pelajaran daring di al masoem

Ada Apa dengan PROKASTINASI?

Seringkah kita merasa sepertinya dua jam lagi tugas dikerjakan, setelah waktu dua jam berlalu maka berganti keinginan besok saja dikerjakannya hingga terus di tunda hingga akhir batas waktu?. Jika sering waspadai jika kita mengalami prokastinasi. Menurut Steel, (2006) prokrastinasi berasal dari bahasa latin yaitu “pro” yang berarti “maju”, ke depan, lebih menyukai dan “crastinus” yang berarti “besok”.  Dari pengertian atau asal katanya prokrastinasi adalah lebih suka melakukan tugasnya besok. Prokrastinasi adalah menunda dengan sengaja kegiatan yang diinginkan walaupun mengetahui bahwa penundaannya dapat menghasilkan dampak buruk. 

Orang yang melakukan prokrastinasi disebut sebagai prokrastinator. Prokrastinator seringkali “menipu’ diri sendiri dengan mempercayai bahwa mereka dapat mengerjakan lebih baik dibawah tekanan waktu yang singkat sehingga mereka memilih untuk mengerjakannya kemudian di akhir tenggat waktu. Menurut Joseph Ferrari, Ph.D, profesor psikologi dari De Paul Univeristy, Chicago mengatakan bahwa terdapat lima pikiran irrasional dilakukan oleh prokastinator diantaranya, yaitu:

  1. Masih banyak waktu untuk mengerjakan tugas;
  2. Hanya sedikit waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas tersebut;
  3. Lebih semangat jika mengerjakan esok hari, minggu depan, bulan depan, atau waktu tertentu;
  4. Pengerjaan tugas akan semakin sempurna apabila dikerjakan saat benar-benar ingin mengerjakannya;
  5. Tugas dikerjakan tidak akan optimal ketika tidak berada dalam mood yang baik.

Perilaku prokastinasi bisanya lebih besar terlihat dalam bidang Akademik, misalnya saja terjadi terlihat secara langsung pada diri peserta didik atau kalangan mahasiswa. Adapun menurut Ferrari  (1995), sebagai suatu perilaku penundaan, prokrastinasi akademik dapat termanifestasikan dalam indikator tertentu dan diamati, yaitu :

  1. Menunda untuk memulai menyelesaikan tugas yang dihadapi;
  2. Terlambatan dalam menyelesaikan tugas, karena melakukan hal-hal lain yang tidak penting;
  3. Adanya kesenjangan waktu antara rencana yang ditetapkan dan kinerja actual;
  4. Beraktivitas yang lebih menyenangkan daripada tugas yang harus dikerjakan (seperti ngobrol, nonton, mendengarkan musik, jalan-jalan, dll)

Menjadi seorang procrastinator ternyata merugikan, tetapi kebanyakan sudah mengetahui akan kerugiannya tetapi masih melakukan. Lalu apa yang harus dilakukan. Yang perlu dilakukan adalah mengubah perilaku dengan memulai saat ini juga, walupun perilaku berubah memerlukan habbits dan waktu. Selain itu kita harus membuat semua daftar aktivitas yang harus dilakukan tiap harinya. Agar sesuai rencana dan tidak tertunda. Berikutnya menambahkan tujuan yang realistis dari setiap kegiatan. 

Masing-masing kegiatanpun perlu diperinci menjadi tugas-tugas yang lebih spesifik. Membuat estimasi waktu yang dibutuhkan dalam pengerjaan tugas dan menaikkannya menjadi dua kali lipat. Setelah selesai kita perlu menghargai diri kita sendiri atau reward ketika berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu. Cara memberi reward  pada diri dapat membantu memotivasi  untuk menyelesaikan tugas tepat waktu dan terhidarnya penundaan tugas. Perlikau ini diperlukan kemauan yang kuat dan keberanian untuk memutuskan mana hal-hal yang menjadi prioritas utama serta mana aktivitas atau kegiatan yang bukan prioritas. Pembisaan hal ini penting agar  bisa dengan mudah terdistraksi sesuatu yang kemudian membuat dirinya lupa akan tujuan utama.