Sebagai perangkat sekolah tugas seorang guru adalah untuk ikut dalam memikirkan solusi untuk menghentikan bullying di Sekolah sebelum terjadi atau meningkat. Dan tugas orang tua dalah turut dalam memperhatikan dan membekali putra putri mereka pengetahuan untuk menghindari bullying di sekolah sejak usia dini.
Coba kembangkan dan persiapkan seperangkat ide yang bisa digunakan siswa dalam situasi sulit dan ketika mereka dalam keadaan tertekan dan menemukan kesulitan untuk berpikir jernih.
- Membuat Daftar Tanggapan untuk Siswa
Latih anak dengan beberapa kaliamat yang bisa membantu mereka untuk memberi tahu seseorang agar menghentikan perilaku bullying. Kalimat atau frasa yang bisa diingat anak haruslah sederhana dan bersifat langsung, tapi diusahakan tidak mengantagonis; “Tinggalkan aku sendiri.” “Mundur.” “Itu tidak bagus.”
Atau bisa mencoba, “Ya, terserah,” dan kemudian pergi. “Kuncinya adalah bahwa saat bicara balik terhadap pembully tidak boleh merendahkan, karena itu memperburuk bullying,” kata Michele Borba, Ed.D., penulis The Big Book of Parenting Solutions.
- Bermain Peran dengan Sekenario “What if”
Bermain peran adalah salah satu cara yang bagus untuk membantu membangun kepercayaan diri dan memberdayakan siswa untuk menghadapi tantangan. Guru atau orang tua bisa memainkan peran sebagai si pembully, sementara siswa atau anak anda bisa mempraktikkan respons yang berbeda-beda sampai dia merasa percaya diri untuk menangani situasi yang sulit.
Saat bermain peran ajari siswa/anak untuk berbicara dengan suara yang kuat dan tegas, karena jika merengek atau menangis hanya akan mendorong si bully untuk melakukan bullying lebih lanjut.
- Biasakan Anak/Siswa dengan Bahasa Tubuh yang Positif
Pada usia 3 tahun, anak anda sudah siap mempelajari trik yang akan menghindarkannya menjadi target bullying. Biasakan anak untuk selalu menatap mata teman-temannya saat mengobrol, dan lakukan hal yang sama saat ada yang mencoba menggangunya. Hal tersebut akan memaksa anak anda untuk mengangkat kepalanya saat menghadapi bully, sehingga anak akan terliahat lebih percaya diri.
Ajari juga mereka untuk membuat wajah sedih, berani dan bahagia. Kemudian sampaikan kepada anak untuk “menggunakan” wajah berani saat menghadapi seorang bully. Sebetulnya yang lebih efektif saat anak menghadapi bully adalah penampilan dan body language mereka ketimbang apa yang dikatakan.
- Jaga Komunikasi dengan Anak/Siswa
Coba selalu tanyakan kepada mereka setiap hari tentang bagaimana keadaan di sekolah. Gunakan nada yang tenang, bersahabat, dan ciptakan suasana yang menyenangkan agar dia tidak takut memberi tahu anda jika ada yang salah. Tekankan bahwa keselamatan dan kesejahteraannya penting, dan dia harus selalu berbicara dengan orang dewasa tentang masalah apa pun.
- Bangun Rasa Percaya Diri
Semakin baik perasaan anak tentang dirinya sendiri, semakin kecil kemungkinan bullying akan memengaruhi harga dirinya. Doronglah mereka untuk mengembangkan hobi, kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan apapun yang bisa menghasilkan hal terbaik bagi anak. Beri tahu mereka kualitas unik yang disukai darinya dan perkuat perilaku positif yang kita ingin lihat lebih banyak.
“Sebagai orang tua, kami memiliki kecenderungan untuk fokus pada situasi negatif, tetapi anak-anak benar-benar mendengarkan dengan lebih baik ketika perilaku baik mereka diperkuat,” kata Dr. Pastyrnak. Menghormati kekuatan anak-anak dan mendorong hubungan yang sehat dengan orang lain dapat memengaruhi harga diri, meningkatkan kepercayaan diri jangka panjang anak-anak, dan mencegah potensi situasi bullying.
- Dukung/Puji Progress Kemajuan Mereka
Saat anak memberi tahu bagaimana dia meredakan ejekan, beri tahu dia bahwa kita bangga kan Tindakan yang mereka lakukan. Biasakan untuk selalu mendukung mereka baik dalam keadaaan yang baik ataupun keadaan yang buruk.

