أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَ لَا يَضُرُّكَ ۚ فَاِ نْ فَعَلْتَ فَاِ نَّكَ اِذًا مِّنَ الظّٰلِمِيْنَ
“Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah sebab jika engkau lakukan (yang demikian) maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” ((QS. Yunus 10: Ayat 106)
Jangan menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat
Dalam tafsir lengkap Kementrian Agama RI; Allah menjelaskan larangan-Nya kepada Nabi saw agar jangan berdoa dan beribadah kepada selain Allah, Sebab selain Allah, tidak ada yang dapat memberi manfaat dan mudarat, atau memberi kesenangan dan kesusahan baik di dunia maupun di akhirat. Sekiranya Rasul berbuat demikian, maka dia termasuk dalam orang-orang yang menganiaya diri sendiri. Tiada kedurhakaan yang lebih besar dari syirik karena orang yang berbuat syirik mengembalikan urusan yang dihadapi manusia kepada selain Allah. Maka kembalilah kepada Allah. Panjatkanlah doa kepada Allah semata karena doa termasuk ibadah yang besar, bahkan otak ibadah. Inti dari ayat ini adalah larangan menyembah selain Allah, karena:
- Selain Allah tidak bisa memberi manfaat
- Tidak bisa memberi mudarat
- Menyembah selain-Nya termasuk perbuatan zalim (menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya)
Tadabbur (Renungan) dari Yunus 106:
1. Tauhid yang Murni; Ayat ini menegaskan pentingnya tauhid uluhiyah – yaitu hanya Allah yang pantas disembah, karena hanya Dia yang berkuasa memberi manfaat dan mudarat. Selain-Nya, meski diagungkan manusia, hakikatnya lemah dan tak berdaya.
2. Kritik terhadap Syirik; Allah menyebut menyembah selain-Nya sebagai kezaliman, karena:
- Itu bentuk ketidakadilan spiritual
- Menyembah sesuatu yang tidak layak disembah
- Menyerahkan hati dan doa pada sesuatu yang tak bisa berbuat apa-apa
3. Hikmah untuk Kehidupan Modern; Di masa kini, bentuk penyembahan bisa halus: seperti berlebihan bergantung pada manusia, jabatan, kekayaan, atau benda-benda tertentu dengan keyakinan mereka bisa “menentukan nasib”. Ayat ini mengingatkan kita untuk:
- Menghindari kebergantungan batin kepada selain Allah
- Jangan sampai menggantungkan harapan penuh kepada sesuatu yang tak bisa menentukan manfaat dan bahaya
4. Kemandirian Spiritual; Ayat ini juga menanamkan kemerdekaan akidah, bahwa manusia tidak perlu tunduk atau takut kepada kekuatan selain Allah, karena hanya Allah yang benar-benar berkuasa. Ini menguatkan mental dan martabat seorang mukmin.
“Jangan biarkan hatimu sujud kepada sesuatu yang tidak bisa menolongmu, karena hanya Allah-lah tempat menggantungkan harapan dan takutmu. Menyembah selain-Nya adalah bentuk kezaliman terhadap dirimu sendiri.”
Jangan menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dapat diperluas maknanya dalam kehidupan sehari-hari sebagai peringatan agar kita tidak bergantung secara batin, emosional, atau spiritual kepada sesuatu yang hakikatnya tidak bisa menolong kita.
1. Mengandalkan Jimat atau Benda Bertuah,
Contoh: Memakai cincin akik, jimat, atau benda pusaka tertentu karena diyakini bisa membawa keberuntungan, keselamatan, atau menolak bala. Benda mati tidak punya kuasa memberi manfaat atau mudarat. Ketika seseorang percaya itu bisa melindunginya, maka dia secara halus telah “menyembah” benda itu.
2. Menyembah Kuburan atau Orang Shalih yang Sudah Meninggal
Contoh: Berdoa di kuburan tertentu sambil meminta hajat kepada orang yang telah meninggal. Meskipun orang itu shalih, dia tidak bisa memberi manfaat atau mudarat setelah mati. Hanya Allah yang bisa mengabulkan doa.
3. Bergantung Penuh pada Jabatan atau Uang
Contoh: Merasa hidupnya aman hanya kalau punya gaji tetap, jabatan tinggi, atau simpanan besar – dan menjadi panik, stres, bahkan hilang arah jika kehilangan itu semua. Jabatan dan uang hanyalah sarana, bukan sumber keselamatan. Bergantung hati secara total kepada itu adalah bentuk ketergantungan batin yang bisa melupakan Allah.
4. Terlalu Bergantung pada Manusia
Contoh: Menganggap hanya satu orang tertentu (atasan, pasangan, tokoh) yang bisa menyelamatkan hidupnya, dan jika kehilangan orang itu, merasa hidup tidak berguna lagi. Manusia bisa pergi, berubah, atau mati. Bergantung total pada manusia membuat kita lemah dan mudah kecewa. Hanya Allah tempat bergantung yang tidak pernah berubah.
5. Mencari Solusi Kehidupan dari Hal Mistis atau Perdukunan
Contoh: Pergi ke dukun untuk mencari jodoh, menang dalam persaingan kerja, atau menyembuhkan penyakit. Perdukunan adalah bentuk nyata menyandarkan harapan pada sesuatu yang bukan Allah – sesuatu yang tidak memberi manfaat, bahkan bisa membawa mudarat besar secara ruhani dan sosial.
“Segala sesuatu selain Allah tidak punya kuasa memberi manfaat atau mudarat. Bergantung kepada selain-Nya adalah bentuk kesalahan arah hidup dan sumber kekecewaan besar.”
Doa supaya semangat tauhid dan permohonan agar tidak menyekutukan Allah dengan apa pun:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ فِي قَلْبِي تَعَلُّقًا إِلَّا بِكَ، وَلَا تَوَكُّلًا إِلَّا عَلَيْكَ، وَلَا دُعَاءً إِلَّا لَكَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُوَحِّدِينَ الْمُخْلِصِينَ
“Ya Allah, jangan Engkau jadikan di hatiku ketergantungan kecuali hanya kepada-Mu, dan tidak ada tawakal kecuali hanya kepada-Mu, serta tidak ada doa kecuali hanya tertuju kepada-Mu. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertauhid dan ikhlas.”