi menunduk? Bunyinya seperti ini, “Jadilah seperti padi, semakin berisi maka semakin merunduk”. Istilah ini mungkin sempat disampaikan oleh orang tua kita ataupun guru di sekolah. Makna dari kalimat ini cukup mendalam, dimana semakin banyak ilmu yang didapatkan, maka semakin banyak yang tidak diketahui. Akhirnya kita menjadi lebih bijak dan tidak sombong.
Tapi, apakah itu makna sebenarnya dari filosofi padi? Apakah setiap orang yang cerdas perlu untuk menundukkan dirinya dan diam? Dimana ada kebathilan maka kita yang memahami ilmunya hanya diam saja? Pandangan ini mungkin sebaiknya perlu diluruskan kembali.
Kenyataannya, orang-orang yang berilmu atau yang memiliki kapasitas atas ilmu adalah yang pantas untuk membagikan ilmunya kepada sesama manusia. Mereka juga pantas untuk bersuara ketika ada hal yang tidak sesuai dengan kaidah ilmu yang ada.
Arti “menunduk” ini mungkin bisa dilihat dari berbagai perspektif. Bisa jadi ada yang mengartikan sebagai mengalah, ada yang mengartikan ikhlas, ada yang mengartikan diam. Apapun artinya, menurut penulis sebuah pemahaman ilmu ataupun pengalaman berharga yang dicapai seseorang bisa menjadi sebuah peluang untuk membagikannya kepada orang lain. Dengan kata lain sedekah ilmu.
Bisa jadi apa yang disampaikan itu dapat merubah pandangan hidup seseorang, dapat memperkuat keyakinannya, atau bahkan menghentikan dari perilaku yang menyimpang. Bila dianalogikan dari tumbuhan padi, maka proses membagikan ilmu ini adalah wujud dari padi yang siap panen dan menghasilkan bulir-bulir padi. Bulir padi tersebut akhirnya bisa dikonsumsi bagi khalayak umum, dengan kata lain, bermanfaat untuk masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Dengan kata lain, mereka memiliki warisan ilmu ataupun pengalaman hidup bahkan ketika sudah habis umur.
Di dunia pendidikan, filosofi padi dapat membantu para murid untuk menjaga diri dari sikap sombong. Sombong disini dapat diartikan sebagai menolak dari kebenaran dan memandang remeh orang lain (akibat ilmu yang dimiliki). Sifat sombong sendiri adalah salah satu sifat yang tidak disukai oleh Allah SWT, bahkan ada sebuah hadits yang menjelaskan berbahayanya hal tersebut.
Dalam hadits sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak akan masuk surga yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu.” (HR. Muslim). Makna sombong disini adalah seseorang yang memuaskan ego dirinya sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan potongan hadits tadi yaitu “Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan memandang remeh orang lain.” (HR. Muslim).
“Tidak akan masuk surga yang dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji debu.” (HR. Muslim)
Setiap murid memiliki kapasitas kepintaran yang berbeda, maka wajar ditemukan murid yang pintar dan yang tidak. Ini menjadi tantangan tersendiri bari para guru atau wali kelas untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi seluruh murid di kelas, termasuk mengatur perilaku siswa agar tidak menyombongkan diri ataupun perilaku kurang baik lainnya. Sehingga para murid tertanam untuk tetap mawas diri dan membantu sesama teman apabila memiliki kendala dalam belajar.
Namun, konsep filosofi padi sebaiknya tidak dijadikan sebagai satu acuan hidup yang utama. Karena ditengah pesatnya perkembangan teknologi dan informasi, dunia dihadapkan pada persaingan antara satu sama lain. Jadi setiap orang perlu menunjukkan potensi dan kompetensi mereka agar bisa menonjol dari yang lain. Iklim kompetensi yang kental ini hendaknya juga diberikan oleh guru ketika di sekolah.
Tentunya hal ini sudah menjadi Visi dan Misi dari sekolah di Yayasan Al Ma’soem. Kami percaya dengan menumbuhkan semangat kompetisi kepada seluruh warga sekolah mampu memberikan kepercayaan diri yang tinggi kedepannya, sehingga para murid bisa memaksimalkan potensi yang dimiliki bahkan hingga lulus dari sekolah.
Adapun bentuk semangat kompetisi di Yayasan Al Ma’soem adalah memberikan bimbingan intensif kkepada siswa Al Ma’soem pada berbagai jenis kompetensi, baik itu IPTEK, IMTAQ dan olahraga-seni. Kami akan memberikan reward yang pantas seperti beasiswa per semester ketika mencapai peringkat kemenangan tertentu. Pun bagi guru dan wali kelas akan mendapatkan bonus ketika mampu mempertahankan atau bahkan meningkatkan prestasi siswa.
Simbiosis mutualime ini yang menyebabkan banyaknya prestasi yang dihasilkan oleh para siswa Al Ma’soem, baik dari tingkat SD hingga SMA. Pada akhirnya, mereka semua mengharumkan nama Al Ma’soem baik di tingkat regional hingga nasional.
Penulis: Gumilar Ganda