Select Education Level
Please select an education level to begin registration.

Dalam kehidupan sekolah, siswa menerima dan mengalami banyak hal setiap hari. Ada informasi yang dapat disampaikan nanti ketika waktunya tepat, tetapi ada pula situasi yang membutuhkan perhatian lebih cepat. Kemampuan membedakan keduanya merupakan salah satu keterampilan yang penting dimiliki siswa.
Contohnya dapat ditemukan dalam berbagai kegiatan sederhana. Siswa mungkin mengetahui perubahan lokasi sebuah kegiatan, menemukan barang milik teman, melihat fasilitas yang mengalami kerusakan, atau mengetahui bahwa seorang anggota kelompok tidak dapat mengikuti kegiatan sesuai rencana. Tidak semua informasi tersebut memiliki tingkat kepentingan yang sama.
Belajar menentukan kapan sebuah informasi perlu segera disampaikan bukan berarti siswa harus merasa bertanggung jawab atas semua hal yang terjadi di sekolah. Sebaliknya, siswa belajar mengenali situasi yang memang perlu diketahui oleh orang yang memiliki tanggung jawab untuk menanganinya.
Dalam komunikasi sehari-hari, siswa dapat menerima berbagai macam informasi. Ada informasi ringan seperti rencana berkumpul setelah kelas, ada informasi yang berkaitan dengan tugas, dan ada informasi yang berhubungan dengan keselamatan, kegiatan sekolah, atau kondisi fasilitas.
Jika semua informasi dianggap sama penting, siswa justru dapat kesulitan menentukan mana yang perlu didahulukan. Karena itu, siswa perlu belajar melihat konteks sebelum menentukan tindakan.
Pertanyaan sederhana dapat membantu, misalnya apakah informasi tersebut dapat memengaruhi kegiatan yang sedang berlangsung, apakah ada orang yang mungkin terdampak, dan apakah informasi tersebut membutuhkan tindakan dari guru atau pihak sekolah.
Informasi yang bersifat mendesak biasanya berkaitan dengan sesuatu yang membutuhkan perhatian dalam waktu dekat. Misalnya, perubahan tempat berkumpul sebelum kegiatan dimulai, adanya masalah pada perlengkapan yang akan digunakan, atau kondisi tertentu yang dapat mengganggu jalannya kegiatan.
Siswa tidak harus menentukan sendiri solusi untuk situasi tersebut. Tugas utamanya dapat berupa menyampaikan informasi kepada orang yang tepat dengan cepat dan jelas.
Dengan begitu, siswa belajar membedakan antara mengambil alih tanggung jawab orang dewasa dengan membantu menyampaikan informasi yang memang perlu diketahui.
Mengetahui bahwa sebuah informasi penting saja belum cukup. Siswa juga perlu memahami kepada siapa informasi tersebut sebaiknya disampaikan.
Untuk persoalan pembelajaran, guru mata pelajaran mungkin menjadi pihak yang tepat. Untuk kegiatan sekolah, siswa dapat menyampaikan kepada guru pendamping atau panitia yang bertanggung jawab. Jika berkaitan dengan fasilitas, informasi dapat disampaikan kepada pihak sekolah yang menangani fasilitas tersebut.
Jika siswa tidak mengetahui siapa yang tepat, mereka dapat bertanya kepada guru atau orang dewasa yang berada di sekitar. Memilih penerima informasi yang tepat membantu mencegah pesan berhenti di pihak yang tidak dapat menindaklanjutinya.
Ketika menyampaikan informasi, siswa sebaiknya membedakan antara apa yang benar-benar dilihat atau diketahui dengan dugaan pribadi. Hal ini penting agar penerima informasi dapat memahami situasi secara lebih akurat.
Misalnya, jika siswa melihat sebuah kursi mengalami kerusakan, cukup sampaikan kondisi yang terlihat. Tidak perlu langsung menyimpulkan siapa yang menyebabkan kerusakan apabila siswa tidak mengetahuinya.
Kebiasaan menyampaikan fakta juga dapat membantu mengurangi kesalahpahaman. Penerima informasi dapat melakukan pemeriksaan lebih lanjut berdasarkan keterangan yang diberikan.
Ketika sebuah informasi dianggap penting, ada kemungkinan cerita tersebut cepat menyebar dari satu orang ke orang lain. Masalah dapat muncul ketika informasi yang awalnya sederhana mulai ditambahkan dengan dugaan atau cerita yang belum diketahui kebenarannya.
Siswa dapat belajar menyampaikan informasi sesuai apa yang diketahui. Jika ada bagian yang belum pasti, siswa dapat mengatakan bahwa bagian tersebut belum diketahui daripada mengisinya dengan asumsi.
Sikap seperti ini penting terutama ketika informasi berkaitan dengan orang lain. Menyampaikan sesuatu secara terburu-buru dapat menimbulkan kesalahpahaman yang sebenarnya dapat dihindari.
Ketika mengetahui sesuatu yang perlu segera disampaikan, siswa mungkin merasa panik. Padahal, menyampaikan informasi dengan cepat tetap perlu dilakukan secara teratur.
Siswa dapat mengambil beberapa detik untuk mengingat informasi utama: apa yang terjadi, di mana, kapan, dan siapa yang perlu mengetahuinya. Setelah itu, informasi dapat disampaikan kepada pihak yang sesuai.
Cara tersebut membuat komunikasi lebih jelas. Penerima tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menebak maksud siswa atau mencari informasi dasar yang belum disampaikan.
Tidak semua informasi yang diterima dari teman harus langsung dianggap sebagai fakta. Jika siswa mendengar sesuatu yang penting tetapi belum mengetahui kebenarannya, mereka dapat berhati-hati sebelum menyebarkannya.
Jika informasi tersebut berhubungan dengan situasi yang memang perlu diperiksa oleh pihak sekolah, siswa dapat menyampaikan bahwa informasi tersebut didengar dari seseorang, bukan mengatakannya sebagai fakta yang sudah dipastikan.
Perbedaan kecil dalam cara menyampaikan tersebut penting. Dengan begitu, guru atau pihak sekolah dapat memahami bahwa informasi tersebut masih membutuhkan pemeriksaan.
Sekolah biasanya memiliki berbagai saluran komunikasi. Ada komunikasi langsung, grup kelas, pengumuman, platform pembelajaran, atau saluran lain yang digunakan untuk kegiatan tertentu.
Siswa dapat belajar menggunakan saluran sesuai kebutuhan. Informasi yang perlu disampaikan kepada guru tertentu mungkin tidak perlu dikirim ke grup besar jika memang tidak berkaitan dengan anggota grup lainnya.
Sebaliknya, jika informasi tersebut menyangkut perubahan kegiatan yang perlu diketahui banyak peserta, siswa dapat mengikuti prosedur komunikasi yang telah ditentukan sekolah. Menggunakan saluran yang tepat membantu informasi sampai kepada orang yang membutuhkan.
Ada jenis informasi yang membutuhkan perhatian lebih cepat karena berkaitan dengan keselamatan. Misalnya, siswa mengetahui adanya kondisi lingkungan yang berpotensi membahayakan, menemukan fasilitas yang tidak dapat digunakan dengan aman, atau mengetahui perubahan prosedur dalam sebuah kegiatan.
Dalam situasi seperti ini, siswa tidak perlu mencoba memperbaiki masalah sendiri jika tidak memiliki kemampuan atau kewenangan untuk melakukannya. Langkah yang lebih tepat adalah menjauh dari risiko jika diperlukan dan segera memberitahukan guru atau pihak yang bertanggung jawab.
Kebiasaan tersebut mengajarkan bahwa keberanian tidak selalu berarti bertindak sendiri. Terkadang, tindakan yang paling bertanggung jawab adalah mengetahui kapan harus meminta bantuan.
Berbagai kegiatan di sekolah dapat menjadi tempat siswa berlatih menentukan prioritas informasi. Dalam kerja kelompok, misalnya, siswa mungkin perlu memberi tahu anggota lain ketika jadwal berubah atau perlengkapan tertentu belum tersedia.
Dalam kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler, kemampuan tersebut juga dapat digunakan ketika membagi informasi kepada anggota, guru pendamping, atau panitia. Siswa belajar bahwa informasi yang terlambat disampaikan dapat memengaruhi persiapan orang lain.
Di lingkungan sekolah seperti Al Ma’soem Bandung, pengalaman mengikuti kegiatan akademik maupun nonakademik dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan komunikasi tersebut secara langsung.
Mengetahui informasi penting tidak berarti siswa harus menjadi pusat penyebaran semua berita. Justru, siswa perlu belajar bahwa informasi memiliki konteks, penerima, dan waktu penyampaian yang berbeda.
Kebiasaan memeriksa fakta, menentukan tingkat kepentingan, memilih penerima yang tepat, serta menyampaikan informasi secara jelas dapat membantu siswa berkomunikasi dengan lebih bertanggung jawab.
Keterampilan tersebut juga berguna di luar sekolah. Dalam organisasi, perguruan tinggi, maupun dunia kerja, seseorang akan berhadapan dengan berbagai informasi yang harus disampaikan pada waktu dan kepada pihak yang tepat.
Jika siswa merasa ragu apakah suatu informasi perlu segera disampaikan, bertanya kepada guru atau orang dewasa yang bertanggung jawab dapat menjadi pilihan. Tidak semua situasi harus diputuskan sendiri.
Dengan bertanya, siswa dapat belajar memahami perbedaan antara informasi biasa, informasi penting, dan informasi yang membutuhkan tindakan segera. Seiring pengalaman bertambah, siswa akan semakin terbiasa membaca situasi tanpa harus langsung bereaksi secara terburu-buru.
Keterampilan ini pada akhirnya membantu siswa menjadi komunikator yang lebih teliti. Mereka belajar bahwa menyampaikan informasi bukan hanya tentang seberapa cepat sebuah pesan dikirim, tetapi juga tentang ketepatan isi, penerima, waktu, dan cara penyampaiannya.