Pilih Jenjang Pendidikan
Silahkan pilih jenjang pendidikan untuk memulai pendaftaran

Saat guru menjelaskan materi di kelas, siswa menerima banyak informasi dalam waktu yang relatif singkat. Tidak semua informasi tersebut memiliki tingkat kepentingan yang sama. Ada penjelasan yang menjadi inti materi, ada contoh yang membantu memahami konsep, ada istilah yang perlu diingat, dan ada pula informasi tambahan yang hanya berfungsi memperjelas pembahasan. Karena itu, siswa perlu belajar menentukan bagian mana yang sebaiknya dicatat agar catatan mereka tetap berguna ketika digunakan kembali.
Kemampuan mencatat sebenarnya bukan sekadar kegiatan menulis apa yang terdengar. Jika siswa berusaha menyalin seluruh perkataan guru, perhatian mereka justru dapat terbagi antara mendengarkan dan mengejar tulisan. Akibatnya, mereka mungkin memiliki banyak catatan tetapi tidak benar-benar memahami isi pelajaran. Sebaliknya, jika siswa mampu memilih informasi utama, mereka dapat membuat catatan yang lebih ringkas sekaligus tetap mewakili inti materi.
Kebiasaan tersebut dapat dilatih dalam berbagai kegiatan pembelajaran di sekolah. Siswa Al Maβsoem Bandung, misalnya, dapat menemukan situasi serupa ketika mengikuti pembelajaran di kelas, diskusi, presentasi guru, maupun kegiatan akademik lainnya. Dalam lingkungan pendidikan yang memiliki beragam aktivitas, kemampuan menyaring informasi menjadi bekal yang membantu siswa mengatur proses belajarnya secara lebih mandiri.
Salah satu kesalahan yang cukup umum ketika mencatat adalah menganggap bahwa semakin banyak tulisan berarti semakin baik. Padahal, catatan yang terlalu panjang belum tentu lebih membantu. Jika hampir semua penjelasan ditulis tanpa memilih bagian penting, siswa akan lebih sulit menemukan informasi utama ketika belajar kembali.
Siswa dapat mulai memperhatikan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa sebuah informasi penting. Guru mungkin mengulang suatu istilah, memberikan penekanan tertentu, menuliskan poin di papan, atau menjelaskan bahwa suatu konsep berkaitan dengan materi berikutnya. Hal-hal seperti ini dapat menjadi petunjuk bahwa informasi tersebut layak dicatat.
Namun, siswa juga tidak harus bergantung sepenuhnya pada kata-kata seperti βini pentingβ dari guru. Seiring bertambahnya pengalaman, mereka dapat belajar mengenali gagasan utama berdasarkan konteks materi. Kemampuan tersebut membuat kegiatan mencatat sekaligus menjadi latihan memahami pelajaran.
Dalam sebuah penjelasan, biasanya terdapat gagasan utama yang menjadi dasar pembahasan. Misalnya, ketika guru menjelaskan sebuah konsep, ada definisi, karakteristik, contoh, dan penerapannya. Siswa dapat mencoba mengetahui mana informasi yang menjawab pertanyaan βapaβ, βmengapaβ, dan βbagaimanaβ.
Jika siswa hanya menulis contoh tanpa memahami konsep utamanya, catatan tersebut mungkin tidak cukup membantu ketika digunakan untuk belajar. Sebaliknya, jika siswa mencatat inti konsep lalu menambahkan satu atau dua contoh, catatan dapat menjadi lebih mudah dipahami.
Cara sederhana untuk melatihnya adalah dengan mencoba menjelaskan kembali materi menggunakan beberapa kalimat setelah guru selesai menerangkan. Jika siswa dapat menjelaskan inti materi tanpa melihat buku, berarti ia mulai memahami bagian yang paling penting. Jika masih bingung, catatan dapat diperbaiki dengan menambahkan informasi yang belum jelas.
Catatan yang ditulis menggunakan bahasa sendiri sering kali lebih mudah dipahami ketika dibaca kembali. Siswa tidak harus menyalin seluruh kalimat dari buku atau ucapan guru. Mereka dapat menggunakan kata kunci, singkatan yang dipahami sendiri, atau kalimat yang lebih sederhana.
Misalnya, daripada menulis penjelasan panjang mengenai suatu konsep, siswa dapat menuliskan istilah utama kemudian membuat beberapa poin mengenai ciri dan contohnya. Cara tersebut membuat catatan lebih ringkas tanpa menghilangkan inti informasi.
Meski demikian, siswa perlu berhati-hati agar tidak membuat catatan terlalu singkat sampai kehilangan konteks. Kata kunci sebaiknya tetap memiliki hubungan yang jelas dengan materi. Jika sebuah istilah memiliki definisi khusus, definisi tersebut sebaiknya tetap dicatat dengan cukup lengkap agar tidak menimbulkan pemahaman yang keliru.
Catatan yang memiliki struktur jelas akan lebih mudah digunakan kembali. Siswa dapat membedakan judul, subjudul, gagasan utama, contoh, dan informasi tambahan menggunakan susunan yang sederhana. Tidak harus menggunakan banyak warna atau hiasan karena tujuan utama catatan adalah membantu proses memahami dan mengingat materi.
Beberapa pola sederhana yang dapat digunakan antara lain:
Struktur seperti ini membantu siswa melihat hubungan antarbagian. Ketika mendekati waktu ujian atau mendapatkan tugas, mereka tidak perlu membaca ulang seluruh buku untuk menemukan pokok pembahasan.
Dalam beberapa pelajaran, guru dapat menyampaikan fakta, contoh, interpretasi, maupun pendapat sebagai bagian dari penjelasan. Siswa perlu belajar membedakannya agar tidak semua informasi dianggap memiliki fungsi yang sama.
Fakta tertentu mungkin perlu dicatat secara lengkap karena menjadi dasar materi. Contoh dapat ditulis secara lebih singkat selama siswa memahami hubungannya dengan konsep. Sementara itu, pendapat atau ilustrasi dapat dicatat jika memang membantu memahami pembahasan.
Kemampuan membedakan jenis informasi juga berguna ketika siswa mengerjakan tugas. Mereka menjadi lebih berhati-hati ketika menggunakan catatan sebagai sumber. Siswa dapat mengetahui mana informasi yang merupakan materi utama dan mana yang merupakan contoh yang diberikan untuk membantu pemahaman.
Ada situasi ketika guru menjelaskan materi cukup cepat sehingga siswa kesulitan mencatat sekaligus memahami. Dalam kondisi seperti ini, siswa tidak perlu memaksakan diri menulis setiap kalimat. Mereka dapat mencatat kata kunci terlebih dahulu dan melengkapinya setelah penjelasan selesai.
Jika ada bagian yang benar-benar belum dipahami, siswa dapat memberi tanda khusus pada catatan. Setelah itu, mereka dapat membuka buku, mencari sumber lain yang relevan, atau bertanya kepada guru. Dengan cara tersebut, catatan menjadi semacam peta yang menunjukkan bagian mana yang sudah dipahami dan bagian mana yang masih membutuhkan perhatian.
Kebiasaan ini juga membantu siswa menghindari kepanikan ketika tertinggal beberapa kalimat. Satu bagian yang terlewat tidak berarti seluruh materi hilang. Selama siswa masih mengetahui topik yang sedang dibahas, mereka dapat melengkapi informasi tersebut setelah kegiatan belajar selesai.
Setiap siswa dapat memiliki cara mencatat yang berbeda. Ada yang lebih mudah memahami informasi melalui poin-poin, ada yang menyukai tabel, dan ada pula yang lebih terbantu dengan diagram sederhana. Yang penting adalah format tersebut dapat digunakan kembali dan dipahami oleh siswa yang membuatnya.
Untuk materi yang memiliki banyak perbandingan, tabel mungkin lebih efektif. Untuk materi yang membahas urutan proses, siswa dapat menggunakan nomor atau panah. Sementara itu, materi yang memiliki hubungan antara beberapa konsep dapat disusun dalam bentuk peta sederhana.
Dengan mencoba berbagai format, siswa dapat mengetahui bentuk catatan yang paling sesuai dengan kebutuhannya. Proses ini juga membuat mereka lebih sadar bahwa strategi belajar tidak harus sama dengan teman.
Catatan sebaiknya tidak hanya dibuat kemudian disimpan. Setelah pembelajaran selesai, siswa dapat menggunakannya untuk memeriksa apakah materi sudah dipahami. Salah satu cara yang sederhana adalah menutup buku dan mencoba menjelaskan kembali isi catatan menggunakan bahasa sendiri.
Jika terdapat bagian yang tidak dapat dijelaskan, siswa dapat melihat kembali materi tersebut. Dengan demikian, catatan berfungsi sebagai alat untuk mengevaluasi pemahaman, bukan sekadar arsip tulisan.
Siswa juga dapat membuat beberapa pertanyaan berdasarkan catatan. Misalnya, jika materi membahas penyebab suatu peristiwa, mereka dapat menuliskan pertanyaan tentang faktor penyebab dan dampaknya. Ketika mampu menjawab pertanyaan tersebut tanpa melihat catatan, pemahaman terhadap materi kemungkinan sudah lebih baik.
Guru dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan mencatat dengan memberikan struktur pembelajaran yang jelas. Penjelasan mengenai tujuan materi, istilah utama, atau hubungan antara satu konsep dengan konsep lainnya dapat menjadi petunjuk bagi siswa ketika menentukan informasi yang perlu dicatat.
Guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk membandingkan catatan setelah pembelajaran. Bukan untuk menentukan siapa yang memiliki catatan paling lengkap, tetapi untuk melihat apakah ada gagasan utama yang terlewat. Dari kegiatan tersebut, siswa dapat mengetahui bahwa catatan setiap orang mungkin berbeda karena cara memahami materi juga berbeda.
Di lingkungan sekolah dan pesantren, keterampilan ini dapat terus dilatih dalam berbagai situasi. Siswa tidak hanya belajar mencatat ketika mengikuti pelajaran formal, tetapi juga ketika menerima arahan kegiatan, mengikuti pembinaan, atau mendengarkan informasi penting dari guru dan pembina.
Kemampuan menentukan informasi penting merupakan keterampilan yang berkembang secara bertahap. Pada awalnya, siswa mungkin masih mencatat terlalu banyak atau justru terlalu sedikit. Dengan latihan, mereka dapat mulai mengenali pola penjelasan dan memahami informasi mana yang memiliki hubungan langsung dengan tujuan pembelajaran.
Keterampilan ini juga membuat siswa tidak terlalu bergantung pada catatan orang lain. Mereka belajar membangun sumber belajar sendiri berdasarkan apa yang dipahami selama proses pembelajaran. Ketika menemukan bagian yang belum jelas, mereka juga dapat mengetahui dengan lebih cepat apa yang perlu dicari atau ditanyakan.
Pada akhirnya, mencatat bukan sekadar aktivitas menulis selama guru berbicara. Di dalamnya terdapat proses mendengarkan, memahami, memilih, menyusun, dan mengingat informasi. Ketika siswa terbiasa menentukan informasi yang benar-benar penting, mereka sedang membangun kemampuan belajar yang akan berguna dalam berbagai mata pelajaran, kegiatan akademik, maupun jenjang pendidikan berikutnya.