Tidak terasa 1 tahun sudah kita melewati tahun 2020 dimana kita menjalani aktivitas yang hampir semuanya dilakukan di rumah. Istilah work from home (WFH) pun sangat erat di telinga kita. Pandemi COVID 19 atau yang juga dikenal dengan virus Corona tidak hanya berdampak kepada aktivitas ekonomi sehari-hari, namun sudah merambah ke seluruh sendi aktivitas manusia tidak terkecuali dunia pendidikan. Akibatnya seluruh aktivitas belajar yang biasanya dilakukan di sekolah, kini sangat disarankan untuk dilakukan dirumah terlebih untuk daerah yang yang masih berzona merah dan hitam.
Kegiatan belajar dirumah yang pada awalnya dirasakan fleksibel justru membuat banyak pihak malah kewalahan, baik dari sisi orang tua, siswa, pengelola lembaga pendidikan hingga yang paling vital yaitu guru. Di awal tahun 2021 saja saat terdapat wacana belajar kembali dilakukan secara daring / tatap muka nampaknya belum bisa benar-benar terwujud karena masih banyak daerah dengan angka penularan COVID 19 yang justru cenderung meningkat di bulan Januari.
Keberadaan internet dan smartphone atau ponsel pintar saat ini benar-benar menjadi kebutuhan utama untuk mempermudah komunikasi sehari-hari antara guru dan siswa. Bagaimana tidak, banyak materi pembelajaran yang biasanya diberikan secara fisik / cetak kini beralih menjadi bentuk digital dimana hanya bisa diakses menggunakan ponsel pintar. Tidak hanya itu, beberapa guru memberikan materi pelajaran kepada siswanya dengan menggunakan aplikasi khusus yang harus diinstall terlebih dahulu dan memakan banyak kuota saat kegiatan KBM berlangsung.
Etika komunikasi jarak jauh yang selama ini dilakukan tentu saja tetap harus dijaga, terlebih untuk konteks akademis dimana para siswa dididik untuk selalu mengedepankan norma dan sopan santun. Etika siswa menghubungi guru tampaknya menjadi sesuatu penting yang perlu dipahami serta diimplementasikan. Dari semua perangkat lunak yang ada di ponsel pintar, aplikasi whatsapp nampaknya masih menjadi aplikasi chat yang paling sering digunakan oleh berbagai kalangan untuk berkomunikasi, termasuk guru dan siswa. Maka dari itulah penting untuk memahami perbedaan etika menghubungi guru lewat wa dengan chat biasa dengan teman sebaya.
Prinsip etika dasar sendiri adalah mengatur kita dalam bersikap, berkomunikasi dan bertindak di dalam lingkungan dimana kita berada. Hal ini menyangkut hubungan kita dengan keluarga (orang tua, saudara), teman sebaya, tetangga, guru dan lain-lain. Untuk konteks etika komunikasi siswa dan guru, maka bisa dipastikan bahwa siswa yang harus lebih mengutamakan nilai etika tersebut saat berkomunikasi. Sebelum memulai untuk menghubungi seorang guru, kita harus pintar dalam memilih momen dan waktu yang tepat seperti jam kerja dan usahakan tidak menghubungi disaat mendekati waktu istirahat (diatas jam 8 malam).
Etika dasar yang perlu dilakukan sebelum memberikan isi komunikasi tentu saja adalah memberikan salam dan menyapa dengan sopan yang diikuti dengan menyebutkan identitas diri seperti nama lengkap dan kelas. Terkadang kita sulit untuk membuat kalimat tepat yang singkat, padat dan jelas namun tetap sopan. Maka dari itu tidak ada salahnya kita menuliskan terlebih dahulu kalimat yang akan susun di sebuah aplikasi note sebelum kita mengirimkannya ke guru kita. Hal penting yang perlu diingat adalah sebelum kita menyebutkan maksud dan tujuan menghubungi guru kita, sebaiknya setelah ucapan salam dan pengenalan diri, kita menggunakan kata “mohon maaf sebelumnya” terlebih dahulu. Selain itu, tata bahasa yang kita gunakan adalah bahasa formal dengan tanda baca yang tepat karena tidak sedikit miskomunikasi terjadi hanya karena penggunaan tanda baca yang tidak tepat.
Jika kita yakin kalimat tersebut sudah benar-benar sempurna barulah kita kirim pesan tersebut ke guru kita. Jika pesan sudah dipahami oleh guru kita, biasanya guru kita akan menjawab ataupun menjelaskan sesuatu hal kepada kita. Apapun respon dari guru kita, sebaiknya kita tetap menjawabnya kembali dengan kata “ya” atau “baik” yang diikuti dengan kalimat “terimakasih”. Sebagai penutup, kita bisa menggunakan kalimat seperti “mohon maaf sudah mengganggu” untuk memberikan kesan bahwa kita peduli dengan waktu yang sudah dipakai oleh guru kita.

